TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN- Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Nunukan, Anton Suriyadi Siagian, mengungkapkan modus peredaran narkoba terus berkembang dan kini mulai menyasar anak-anak sebagai kurir sabu.
Karena itu, para guru diminta menjadi garda terdepan dalam membangun karakter peserta didik agar tidak mudah terjerumus dalam penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika.
Hal itu disampaikan Anton saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penggiat Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Pemberdayaan Lembaga Pendidikan Bersih Narkoba Tahun 2026 yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 guru dari berbagai sekolah di Kabupaten Nunukan.
Baca juga: Cara BNNK Nunukan Perang Lawan Narkoba, Sasar Pelajar dan Godok Kurikulum
Anton mengatakan, guru merupakan keluarga kedua bagi anak setelah orang tua di rumah sehingga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurutnya, perkembangan modus para bandar narkoba harus menjadi perhatian seluruh tenaga pendidik, terlebih Nunukan merupakan wilayah perbatasan yang rawan menjadi jalur peredaran narkotika.
"Modus para bandar narkoba semakin beragam. Sekarang anak-anak di bawah umur dimanfaatkan menjadi kurir narkoba. Ada juga yang memanfaatkan perempuan hingga ibu rumah tangga. Fenomena seperti ini harus menjadi perhatian kita bersama," katanya.
Ia menegaskan, pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membangun karakter siswa agar memiliki ketahanan terhadap berbagai ancaman, termasuk penyalahgunaan narkoba.
"Karakter yang kuat bukan hanya pintar dalam pelajaran, tetapi juga mampu menolak pengaruh negatif dari lingkungan. Sekolah menjadi tempat yang sangat penting untuk membentuk karakter tersebut," ujarnya.
Baca juga: Satu Kurir Sabu Seberat 234,23 Gram di Nunukan Ikut Diciduk, Pelaku Terancam 20 Tahun Penjara
Anton menjelaskan, pembentukan karakter harus dilakukan secara bersama antara keluarga dan sekolah.
Menurutnya, karakter memang dibentuk sejak di rumah, namun sekolah memiliki kesempatan besar memperkuat nilai-nilai positif selama anak menjalani proses belajar.
Ia juga mengingatkan para guru agar menggunakan pendekatan yang lebih humanis dalam mendidik siswa.
"Jangan memberi label negatif kepada anak. Rangkul mereka, pahami kesulitannya, karena membentuk karakter membutuhkan proses. Guru harus menjadi pembimbing, bukan hanya pengajar," ucapnya.
Dalam bimtek tersebut, peserta juga dibekali materi mengenai pencegahan narkoba di lingkungan keluarga melalui program keluarga bersih narkoba.
Selain menerima materi, seluruh peserta diminta menyusun action plan atau rencana aksi yang nantinya diterapkan di sekolah masing-masing sebagai bentuk tindak lanjut setelah pelatihan.
Anton berharap para guru tidak hanya mengikuti kegiatan secara seremonial, tetapi benar-benar menjadi penggerak P4GN di lingkungan sekolah.
"Saya tidak ingin kegiatan ini berhenti setelah pelatihan selesai. Harus ada aksi nyata di sekolah.
Guru yang hadir di sini harus menjadi penggiat anti narkoba yang mampu mengedukasi siswa dan menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih dari narkoba," tegasnya.
Ia optimistis, jika sekolah dan keluarga berjalan beriringan dalam membangun karakter anak, maka generasi muda Nunukan akan memiliki daya tahan yang kuat terhadap ancaman narkoba serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
(*)
Penulis: Fatimah Majid