Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Panitia penyelenggara El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV Flores Timur 2026 resmi meluncurkan maskot turnamen bertajuk Si Boli pada Minggu (5/7/2026).
Peluncuran berlangsung di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, dan dilakukan langsung oleh Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen.
Maskot berbentuk gajah tersebut dipilih bukan karena keberadaan satwa gajah di Flores Timur, melainkan sebagai simbol nilai-nilai budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, khususnya etnis Lamaholot.
Bagi masyarakat Lamaholot, gading gajah bukan sekadar bagian dari seekor hewan atau benda bernilai ekonomi. Gading merupakan artefak budaya yang sakral dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Flores Timur.
Baca juga: Bupati Doni Dihen Minta Persiapan ETMC 2026 di Flores Timur Dilakukan Secara Matang
Dalam tradisi adat Lamaholot, gading menjadi salah satu unsur utama dalam belis atau mahar perkawinan adat yang melambangkan kehormatan, martabat, dan tanggung jawab antarkeluarga.
Kehadirannya dalam prosesi adat menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan, pengikat hubungan kekeluargaan, sekaligus bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur.
Melalui filosofi tersebut, Si Boli dihadirkan sebagai representasi nilai-nilai luhur, persatuan, penghormatan terhadap adat, serta identitas budaya Flores Timur.
Panitia berharap semangat sportivitas yang diusung ETMC XXXV 2026 dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Flores Timur.
Selain menampilkan sosok gajah sebagai ikon utama, Si Boli juga diperkaya dengan berbagai ornamen budaya yang merepresentasikan keberagaman wilayah dan identitas Flores Timur.
Ikat Kepala Khas Pulau Solor
Si Boli mengenakan ikat kepala adat khas Pulau Solor. Atribut ini biasa digunakan dalam Tarian Hedung maupun dalam prosesi penyambutan tamu.
Ikat kepala tersebut melambangkan penghormatan, keberanian, serta komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya.
Selendang Tenun Khas Waibalun
Pada bagian bahu, Si Boli mengenakan selendang berbahan kain tenun bermotif khas Waibalun dari daratan Larantuka.
Motif tenun ini mencerminkan kekayaan budaya, keterampilan para penenun, serta identitas khas masyarakat Flores Timur.
Sarung Motif Khas Adonara
Si Boli juga mengenakan sarung bermotif khas Adonara yang merupakan busana adat pria dalam berbagai upacara tradisional.
Sarung tersebut menjadi simbol kehormatan, jati diri, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Gading
Gading yang dibawa Si Boli menjadi simbol nilai luhur, kebesaran, kekuatan, serta warisan budaya yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Flores Timur.
Menara Gereja
Pada desain maskot juga terdapat unsur menara gereja yang menjadi ikon Kabupaten Flores Timur, khususnya Kota Larantuka.
Simbol ini merepresentasikan Larantuka yang dikenal sebagai "Vatikan Indonesia" berkat tradisi iman Semana Santa yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas religius masyarakat.
Bola
Sebagai maskot turnamen sepak bola, Si Boli membawa bola yang melambangkan semangat persatuan, sportivitas, kerja sama, serta tekad untuk meraih prestasi melalui kebersamaan.
Tiga Gelombang Air Laut
Pada bagian bawah maskot terdapat tiga gelombang laut yang menggambarkan karakter Flores Timur sebagai daerah kepulauan yang terdiri atas Flores, Adonara, dan Solor.
Simbol ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang sangat erat dengan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus penghubung antarpulau.
Dengan hadirnya Si Boli sebagai maskot resmi ETMC XXXV Flores Timur 2026, panitia tidak hanya memperkenalkan identitas visual turnamen, tetapi juga menghadirkan simbol yang memadukan semangat olahraga dengan kekayaan budaya daerah.
Si Boli diharapkan menjadi ikon yang mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat Flores Timur sekaligus menyemarakkan pesta sepak bola terbesar di Nusa Tenggara Timur tersebut. (Bet)