Oleh: Penyuluh Pajak KPP Pratama Maumere, Nugroho Putu Warsito
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Ketika anak-anak Indonesia saat ini memasuki usia produktif pada tahun 2045, mereka akan menjadi penentu keberhasilan Indonesia Emas. Pertanyaannya, apakah mereka juga akan tumbuh menjadi generasi yang sadar akan pentingnya pajak?
Indonesia Emas 2045 merupakan visi besar bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju, sejahtera, dan berdaya saing tinggi tepat pada usia 100 tahun kemerdekaan.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, diperlukan pembangunan yang berkelanjutan di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi. Seluruh program pembangunan tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan yang kuat, dan salah satu sumber utamanya adalah pajak.
Oleh karena itu, kesadaran pajak masyarakat perlu ditanamkan sejak dini, dan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam proses tersebut.
Baca juga: Gubernur NTT Utamakan Asas Keadilan Pembatasan BBM Subsidi Khusus Pelat Lokal Taat Pajak
Pentingnya membangun kesadaran pajak sejak dini semakin relevan mengingat pajak merupakan tulang punggung pembiayaan negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, penerimaan perpajakan dalam APBN 2025 diproyeksikan mencapai sekitar Rp2.387 triliun, atau sekitar 83 persen dari total penerimaan dalam negeri negara. Artinya, sebagian besar pembangunan nasional masih bergantung pada kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. (Sumber: Badan Pusat Statistik, 2025)
Setiap orang tua tentu berharap anaknya tumbuh di lingkungan yang aman, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih sejahtera. Harapan tersebut sesungguhnya tidak terlepas dari keberhasilan pembangunan yang sebagian besar dibiayai melalui pajak. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak.
Di dalam keluarga, anak belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, termasuk kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya, termasuk kewajiban membayar pajak.
Selain menanamkan nilai tanggung jawab, keluarga juga perlu mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan sistem administrasi yang semakin digital.
Di era digital, pemahaman tentang administrasi dan kepatuhan perpajakan menjadi semakin penting karena layanan perpajakan kini semakin terintegrasi dan berbasis teknologi. Dengan demikian, mereka tidak hanya memahami manfaat pajak, tetapi juga siap menghadapi transformasi digital dalam pengelolaan kewajiban perpajakan di masa depan.
Bagi anak, perilaku orang tua sering kali lebih berpengaruh dibandingkan nasihat yang mereka dengar. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Ketika orang tua menunjukkan sikap patuh terhadap peraturan, jujur dalam menjalankan kewajiban, serta memiliki kepedulian terhadap pembangunan negara, anak akan menyerap nilai-nilai tersebut secara alami.
Sebaliknya, pemahaman tentang pajak akan sulit tertanam jika hanya disampaikan sebagai teori tanpa adanya contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain melalui keteladanan, keluarga dapat menumbuhkan kesadaran pajak dengan mengajak anak memahami manfaat pajak yang mereka rasakan secara langsung. Ketika orang tua menjelaskan mengapa mereka meminta bukti pembayaran saat berbelanja, menunjukkan kepatuhan dalam membayar pajak kendaraan atau bercerita tentang manfaat fasilitas umum yang dibiayai negara, sesungguhnya mereka sedang menanamkan nilai-nilai kesadaran pajak kepada anak.
Kesadaran pajak yang ditanamkan sejak dini akan membentuk generasi yang memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Generasi seperti inilah yang dibutuhkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan keterampilan yang baik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui kepatuhan terhadap aturan dan partisipasi dalam pembangunan nasional.
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita sekitar USD23.000–30.300, tingkat kemiskinan hanya 0,5–0,8 persen, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang merata. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi besar dan berkelanjutan pada sektor pendidikan, kesehatan, teknologi, serta pembangunan ekonomi yang inklusif.
Semua agenda tersebut memerlukan dukungan penerimaan negara yang kuat dan berkesinambungan, terutama dari sektor pajak. Berdasarkan dokumen RPJPN 2025–2045 dan Visi Indonesia Emas 2045 yang disusun Bappenas.
Ketersediaan sumber pembiayaan tersebut akan sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan peluang demografi yang sedang berlangsung. Pada masa ini jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Bonus demografi tersebut dapat menjadi modal besar menuju Indonesia Emas 2045 apabila generasi muda tidak hanya memiliki kompetensi dan keterampilan yang baik, tetapi juga memiliki karakter sebagai warga negara yang bertanggung jawab, termasuk dalam hal kepatuhan pajak.
Membangun budaya sadar pajak sejak dalam keluarga juga menjadi penting karena kapasitas penghimpunan pajak Indonesia masih perlu terus ditingkatkan. Laporan OECD tahun 2026 menunjukkan bahwa rasio pajak Indonesia pada tahun 2024 berada pada level 11,8 persen terhadap PDB, masih di bawah rata-rata kawasan Asia-Pasifik yang mencapai 19,7 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran dan kepatuhan pajak masyarakat perlu terus diperkuat agar Indonesia memiliki ruang fiskal yang lebih besar untuk membiayai pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Membangun budaya sadar pajak tidak harus menunggu seseorang menjadi wajib pajak. Proses tersebut dapat dimulai dari meja makan, ruang keluarga, dan percakapan sederhana antara orang tua dan anak.
Jika keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, maka keluarga juga dapat menjadi tempat pertama lahirnya kesadaran pajak. Dari ruang keluarga hari ini akan lahir generasi sadar pajak yang menentukan terwujud atau tidaknya Indonesia Emas 2045.
"Kesadaran pajak bukan diwariskan melalui aturan, melainkan ditanamkan melalui nilai dan keteladanan yang dimulai dari keluarga."