TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Turunnya harga telur menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kue, seperti dirasakan Hasni, pengusaha brownies lumer asal Desa Bumimulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Rabu (8/7/2026).
Hasni, mengaku penurunan harga telur sangat membantu menekan biaya produksi kue.
Pasalnya, setiap hari ia membutuhkan sekitar 300 butir telur atau setara 10 rak untuk membuat adonan brownies.
“Kita merasa sangat terbantu dengan turunnya harga telur, pengeluaran jadi berkurang sehingga lebih semangat menjalankan usaha,” kata Hasni kepada wartawan.
Baca juga: Harga Emas Batangan Antam Rabu 8 Juli 2026 Turun Lagi
Baca juga: Wanita di Jatim Tega Buang Bayinya di Bawah Pohon Mangga, Ditemukan Dalam Kondisi Menangis
Dia menyebut dengan biaya produksi yang lebih rendah, keuntungan usahanya meningkat.
Meski harga jual produknya tetap dipertahankan, agar para langganan tidak beralih.
“Alhamdulillah, sejak harga telur turun keuntungan yang kami peroleh setiap hari juga meningkat,” ucapnya.
Hasni menjual brownies lumernya dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu per kemasan.
Dalam sehari, dia mampu memproduksi sekitar 200 kemasan brownies persegi panjang dan 100 kemasan brownies bulat untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Dia berharap harga telur yang saat ini berada di angka Rp37 ribu per rak ini tidak lagi mengalami kenaikan.
Pedagang menyebut penurunan harga telur ini disebabkan over produksi atau kelebihan stok dari daerah luar.
Penurunan harga telur ini sudah berlangsung selama dua bulan, terjadi secara bertahap.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, aktivitas para pedagang telur di kompleks pasar nampak sepi.
Stok telur dalam kemasan rak nampak tersusun rapi menumpuk di lapak tiap pedagang.
Meski harga telur alami penurunan signifikan pedagang mengaku sepinya pembeli.
“Sudah dua bulan ini berlangsung harga telur turun drastis, penyebabnya karena stok melimpah dari Sidrap,” kata pedagang, Maryani kepada wartawan.
Dia menjelaskan penurunan harga telur ini disebabkan karena stok melimpah dari daerah Sidrap, Sulawesi Selatan.
Maryani menyebut suplai telur dari Sidrap cukup melimpah atau over produksi sehingga harganya murah.
Meski harga alami penurunan namun aktivitas jual beli telur malah sepi tidak terjadi peningkatan.
“Pembeli juga malah sepi, tidak ada peningkatan, kalau faktor karena Makan Bergizi Gratis (MBG) libur, saya rasa pengaruhnya hanya sedikit,” ungkapnya.
Dia menyebut jika program MBG tidak terlalu berdampak atas turunnya harga telur ini.
Karena menurut Maryani kondisi harga telur turun drastis sudah terjadi sejak dua bulan terakhir.
Jauh hari sebelum program MBG libur sekolah, yang menu makanannya selalu ada sajian olahan telur.
“Sekarang produksi telur melimpah di peternak, sementara pembeli berkurang, itu yang jadi penyebabnya,” sebut Maryani.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli