TRIBUNNEWS.COM - Dua babak fase gugur Piala Dunia 2026, dua kali juga Argentina berada di 'tepi jurang' lolos ke babak berikutnya, dan kini Lionel Messi cs akan menghadapi Swiss di babak 8 besar. Tim yang pernah membuat mereka frustasi 12 tahun silam.
Di awal fase gugur melawan tim debutan Cape Verde, Argentina harus bersusah payah mendapatkan kemenangan.
Gol penentu kemenangan tim berjuluk Albiceleste itu baru tercipta pada menit ke-111 setelah bola sundulan Diney masuk ke gawangnya sendiri saat ingin menghalau tendangan penjuru Argentina.
Pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Mesir dengan penuh dinamika dan kontroversinya, Argentina harus tertinggal dua gol lebih dulu sampai menit ke-79.
Yasser Ibrahim (15') dan Mostafa Ziko (67') membuat Mesir unggul, ditambah dengan kegagalan penalti Lionel Messi yang membuat Argentina dalam tekanan.
Namun dengan penguasaan bola yang dominan ditambah dengan sikap yang pantang menyerah, Argentina mampu membalikkan keadaan menjadi 3-2 di akhir waktu pertandingan.
Cristian Romero (79') membuka harapan, ditambah dengan gol kedelapan sang megabintang di Piala Dunia 2026 empat menit kemudian, dan sundulan Enzo Fernandez di masa injury time yang membuat Argentina lolos ke babak 8 besar.
Pada waktu yang berbeda Swiss harus bersusah payah mengalahkan Kolombia di Vancouver. Pertandingan tim yang dikomandoi Granit Xhaka di lapangan harus ditentukan melalui adu penalti untuk mencari pemenangnya.
Penjaga gawang Swiss, Gregor Kobel tampil memukau dengan menepis satu penendang Kolombia, Cucho Hernandez untuk membawa timnya memastikan tempat di babak perempat final dengan kemenangan 4-3.
Kemenangan itu juga membawa Swiss ke dimensi lain dalam sejarah Piala Dunia. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1954, Swiss berhasil lolos ke babak perempat final.
Bagi Gregor Kobel, pencapaian ini berpotensi mengubah cara pandang banyak orang terhadap sepak bola Swiss.
"Saya pikir ini adalah pencapaian besar bagi kami sebagai tim dan bagi setiap orang yang ada di tim ini," kata Gregor Kobel usai pertandingan kepada FIFA.
"Berada di posisi kita sekarang ini, saya rasa kita tidak bisa lebih bangga lagi."
"Ini adalah pencapaian yang luar biasa bagi kami, tetapi ini belum berakhir, masih ada pertandingan yang harus kita mainkan, jadi kita akan terus maju," tambahnya.
Selain itu, hasil ini juga bisa mengantarkan Swiss ke pencapaian yang belum pernah mereka rasakan sekaligus membalas kekalahan menyakitkan atas Argentina.
Dua belas tahun yang lalu di babak 16 besar Piala Dunia, Swiss bertemu dengan Lionel Messi cs.
Laga itu dianggap sebagai salah satu pertandingan paling dramatis dan menegangkan dalam sejarah fase gugur Piala Dunia.
Dominasi Argentina harus dihadapkan dengan kukuhnya tembok pertahanan Swiss di Arena de Sao Paolo.
Kebuntuan terjadi selama 90 menit waktu normal pertandingan. Lionel Messi dan kolega mendominasi permainan, namun mereka dibuat frustasi menghadapi organisasi pertahanan Swiss yang disiplin di bawah asuhan pelatih Ottmar Hitzfeld.
Ditambah lagi dengan peran Diego Benaglio yang tampil mengesankan di bawah mistar gawang untuk mematahkan peluang emas Angel Di Maria, Gonzalo Higuain, dan Rodrigo Palacio.
Sebelum akhirnya apa yang mereka perjuangkan runtuh dua menit jelang peluit panjang waktu tambahan.
Aksi solo run Lionel Messi dari sisi tengah lapangan membuat pertahanan Swiss kocar-kacir. Sang kapten memberikan umpan pendek yang kemudian langsung disontek oleh Angel Di Maria.
Bola yang mengarah ke pojok kanan gawang itu gagal dihalau oleh Benaglio.
Dramanya belum selesai, Swiss punya peluang emas pada menit ke-120 untuk menyamakan kedudukan dari skema bola mati.
Tapi sayang, bola sundulan Blerim Dzemaili setelah menerima umpan dari rekannya membentur mistar gawang.
Kemenangan itu membuat Argentina melangkah ke perempat final, sementara Swiss tersisih dengan menyakitkan.
Kini, keduanya akan saling berhadapan di babak perempat final Piala Dunia 2026, sesolid apa Swiss untuk melawan Argentina dibandinkan penampilan pada tahun 2014 silam?
Swiss belum tersentuh kekalahan sepanjang turnamen, mereka bermain dengan pertahanan yang terstruktur dari lini tengah sebelum ke area pertahanan mereka.
Tim asuhan Murat Yakin itu juga cukup tangguh dalam ketenangan mental yang telah terbukti ketika menghadapi Kolombia dengan adu penalti.
Ditambah dengan kepemimpinan Granit Xhaka dan Ricardo Rodriguez yang cukup berpengalaman di Piala Dunia keempat mereka.
Serta kedalaman skuad yang lebih merata dibandingkan tahun 2014. Swiss memiliki wonderkid Johan Manzambi dan Ruben Vargas sebagai eksekutor di menit krusial.
Dan tak ketinggalan, satu faktor yang sama di bawah mistar gawang. Jika Benaglio tampil perform ketika itu, kali ini perannya digantikan oleh Gregor Kobel dengan keunggulannya membaca arah penalti yang klinis.
Xhaka mengaku, tak ada keraguan jika timnya harus menghadapi Argentina dengan segala status dan Lionel Messi yang berada di dalam skuad.
Jika pun mereka harus melawan Argentina sampai adu penalti, mereka percaya karena memiliki Kobel di bawah mistar gawang.
"Dia mempersulit hidup kami saat latihan ketika kami berlatih tendangan penalti," kata Xhaka tentang Kobel.
"Kami tahu bahwa jika sampai adu penalti, kami memiliki kiper yang bisa menyelamatkan tendangan tersebut, serta penendang yang bagus," tambahnya.
Sementara bagi Kobel ketika mendapat pertanyaan melawan Lionel Messi di babak perempat final, ia tak ragu karena saat ini kepercayaan diri tim berada di level yang sangat baik.
"Rekam jejak yang telah ia tunjukkan saat ini, saya rasa Anda tidak bisa marah jika seseorang mengatakan dia berada di puncak," beber Kobel soal Lionel Messi.
"Sekarang saya harus menghentikannya dan kenyataannya mereka diharapkan untuk menang."
"Mereka jelas favorit utama, tetapi pada akhirnya, ini adalah sepak bola. Kami juga memiliki kualitas yangs angat bagus dalam tim kami dan banyak kepercayaan diri," tutupnya.
Sejak awal turnamen, adanya Lionel Messi menjadi faktor X di balik performa Argentina yang positif.
Hal itulah yang pernah disampaikan salah seorang Football Enthusiast bernama Gigih, aaat mengomentari peluang tim Tango mempertahankan gelar.
"Argentina juga menjadi salah satu favorit juara karena proses transisi skuad yang berjalan mulus serta adanya faktor X dari Lionel Messi," kata Gigih dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
(Tribunnews.com/Sina)