TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pasca serangan udara fatal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinilai membawa konsekuensi serius terhadap peta geopolitik global.
Dinamika ini dipandang sebagai momentum krusial bagi Indonesia untuk meninjau kembali arah kebijakan serta strategi politik luar negerinya.
Merespons situasi tersebut, muncul usulan diplomatik berani agar Presiden Prabowo Subianto menunjukkan penghormatan tertinggi kepada Republik Islam Iran dengan menghadiri langsung prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei atau melakukan kunjungan kenegaraan resmi ke Teheran dalam waktu dekat.
Usulan strategis tersebut diletupkan oleh Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr Syahganda Nainggolan, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Peran Indonesia Pasca Perang Amerika–Iran di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Sebagai catatan sejarah, Ayatollah Ali Khamenei wafat pada 28 Februari 2026 dalam usia 86 tahun setelah kompleks kediaman resminya di Teheran luluh lantak dihantam serangan udara gabungan militer AS dan Israel.
Operasi rudal tersebut menargetkan pejabat ring satu Iran, hancurnya kediaman Khamenei, serta menewaskan lima orang termasuk sang pemimpin spiritual dan beberapa anggota keluarganya.
Menurut Syahganda, kehadiran fisik Presiden Prabowo di Teheran akan mengirimkan sinyal geopolitik yang sangat kuat ke panggung internasional.
"Kehadiran langsung Presiden Prabowo pada momentum penting pemakaman Ayatullah Ali Khamenei atau melalui lawatan kenegaraan ke Iran akan mencerminkan keseriusan Indonesia dalam membangun hubungan bilateral yang lebih erat dengan negara-negara kawasan Timur Tengah," tegas Syahganda.
Syahganda memaparkan bahwa sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus memegang status keanggotaan di G20, ASEAN, BRICS, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki legitimasi politik dan moral yang luar biasa kuat.
Baca juga: Trump Sebut Tangisan Rakyat Iran Palsu saat Pemakaman Khamenei, Beri Ancaman
Baca juga: Update Kasus Dosen di Bungo Jambi Dibunuh Oknum Polisi: Waldi Divonis Seumur Hidup
Posisi ini dinilai sangat ideal bagi Jakarta untuk mengambil peran aktif sebagai jembatan komunikasi (bridge builder) di tengah ketatnya rivalitas kekuatan blok-blok besar dunia.
Dalam kesempatan ini, GREAT Institute merumuskan tiga rekomendasi kebijakan luar negeri taktis untuk pemerintahan Presiden Prabowo:
- Mendorong kehadiran diplomatik tingkat tinggi Indonesia di Teheran guna mempererat kemitraan bilateral.
- Memperkuat hubungan kemitraan ekonomi dan politik yang sejalan dengan semangat solidaritas historis Konferensi Asia Afrika (KAA).
- Mendorong pemerintah RI menjajaki kerja sama strategis tripartit bersama Iran dan Turki guna membangun poros kekuatan baru di dunia Islam yang mandiri serta berdaulat.
"Upaya penguatan kerja sama strategis ini penting agar Indonesia dapat tampil sebagai kekuatan menengah (middle power) yang mampu menjaga stabilitas kawasan sekaligus memperjuangkan kepentingan nasional secara percaya diri," jelas Syahganda.
Di samping aspek diplomasi luar negeri, diskusi tersebut menggarisbawahi bahwa daya tahan luar biasa Iran dalam menghadapi embargo ekonomi internasional selama puluhan tahun memberikan pelajaran berharga bagi pertahanan domestik Indonesia.
Kekuatan sejati sebuah negara terbukti tidak hanya bersandar pada aspek militer murni, melainkan pada kemandirian pangan, ketahanan energi, kemandirian fiskal, serta penguasaan teknologi strategis.
"Ketahanan domestik yang kokoh di dalam negeri merupakan prasyarat mutlak agar Indonesia mampu menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif secara lebih berwibawa di kancah global," pungkas Syahganda.
FGD yang berlangsung hangat ini dihadiri oleh deretan tokoh nasional dan pakar lintas sektor, di antaranya Dr Nasir Tamara, Drs Dian Wirengjurit, Dr Teguh Santosa, Dr Anton Permana, pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman, Bursah Zarnubi, ekonom Dr. Fitra Faisal, Dr Rizal Darma Putra, Drs Zaman Syah, serta Ir Abdullah Rasyid.
Baca juga: Sandingi Modi, Prabowo: Demokrasi Memang Rumit Tapi Sistem Terbaik
Baca juga: Harga Sawit di Jambi Hari Ini Rp3.787 per Kg di Pabrik, Berapa di Toke?
Baca juga: Jawaban Kaesang Usai Kader PSI Desak Lantik Jokowi Jadi Ketua Dewan Pembina