TRIBUNJOGJA.COM - Salah satu fenomena langit paling ditunggu tiap tahun, hujan meteor Perseid, diprediksi akan mencapai puncaknya pertengahan Agustus ini.
Tahun 2026 disebut jadi momen istimewa karena kondisi langit yang mendukung untuk pengamatan.
Puncaknya Diprediksi 13 Agustus
Menurut prediksi American Meteor Society, puncak hujan meteor Perseid tahun ini jatuh pada 13 Agustus pukul 14.53 UTC.
Artinya, waktu terbaik untuk menyaksikannya ada di dini hari sampai menjelang subuh pada tanggal 12 dan 13 Agustus, dengan kemungkinan 14 Agustus masih menyisakan sedikit aktivitas meski biasanya jumlah meteor menurun cepat setelah puncaknya lewat.
Meski durasi hujan meteor ini sebenarnya berlangsung jauh lebih panjang, dari 14 Juli sampai 1 September, jumlah meteor yang terlihat baru benar-benar signifikan mendekati tanggal puncak tadi.
Kenapa Tahun Ini Diprediksi Lebih Bagus
Salah satu faktor kunci yang bikin pengamatan tahun ini menjanjikan adalah posisi bulan.
Fase bulan baru jatuh tepat di masa puncak Perseid, sehingga langit malam akan lebih gelap tanpa gangguan cahaya bulan, membuat meteor yang redup sekalipun jadi lebih mudah terlihat.
Dalam kondisi langit gelap tanpa bulan seperti ini, pengamat biasanya bisa menyaksikan sekitar 90 meteor per jam atau bahkan lebih saat kondisi ideal.
Meteor Perseid juga dikenal punya warna-warna yang cukup mencolok dan sering meninggalkan jejak cahaya yang bertahan beberapa saat setelah melintas, menjadikannya salah satu hujan meteor favorit bagi pengamat langit di belahan bumi utara.
Ada Bonus Gerhana Matahari Total, Tapi Bukan di Indonesia
Menariknya, fase bulan baru pada 12 Agustus itu bertepatan dengan peristiwa gerhana matahari total, meski jalur totalitasnya cuma melintasi kawasan Arktik, Greenland, Islandia, dan sebagian Spanyol, jauh dari Indonesia.
Bagi pengamat yang kebetulan berada di jalur tersebut, ada kemungkinan bisa menyaksikan kilatan meteor Perseid bersamaan dengan momen gerhana berlangsung, kombinasi langka yang jarang terjadi.
Titik Asal di Rasi Bintang Perseus
Nama Perseid diambil dari rasi bintang Perseus, karena jika ditarik garis lurus ke belakang, seluruh meteor ini seolah berasal dari satu titik di rasi tersebut, tepatnya dekat gugus bintang ganda yang terkenal di sana.
Meski begitu, sebenarnya tidak ada hubungan nyata antara meteor ini dengan bintang-bintang di rasi Perseus.
Bintang-bintang itu berjarak bertahun-tahun cahaya, sementara meteor yang terlihat justru terbakar habis hanya sekitar 100 kilometer di atas permukaan Bumi.
Berasal dari Komet Berusia Ratusan Tahun
Sumber material hujan meteor ini adalah komet besar bernama 109P/Swift-Tuttle, yang mengorbit matahari sekali setiap sekitar 133 tahun.
Komet ini pertama kali ditemukan pada 16 Juli 1862 oleh Lewis Swift, dan tiga hari kemudian dikonfirmasi secara terpisah oleh astronom lain, Horace Tuttle.
Penentuan periode orbit komet ini sempat jadi teka-teki tersendiri bagi para astronom.
Prediksi awal memperkirakan komet ini akan kembali terlihat pada 1982, tapi ternyata meleset.
Barulah pada 1992, komet ini kembali terdeteksi, dan perhitungan orbitnya pun direvisi jadi sekitar 130 tahun sekali putaran.
Jangan Berharap Meteornya Sampai ke Tanah
Meski terlihat spektakuler melintasi langit, meteor-meteor Perseid nyaris tidak pernah sampai ke permukaan Bumi dalam bentuk utuh sebagai meteorit.
Ini karena materialnya berasal dari serpihan komet yang terbuat dari es, jauh lebih rapuh dibanding meteorit yang umumnya berasal dari asteroid berbatu atau bermaterial logam.
Punya Kisah di Balik Mitologi Yunani
Dalam mitologi Yunani kuno, Perseus digambarkan sebagai putra dewa Zeus dengan seorang wanita fana bernama Danae.
Konon, hujan meteor ini dipercaya sebagai simbol peringatan saat Zeus mendatangi Danae dalam wujud hujan emas.
Tips Buat Pengamat di Indonesia
Bagi pengamat di Indonesia, waktu terbaik menyaksikan Perseid adalah dini hari hingga menjelang subuh, saat rasi Perseus sudah cukup tinggi di ufuk timur.
Fenomena ini bisa dinikmati langsung dengan mata telanjang, tanpa perlu teleskop, asalkan berada di lokasi gelap dan jauh dari polusi cahaya kota.
Dengan kombinasi langit gelap tanpa bulan dan potensi hingga puluhan meteor per jam, Perseid tahun ini layak masuk agenda buat siapa saja yang ingin menikmati fenomena langit malam.
(MG Farhatiy Rijal)