Paggolo Lemo Piala Dunia 2026: Ketika Firaun Menganulir Mukjizat Nabi Musa 
AS Kambie July 08, 2026 12:08 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Di hadapan Firaun, Musa berdiri tegak. Dia lalu melemparkan tongkatnya. Seketika tongkat berubah menjadi ular. Firaun panik. 

Setelah mendapat bisikan dari Haman, Firaun berusaha menganulir mukjizat Musa. 

Satu per satu mukjizat yang diperlihatkan Nabi Musa berusaha dianulir oleh Firaun. Tentu saja lewat bisikan menteri utamanya, Haman.

Firaun mengumpulkan semua pendekar sihir se-Mesir. Rencananya untuk aduk kesaktian dengan Musa, dalam rangka menganulir mukjizat sang nabi.

Satu per satu ular ciptaan tukang sihir Firaun ditelan oleh tongkat nabi Musa yang menjelma menjadi ular.

Tapi Firaun dan para pembantu serta pasukannya teramat kuat bagi Nabi Musa dan Nabi Harun serta 500-an lebih Bani Israil di Mesir.

Dalam kondisi terdesak, pukulan tongkat Nabi Musa membelah laut merah. 500-an lebih Nabi Israil melewatinya. Firaun berusaha menganulir kebebasan Bani Israil melalui mukjizat Nabi Musa itu. Ramses II dan pasukannya terus mengejar ke tengah laut. 

Tetiba terowongan dalam laut yang dibuat Nabi Musa bergetar. Dinding kiri-kanan dan atas ambruk. Seketika Ramsel II dan segenap pasukannya tenggelam di tengah samudera.

Jasad Ramses II dan beberapa Firaun Mesir dianulir sejarah hingga ribuan tahun. Hingga pada tahun tahun 1881 jasad itu ditemukan di sebuah tempat persembunyian kerajaan di Deir el-Bahri, Mesir selatan. Mumi raja Mesir kuno yang berkuasa lebih dari 3.200 tahun lalu itu ditemukan dalam kondisi sangat utuh dan kini dipajang di Museum Mesir Kairo.

Tapi publik selalu penasan, siapa gerangan Firaun di antara para jasad Firaun yang telah begitu sombong ingin menganulir mukjizat nabi itu.

Dunia tidak boleh dibiarkan kehilangan jejak dari kisah heroik itu. Maka, pada tahun 1970-an, satu di antara jasad Firaun itu “sakit”. Otoritas Mesir lalu membawa jasad itu ke Perancis untuk “diobati”.

Di sinilah, momennya, dunia kembali menemukan jasad penganulis mukjizat itu. Jasad yang sakit itu diteliti oleh ahli bedah Prancis, Dr Maurice Bucaille. 

Untuk mendukung pembedahannya, Bucaille membaca literatur dari Kitab Suci, termasuk dari Alquran yang mengisahkan proses kematian salah seorang Firaun.

Betapa kagetnya Bucaille ketika dia menemukan sisa-sisa garam pada mumi “yang sakit” itu. Dia yakin, jasad Raja Mesir “yang sakit ini” meninggal akibat tenggelam di laut.

Rentetan Nabi Musa vs Firaun itu memang tidak ada hubungan secara fisik dengan sepakbola. Apalagi Piala Dunia 2026. 

Beberapa orang di Makassar, melalui WAG, mengingatkan kejadian itu setelah menyaksikan laga Mesir vs Argentina di Babak 16 Besar FIFA World Cup 2026.  

Asal Muasal Paggolo Lemo

Pernah suatu masa di Makassar pasca-Reformasi, jagad sepakbola digemparkan oleh kehadiran sebuah tabloid. Namanya Tabloid Golo. Terbit perdana tahun 1999.

Ingatan penonton pertandingan Mesir vs Argentina di Makassar, Rabu pagi, 8 Juli 2026, dioper menerawang ke Tabloid Golo. 

Husain Abdullah, pendiri sekaligus pemimpin redaksi pertama Tabloid Golo, menjelaskan sejarah berdirinya bacaan pencinta sepakbola monumental ini.

“Waktu itu kita berpikir bagaimana bisa melawan dua tabloid olahraga besar Bola dan GO. 

Sehingga kita cari nama lokal yang cepat diterima suporter PSM khususnya. 

Karena kita mau terbitkan tabloid olahraga yang khusus membahas PSM dan lawan-lawannya, maka kami namai Golo. Golo dalam bahasa Bugis adalah Bola,” jelas Husain Abdullah, Rabu siang, 8 Juli 2026, menceritakan kejadian 21 tahun silam.

“Jadi namanya terjemahan dari tabloid Bola dan font hurufnya kami buat mirip  tabloid GO,” ujar Husain Abdullah menambahkan.

Yang unik, karena Tabloid Golo diterbitkan perusahaan yang diberi nama PT Paggolo Lemo.

“Mengapa Paggolo Lemo? Karena dikelola oleh bukan profesional wartawan bola, hanya sekumpulan jurnalis yang hoby bola,” kata Dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin itu 

Menurut Husain Abdullah, Tabloid Bola awalnya dikelola hanya satu-dua orang yang mengerti bola.

Edisi perdana, Tabloid Golo terbit dengan cover story : TEPOKI BAHAR. Bahasa Bugis, artinya: Patahkan Lawanmu Bahar.

“Tabloid ini memang buat memotivasi pemain dan suporter sekaligus meneror lawan PSM yang tandang ke Stadion Mattoanging Makassar. Terbit saat tim tamu datang dan dibagikan di hotel selain dijual kepada suporter untuk mencari biaya cetak,” jelas Husain Abdullah.

Bahar kini menjadi pelatih teknis PSM junior. Dia legenda pemain belakang PSM Makassar dan ayah dari pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam Bahar.

Netizen Makassar Terbitkan Lagi Pagolo Lemo 

Pagolo lemo “diterbitkan” lagi netizen Makassar pasca laga Mesir vs Argentina dan Swiss vs Kolombia.

Pagolo Lemo disematkan pada Mesir vs Argentina karena kekalahan dramatis Muhammad Salah dkk setelah mencetak 2 gol. Tidak termasuk gol yang dianulir. Gol yang dianulir, padahal dianggap clear, itulah memicu julukan pagolo lemo pada pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 ini.

Pagolo lemo disematkan pada Swiss vs Kolombia karena performa kedua tim yang dinilai melempem. Tampil jauh di bawah penampilan di 32 besar.

Satu gol Mesir di-naskh. Gol ini hasil pergulatan dari pertahanan melaju ke depan oleh tiga orang lalu menciptakan kerjasama yang sempurna melahirkan gol.

Gol Mostafa Ziko di menit ke-58 babak kedua dianulir wasit. Gol itu dimulai serangan dari bawah oleh Hossam Hassan, menggiring bola dari dekat area pertahanannya sendiri sebelum memberikan umpan kepada Mohamed Salah. Sang kapten kemudian melepaskan umpan terobosan matang kepada Mostafa Ziko. Pemain berusia 29 tahun itu berhasil lebih dulu menyambut bola dibanding Emiliano Martinez sebelum melepaskan tembakan keras ke gawang.

Namun, setelah selebrasi meriah para pemain Mesir, wasit dipanggil ke monitor pinggir lapangan oleh wasit VAR untuk meninjau kemungkinan adanya pelanggaran dalam proses terciptanya gol. Dan, wasit pun menganulir gol kedua itu. 

Meski golnya dianulir, Ziko tak ambruk mental. Sepuluh menit kemudian, Ziko mencetak gol lagi. Kali ini, VAR tak “berdaya” lagi menganulir. Mesir unggul 2-0.

Kemenangan Argentina mulai terlihat saat wasit memberi hadiah kepada Lionel Messi cs dari kemelut perebutan bola di sektor pertahanan Mesir. “Padahal bukan pelanggaran pemain Mesir,” teriak seorang netizen Makassar.

Celakanya. Argentina mengubah struktur dan pola permainan. Mesir memilih malah bertahan. Akibatnya, dalam tempo 14 menit, Argentina mencetak 3 gol, satu dari Lionel Messi.

Pagolo Lemo pun diteriakkan di Makassar. Pagolo lemoh adalah “umpatan” yang kerap dilontarkan penonton pertandingan sepakbola yang tidak sesuai spektasinya. Pagolo artinya, “pesepakbola atau pentandingan sepakbola”. Lemo artinya “jeruk besar, seperti jeruk Pangkep yang lebih besar dari kepala orang dewasa”. Seakan ungkapan itu menegaskan bahwa yang dipakai bermain di lapangan itu bukan kulit bundar, tapi hanya jeruk sehingga tidak bagus dilihat.

Bola amaupun lemo hanyalah wadah penampakan. Yang bergulir di lapangan dalam pertandingan sepakbola sesungguhnya adalah makna. 

Yuval Noah Harari telah mengingatkan, Sapiens tidak hanya bertarung atas kejadian. Mereka bertarung atas tafsir kejadian. Firaun mencoba menganulir mukjizat dengan narasi sihir. Dalam sepakbola modern, publik sering mencoba menganulir kemenangan atau kekalahan dengan narasi: keberuntungan, wasit, sistem, atau konspirasi. Bahkan lewat VAR.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.