SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Program wisata becak listrik di Kota Malang belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk melayani wisatawan.
Pemkot Malang, melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) menjelaskan, kendalanya ada pada regulasi.
Kadisporapar Kota Malang, Baihaqi mengatakan bahwa hingga kini regulasi pelaksanaannya masih dalam tahap penyusunan.
Baihaqi mengatakan, pemerintah saat ini masih menunggu penyelesaian regulasi yang tengah disusun oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang.
"Kalau program wisatanya, kami masih menunggu regulasi yang sedang disiapkan Dishub. Tetapi secara pemanfaatan di lapangan sudah berjalan."
"Saya sudah meminta HPI Kota Malang untuk memanfaatkan becak listrik sambil menunggu aturan tersebut selesai," ujar Baihaqi, Kamis (9/7/2026).
Pemkot Malang menggandeng Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Malang sebagai penghubung layanan bagi wisatawan yang ingin menggunakan becak listrik.
Baihaqi mengatakan Disporapar juga terus berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang agar wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, dapat mengakses layanan becak listrik.
Baca juga: Kunjungan Turis Asing ke Kota Malang Lumayan Naik, Becak Listrik Dukung Wisata Heritage dan Kuliner
"Kalau ada permintaan dari hotel atau wisatawan, kami minta langsung menghubungi HPI. Jadi secara faktual di lapangan sudah dilaksanakan oleh HPI," katanya.
Baihaqi mengakui hingga kini belum terbentuk paguyuban khusus becak listrik. Menurutnya, pembentukan kelembagaan tersebut masih menunggu regulasi yang sedang dimatangkan bersama Dinas Perhubungan Kota Malang.
"Paguyubannya memang belum ada. Semua itu nanti akan diatur dalam regulasi. Pembahasannya sudah beberapa kali dilakukan bersama Dishub, tetapi masih dalam tahap pematangan," ujarnya.
Ia menjelaskan, penyusunan aturan tersebut juga harus diselaraskan dengan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Lalu Lintas yang sedang diproses.
"Karena berbarengan dengan pembahasan Ranperda Lalu Lintas, jadi harus sinkron dengan aturan itu juga," katanya.
Menanggapi keluhan PHRI yang mengaku masih kesulitan mengakses layanan becak listrik karena belum adanya paguyuban, Baihaqi menilai persoalan tersebut lebih kepada komunikasi antara pihak.
Menurutnya, HPI saat ini telah mengelola sekitar 30 unit becak listrik yang siap dimanfaatkan untuk mendukung layanan wisata.
"Saya sudah komunikasi dengan Ketua PHRI agar langsung berkoordinasi dengan HPI. HPI saat ini mengelola sekitar 30 becak listrik. Saya juga sudah berpesan kepada Ketua HPI, kalau ada permintaan dari hotel harus segera dilayani," ujarnya.
Baca juga: DPC PDI Perjuangan Kota Malang Tunggu Arahan DPP Terkait Pendataan Kader Pemilik Dapur MBG
Baihaqi menambahkan, selama regulasi belum diterbitkan, koordinasi antara Disporapar, HPI, dan pelaku industri pariwisata akan terus diperkuat agar layanan becak listrik tetap dapat dimanfaatkan wisatawan.
"Konsep wisata secara menyeluruh memang masih menunggu regulasi selesai. Setelah itu, titik layanan dan mekanismenya akan disesuaikan dengan aturan lalu lintas yang sedang disusun," pungkasnya.
Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan bahwa permintaan akan moda becak cukup tinggi dari wisatawan mancanegara.
Hanya saja, ia kesulitan mengakses karena tidak adanya paguyuban dan komunikasi dengan pemerintah tentang keberadaan becak listrik.
Dikatakan Agoes, Juli memang menjadi periode high season bagi sektor pariwisata Indonesia.
Momentum tersebut bertepatan dengan libur sekolah serta banyaknya agenda kegiatan yang digelar di Kota Malang, Jawa Timur.
"Kalau Juli ini memang high season. Turis dari Tiongkok, Eropa, sampai Malaysia banyak yang masuk."
"Bertepatan juga dengan liburan sekolah dan berbagai event di Kota Malang yang menarik wisatawan," ujar Agoes.
Menurutnya, tren peningkatan wisatawan asing sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Mei 2026, meski saat itu situasi geopolitik dunia sempat memanas.
Dibandingkan tahun lalu, jumlah wisatawan mancanegara diperkirakan naik sekitar 20 persen.
Meski demikian, pasar wisata Kota Malang masih didominasi wisatawan domestik. Jumlahnya mencapai 80 persen.
"Kurang lebih kenaikannya sekitar 20 persen dibanding tahun lalu. Tetapi sekitar 80 persen tetap wisatawan Nusantara," katanya.
Agoes menjelaskan, sebagian besar wisatawan asing menjadikan Kota Malang sebagai daerah transit sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah destinasi unggulan di Malang Raya, seperti Gunung Bromo, kawasan wisata Batu, Pantai Selatan, hingga kawasan heritage Kayutangan.
Melihat tingginya kunjungan wisatawan, PHRI mencari pengoperasian becak listrik sebagai moda wisata di pusat kota. Menurut Agoes, keberadaan becak listrik dapat menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan sekaligus memberdayakan para pengemudi becak.
"Ada wisatawan asing yang mencari becak. Makanya saya teringat lagi janji soal becak listrik. Sekarang mereka naik bentor, padahal maunya becak listrik supaya yang memiliki becak juga bisa lebih berdaya," ujarnya.
PHRI, lanjut Agoes, telah mendapatkan informasi perihal rencana operasional becak listrik di Kota Malang dari Pemerintah Kota Malang. Namun sejauh ini rencana tersebut belum terealisasi.
Sedikitnya enam hotel berbintang menyatakan siap bermitra apabila layanan becak listrik mulai dioperasikan. Agoes pun meminta agar program tersebut bisa betul-betul dilaksanakan.
Baca juga: DPRD Kota Malang Dalami Penyebab SILPA Rp 303 Miliar