SURYA.CO.ID - Kecewa karena fasilitas tempat tunggu Suroboyo Bus di Halte Universitas Airlangga (Unair) Kampus B tak kunjung dibenahi pemerintah kota (pemkot), buat warga Kota Surabaya turun tangan.
Warga yang tergabung dalam Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FDTS) patungan uang hingga terkumpul Rp500.000.
Meski dengan dana minim, fasilitas itu kini telah dilengkapi bangku dan atap peneduh.
Halte sederhana yang dibangun secara swadaya tersebut resmi rampung pada 1 Juli 2026.
"Jadi demand-nya cukup tinggi, tapi di sana fasilitasnya enggak ada, enggak ada sama sekali cuma bus stop aja. Berangkat dari keresahan itu akhirnya timbul inisiatif," kata anggota FDTS, Tugas Hutomo Putra, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Awal Mula Polemik Rumah Kontrakan di Surabaya Hingga Armuji Putuskan Kompensasi Rp 5 Juta
Titik Pemberhentian Bus (TPB) Unair B di Jalan Dharmawangsa sebenarnya termasuk salah satu halte Suroboyo Bus yang paling ramai.
Halte ini dilewati oleh rute R4 menuju Terminal Purabaya. Sayangnya, sekian lama tempat ini hanya berupa papan penanda pemberhentian biasa, tanpa kursi maupun atap pelindung.
Kondisi minim fasilitas ini memaksa para penggunanya, yang mayoritas mahasiswa, memutar otak agar tidak kepanasan atau kehujanan.
Fikri (22), seorang mahasiswa Unair yang setiap hari mengandalkan Suroboyo Bus, menceritakan perjuangannya.
Dia kerap terpaksa duduk di pagar beton Airlangga Wellness Center (AWC) sambil menunggu bus datang.
Jika hujan deras mengguyur, ia harus berteduh di halaman AWC dan bersiap adu cepat begitu bus merapat.
"Kan kita mahasiswa rantau uang saku per bulan juga enggak besar. Harus dibagi-bagi sama biaya makan, uang tugas, proyek, sama bayar kos. Kalau harus naik ojol seminggu saja lumayan bengkak," ujar Fikri jujur.
Tak hanya tanpa atap, saat malam hari area halte ini juga berubah mencekam karena minimnya penerangan.
"Kalau malam lumayan gelap, cuma mengandalkan lampu kendaraan yang lewat," tambah Fikri.
Penderitaan serupa juga dirasakan oleh Karina Ratri (21). Mahasiswi ini menggunakan Suroboyo Bus satu hingga dua kali seminggu untuk pulang ke rumahnya di Sidoarjo demi menghemat ongkos.
"Ya mau gimana lagi. Menurut saya bus ini murah, membantu banget menghemat ongkos. Enggak apa-apa kepanasan yang penting bisa pulang," keluh Karina.
Melihat hal ini, anggota FDTS akhirnya bergerak menggalang dana secara swadaya.
Dengan modal Rp 500.000, mereka berhasil mendirikan halte sederhana namun sangat fungsional.
Kini, halte tersebut dilengkapi dengan:
1. Bangku kayu panjang berwarna merah muda yang nyaman.
2. Dua tiang penyangga dari pipa PVC.
3. Atap peneduh yang memanfaatkan spanduk bekas.
4. Papan nama halte resmi beserta peta rute Suroboyo Bus.
Menariknya, di bangku halte tersebut ditempelkan sebuah stiker sindiran sekaligus pesan menyentuh.
"Halte ini bantuan dari #WargaBantuWarga dikarenakan halte yang dijanjikan tidak kunjung datang. Silakan digunakan dan dijaga. Dilarang mengambil halte ini sebelum ada solusi yang lebih baik."
Tugas Hutomo Putra menjelaskan bahwa sebelum mengambil langkah ekstrem dengan membangun halte sendiri, pihaknya sudah berkali-kali menyuarakan aspirasi ini lewat media sosial.
Namun, suara warga seolah menguap tanpa tindak lanjut dari pihak terkait.
Padahal, kawasan Jalan Dharmawangsa merupakan area yang sangat sibuk dan vital bagi mobilitas warga urban Surabaya.
"Karena lokasi itu termasuk mix zone. Ada kampus, permukiman, pusat aktivitas ekonomi, dan banyak pengguna bus di halte itu," jelas Tugas.
Melalui gerakan #WargaBantuWarga ini, FDTS berharap Pemerintah Kota Surabaya tergetar dan segera melengkapi fasilitas halte secara permanen.
Menurutnta, vagaimanapun, kenyamanan fasilitas pendukung adalah kunci utama agar masyarakat mau berpindah ke transportasi umum.
"Kalau kita ingin masyarakat naik transportasi umum, fasilitas dasarnya juga harus memadai. Yang perlu dibangun bukan hanya busnya, tetapi juga kemauan pemerintah untuk meningkatkan kualitas fasilitas umum," pungkas Tugas tegas.