Debit Air Sungai Menurun Karena Kemarau, Ribuan Ikan Milik Petani Keramba di Mali-Mali Banjar Mati
Ratino Taufik July 08, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Rofii Hamdi salah satu pembubidaya ikan jalan apung di Desa Mali Mali Kabupaten Banjar, pusing dibuat ikan yang dikelolanya alami mati massal.

Tidak sedikit jumlahnya. Bahkan sampai ribuan atau jika dijumlahkan ber ton ton ikan yang mati.

Jenis ikan yang paling banyak mati adalah bawal. Dia tampak sedih. Sekali tetpaksa mengubur ikan ikan yang ada dan sebagian terlarut ke sungai.

Dikatakan, Rofii Hamdi, ikan yang dikelolanya di keramba tersebut, mati masal dalam beberapa waktu terakhir. 

"Matinya ikan itu mulai terjadi sejak, Senin (06/07/2026), dan semakin parah sejak Selasa hingga kini," urai Rofii Hamdi.

Disampaikannya, jika kondisi itu diduga akibat menurunnya debit air sungai yang mempengaruhi kualitas air dan kadar oksigen di kolam budidaya.

Dia menjelaskan, jika informasi ini sudah dipantau oleh tim dinas.

"Penjelasan yang diterimanya dari petugas perikanan, kadar oksigen di dalam air mengalami penurunan sehingga tidak mampu menunjang kehidupan ikan secara optimal," urainya.

Dari hitungan Rofii Hamdi, lima jala berisi ikan bawal miliknya terdampak. Pada satu jala terdapat sekitar 1,5 ton ikan. 

"Kalau ikannya usia rata-rata telah mencapai sekitar tiga bulan atau sebagian sudah memasuki masa panen," kata dia.

Akibat kejadian tersebut, Rofii Hamdi, menaksir kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp200 juta.

Baca juga: BREAKING NEWS : Dua Anak Diduga Tenggelam di Sungai Barabai HST, Satu Masih Dicari

Guna kerugian yang lebih besar, ikan yang masih hidup terpaksa dipanen lebih awal dan segera dipasarkan meski harus dijual di bawah harga normal.

“Yang penting ada yang menerima dulu. Daripada mati semua, kami larikan ke pasar dan dijual seadanya,” runutnya.

Sementara itu, ikan yang sudah mati tidak lagi dapat dipasarkan sehingga terpaksa dibuang. 

Pihaknya berharap ada langkah penanganan dari pemerintah untuk menjaga ketersediaan air di sungai ketika debit mulai menurun. 

Menurutnya, kondisi serupa hampir terjadi setiap tahun dan berdampak terhadap usaha para pembudidaya ikan.

“Kami berharap ada solusi agar ketersediaan air di sungai tetap terjaga ketika debit mulai turun, sehingga kejadian seperti ini tidak terus berulang,” harapnya.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, melalui Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan DKPP Banjar, Apriyan Mindar Waspodo, membenarkan hal itu.

"Iya, kondisi yang terdampak ada di dua titik. Yakni di desa Sungai Arfat dan Desa Mali Mali," kata dia singkat.

Pihaknya juga melakukan pendaftaan dan penganalisaan kualitas air. 

Pihaknya, melalui dinas sejatinya sudah mengingatkan para pembudidaya ikan agar tidak menabur benih terlalu banyak dan mewaspadai musim kemarau. 

"Tapi tetap saja terjadi. Namun kini kami imbau jika ada ikan yang mati agat diangkat dan dikubur bukan dilarutkan ke sungai," jelasnya.

Pihaknya juga menghimbau kepada pembudidaya ikan lainnya juga mewaspadai kemarau ini karena debit air sungai berkurang.  (banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.