TRIBUNNEWS.COM - Simak profil Didik Haryadi, legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP/PDI Perjuangan) yang baru saja mengungkap 'dosa' anggaran negara di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam Rapat Paripurna DPR ke-24 Masa Persidangan V, Selasa (7/7/2026) kemarin, Didik menyoroti realisasi anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dinilai belum memenuhi mandatory spending sebesar 20 persen.
Kata Didik yang juga anggota Komisi XI DPR RI, pemerintah hanya melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tersebut sebesar 90,68 persen.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Didik di hadapan Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
"Pemerintah tidak menjalankan pelaksanaan mandatory spending untuk anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Pelaksanaan amanat Undang-Undang 1945 tersebut hanya mencapai 90,68 persen," kata Didik.
Bahkan, Didik mengungkap, ada anggaran pendidikan sebesar Rp67 triliun yang seharusnya menjadi hak rakyat yang tidak dibelanjakan oleh pemerintah selama 2025.
"Terdapat 67 triliun anggaran pendidikan yang menjadi hak rakyat tidak direalisasikan pemerintah." paparnya.
Selanjutnya, Didik juga menyoroti adanya defisit anggaran dan produk domestik bruto (PDB) yang melebihi ketetapan Undang-Undang.
"Defisit anggaran mencapai 108 persen dari yang ditetapkan dalam Undang-Undang APBN 2025, sedangkan besaran defisit 2,81 persen PDB juga lebih besar dibandingkan dengan ditetapkannya dalam Undang-Undang APBN 2025, yaitu 2,53 persen PDB," jelas Didik.
Didik pun menilai, pemerintah tidak efektif dalam mengendalikan belanja sesuai dengan kemampuan pendapatan negara sehingga defisit bertambah Rp54 triliun.
"Suatu beban keuangan negara yang pada akhirnya harus ditanggung oleh rakyat," tegasnya.
Baca juga: Prabowo Disarankan Hadiri Pemakaman Ali Khamenei, Perkuat Posisi Indonesia di Timur Tengah
Profil Didik Haryadi
Didik Haryadi dikenal sebagai seorang pengusaha sekaligus politisi kelahiran Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada 12 November 1976 dan kini berusia 49 tahun.
Ia memiliki tiga gelar akademik, yakni S.H (Sarjana Hukum) dan S.T (Sarjana Teknik), serta M.H (Magister Ilmu Hukum).
Dikutip dari laman mpr.go.id, Didik merupakan lulusan Politeknik Industri Bandung (jurusan Mechanical Engineering) pada 1997, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Painan (jurusan Ilmu Hukum) pada 2021, Universitas Pelita Bangsa (jurusan Engineering) pada 2023, dan Universitas Krisnadwipayana (jurusan Ilmu Hukum) pada 2024.
Ia memiliki perusahaan bernama PT Venturindo Engineering, PT Venturindo Jaya Wibawa, The Platinum Residence, dan PT Venturindo Sarana Abadi, serta menjabat sebagai Comissioner di PT Kyodo Utama Indonesia.
Ia aktif di Himpunan Pengusaha Muda Nahdliyin dan PDI Perjuangan Cabang Boyolali.
Pria yang juga akrab disapa Didik Melon itu sebelumnya pernah viral mewujudkan nazar berjalan kaki dari Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, ke daerah pemilihannya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/1/2025).
Sejak lama Didik bernazar bakal berjalan kaki dari Jakarta ke kampung halamannya jika memenangi Pemilihan Umum atau Pemilu 2024 dan menjadi anggota DPR RI.
"Ini adalah janji pribadi saya kepada Allah SWT. Setiap orang pernah berjanji di hadapan Tuhan, dan saya ingin menepati janji itu selama saya masih diberi kesempatan hidup,” ujar Didik dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/1/2025), dikutip dari Kompas.
Didik mengklaim, janji ini ia penuhi untuk menunjukkan komitmennya memperjuangkan aspirasi masyarakat Boyolali.
Diketahui, Didik mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V yang meliputi Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Surakarta.
"Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa saya siap berkorban dan bekerja keras untuk memperjuangkan aspirasi mereka, meski prosesnya tidak mudah dan penuh tantangan," kata Didik.
Saat itu, Didik bilang, perjalanan dari Senayan ke Boyolali diperkirakan menghabiskan waktu 11 hari dengan 11 titik pemberhentian dan finish di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Boyolali.
"Insya Allah nanti kita akan berakhir (finish) di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Boyolali. Dan sekali lagi perjalanan ini juga saya berikan sebagai kado terindah di ulang tahun PDI Perjuangan," jelasnya.
(Tribunnews.com/Rizki A.) (Kompas.com)