Gondang Naposo, Tradisi Mencari Jodoh Masyarakat Batak yang Sarat Makna dan Masih Dilestarikan
Array A Argus July 08, 2026 03:55 PM

TRIBUN-MEDAN.COM,- Tiap suku di Indonesia ini memiliki tradisi dan budaya yang cukup unik.

Sama halnya dengan suku Batak yang ada di Sumatera Utara.

Suku Batak, khususnya Batak Toba, punya nilai-nilai budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Bahkan, ada sebuah tradisi yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman yang kian modern.

Baca juga: Tradisi Mandadang Pada Suku Batak Simalungun, Wanita Baru Melahirkan Didekatkan ke Api

Tradisi yang masih bertahan itu namanya Gondang Naposo.

Gondang Naposo bagi orang Batak seperti acara pencarian jodoh.

Namun, pencarian jodoh yang dimaksud masih memegang tradisi dan adat budaya Batak Toba.

Menurut sejumlah penelitian dari Jurnal Anthropos Indonesia, Jurnal Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, serta kajian budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara, Gondang Naposo merupakan bagian dari sistem kehidupan masyarakat Batak yang berfungsi sebagai media interaksi sosial, pelestarian seni, hingga memperkuat ikatan kekerabatan.

Baca juga: Inilah Penginjil Pertama yang Menyebarkan Kristen di Suku Batak, Dua Misionaris Dibunuh Raja

Pemerintah Kabupaten Toba merasa bangga kepada naposo atau remaja Desa Pangombusan, yang memilih Tema
Pemerintah Kabupaten Toba merasa bangga kepada naposo atau remaja Desa Pangombusan, yang memilih Tema "Batak Naraja" pada acara Pesta Gondang Naposo di Desa tersebut. (Dok. Pemkab Toba)

Apa Itu Gondang Naposo?

Secara bahasa, gondang berarti musik atau upacara adat yang menggunakan iringan gondang (gendang tradisional Batak), sedangkan naposo berarti para pemuda dan pemudi yang belum menikah.

Dengan demikian, Gondang Naposo dapat dimaknai sebagai pesta adat yang secara khusus diperuntukkan bagi kaum muda sebagai wadah berkumpul, bersosialisasi, sekaligus mencari pasangan hidup.

Tradisi ini lahir dari kepedulian para tetua adat terhadap anak-anak mereka yang telah cukup usia menikah tetapi belum menemukan pendamping hidup.

Daripada mencari jodoh secara sembarangan, masyarakat menyediakan ruang yang tetap menjunjung tinggi norma adat dan nilai kesopanan.

Baca juga: Marripang, Tradisi Suku Batak di Daerah Penghasil Padi, Dilakukan Setiap Bulan Juni

Berawal dari Musyawarah Adat

Pelaksanaan Gondang Naposo tidak dilakukan secara tiba-tiba.

Sebelum pesta berlangsung, para tokoh adat, orang tua, dan pemimpin kampung menggelar Tonggo Raja, yaitu musyawarah adat untuk menentukan waktu, tempat, hingga pembagian tugas selama acara berlangsung.

Dalam budaya Batak, musyawarah ini menjadi simbol bahwa setiap kegiatan adat harus dilaksanakan melalui kesepakatan bersama sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh anggota masyarakat.

Baca juga: Sejarah dan Asal Usul Marga Lubis dari Suku Batak

Setelah seluruh persiapan selesai, para pemuda dan pemudi atau Naposo Bulung dari berbagai desa mulai diundang untuk menghadiri pesta.

Digelar Saat Bulan Terang

Salah satu keunikan Gondang Naposo adalah waktu pelaksanaannya.

Tradisi ini umumnya diselenggarakan ketika Rondang Bulan, yaitu malam dengan cahaya bulan yang terang.

Pada masa lalu, ketika listrik belum tersedia di banyak desa, sinar bulan menjadi penerangan alami sehingga masyarakat dapat berkumpul dan menari hingga malam hari.

Beberapa penelitian etnografi menyebutkan bahwa pemilihan waktu tersebut bukan hanya karena faktor pencahayaan, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai harapan akan kehidupan baru yang terang bagi para muda-mudi.

Baca juga: Sejarah dan Asal Usul Marga Siregar dari Suku Batak

Biasanya Gondang Naposo berlangsung selama dua hari.

Hari pertama diawali dengan pembukaan gondang pada sore hingga malam hari. Hari kedua dilanjutkan dengan berbagai rangkaian tortor, penyambutan tamu, hingga acara adat yang berlangsung sampai sore.

Wakil Bupati Kabupaten Toba, Tonny M. Simanjuntak bersama beberapa pimpinan perangkat daerah menghadiri pesta Gondang Naposo di dua desa, pada Sabtu (9/9/2023) malam.
Wakil Bupati Kabupaten Toba, Tonny M. Simanjuntak bersama beberapa pimpinan perangkat daerah menghadiri pesta Gondang Naposo di dua desa, pada Sabtu (9/9/2023) malam. (Tribun Medan/HO)

Ajang Mencari Jodoh dalam Balutan Adat

Fungsi utama Gondang Naposo memang sebagai tempat mempertemukan para pemuda dan pemudi yang belum menikah.

Namun berbeda dengan konsep perkenalan modern, seluruh proses dilakukan secara terbuka dan disaksikan masyarakat.

Para peserta berasal dari berbagai desa sehingga kesempatan untuk saling mengenal menjadi lebih luas.

Mereka berinteraksi melalui percakapan, manortor (menari tortor), hingga saling berbalas umpasa atau pantun adat.

Baca juga: 5 REKOMENDASI Tempat Wisata di Danau Toba, Bisa Liburan Sambil Belajar Sejarah Suku Batak

Dalam budaya Batak, komunikasi melalui umpasa dianggap mencerminkan kecerdasan, kesopanan, sekaligus kemampuan seseorang dalam memahami adat.

Tidak sedikit pasangan yang akhirnya melanjutkan hubungan ke jenjang martuppol (pertunangan adat) hingga pernikahan setelah bertemu dalam Gondang Naposo.

Tarian Tortor Menjadi Media Perkenalan

Salah satu momen paling dinanti adalah saat manortor.

Pada sesi ini, para pemuda dan pemudi menari mengikuti irama gondang dengan gerakan yang penuh makna.

Menurut penelitian dalam Jurnal Gondang, tortor bukan sekadar tarian hiburan.

Setiap gerakan melambangkan penghormatan, doa, kebersamaan, dan komunikasi sosial.

Baca juga: Mengenal Prosesi Adat Pernikahan Suku Batak Mandailing

Saat menari, para peserta saling memperhatikan satu sama lain.

Jika muncul ketertarikan, mereka dapat memulai perkenalan secara santun melalui iringan tortor tanpa melanggar norma adat yang berlaku.

Tradisi Santisanti, Bentuk Penghormatan kepada Tuan Rumah

Keunikan lain dalam Gondang Naposo adalah adanya tradisi santisanti.

Setiap rombongan muda-mudi dari desa lain yang datang sebagai tamu biasanya membawa santisanti berupa sejumlah uang yang diletakkan di dalam tandok (wadah anyaman tradisional) atau di atas piring berisi beras.

Baca juga: Tak Pakai BBM dan SIM, Gereta Lembu Jadi Transportasi Unik Warisan Suku Karo

Pemberian tersebut bukanlah biaya masuk ataupun hadiah biasa.

Dalam budaya Batak, santisanti merupakan simbol penghormatan kepada tuan rumah (hasuhuton) sekaligus ungkapan terima kasih karena telah menyelenggarakan pesta adat.

Prosesi penyerahannya pun dilakukan sambil menari tortor sehingga suasana tetap penuh kegembiraan.

Wakil Bupati Kabupaten Toba, Tonny M. Simanjuntak mengikuti pesta gondang naposo.
Wakil Bupati Kabupaten Toba, Tonny M. Simanjuntak mengikuti pesta gondang naposo. (Tribun Medan/HO)

Mempererat Persaudaraan Antarwarga

Selain menjadi tempat mencari pasangan, Gondang Naposo juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting.

Banyak pemuda yang telah merantau pulang ke kampung halaman untuk mengikuti acara ini.

Baca juga: Tradisi Kuning-kuningen pada Suku Karo yang Mulai Memudar

Momen tersebut menjadi kesempatan melepas rindu dengan sahabat, keluarga, maupun kerabat dari desa lain yang sudah lama tidak bertemu.

Dalam kajian antropologi budaya Batak, tradisi seperti Gondang Naposo berperan menjaga jaringan sosial antardesa, memperkuat solidaritas, serta mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Nilai Budaya yang Tetap Relevan

Di era modern, fungsi Gondang Naposo memang tidak lagi sepenuhnya menjadi sarana utama mencari jodoh.

Namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan, seperti kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, musyawarah, serta pentingnya menjaga hubungan sosial.

Karena itulah, berbagai komunitas adat dan pemerintah daerah terus berupaya melestarikan Gondang Naposo sebagai bagian dari kekayaan budaya tak benda masyarakat Batak.

Selain menjadi identitas budaya, tradisi ini juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan seni musik gondang, tortor, dan nilai-nilai luhur masyarakat Batak kepada generasi muda.(tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.