TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Museum Sri Aji Jayabaya Kabupaten Kediri resmi menerapkan Program Paspor Museum.
Hal ini dilakukan sebuah inovasi dari Kementerian Kebudayaan yang mengajak masyarakat mengoleksi stempel dari museum-museum yang dikunjungi di seluruh Indonesia.
Program tersebut mulai diberlakukan di Museum Sri Aji Jayabaya sejak 16 Juni 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung ke museum melalui pengalaman yang lebih interaktif.
Staf Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Ahmad Khudori mengatakan Program Paspor Museum merupakan terobosan baru yang diluncurkan Kementerian Kebudayaan untuk mendorong budaya berkunjung ke museum.
Baca juga: Tim Jibom Belum Berhasil Angkat Benda Diduga Bom yang Ditemukan Warga di Sungai Lahar Blitar
Menurutnya, kehadiran paspor tersebut membuat aktivitas wisata sejarah tidak hanya sebatas melihat koleksi benda bersejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman layaknya melakukan perjalanan ke berbagai destinasi budaya di Indonesia.
"Tujuan pembuatan Paspor Museum ini untuk membuat sensasi berkunjung menjadi lebih menarik. Program ini memang diluncurkan oleh kementerian dan termasuk program baru," katanya, Rabu (8/7/2026).
Melalui program tersebut setiap pengunjung yang memiliki Paspor Museum dapat membawa buku paspor saat berkunjung ke museum, kemudian memperoleh stempel khusus sebagai bukti kunjungan.
Stempel itu memiliki desain yang berbeda di setiap museum sehingga dapat dikoleksi sebagai catatan perjalanan atau jurnal pribadi selama mengunjungi museum di berbagai daerah.
"Pengunjung membawa buku paspor, kemudian mendapatkan stempel dari museum yang dikunjungi. Tujuannya mengumpulkan stempel dari berbagai museum sebagai jurnal pribadi, jadi tidak ada ketentuan harus mengunjungi berapa museum," jelasnya.
Ia menambahkan, desain stempel di setiap museum dibuat sesuai identitas masing-masing, namun tetap mengikuti standar ukuran dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti program tersebut, buku Paspor Museum saat ini sudah dapat diperoleh di Gramedia Kediri.
Harga normal buku Paspor Museum sekitar rp 89 ribu. Namun selama masa promosi hingga akhir Juli 2026, masyarakat dapat membelinya dengan harga sekitar rp 84 ribu. Paspor tersebut juga dapat digunakan tanpa batas waktu sehingga pengunjung bebas mengumpulkan stempel dari museum mana pun sesuai keinginan.
Meski telah berjalan hampir satu bulan, peminat Program Paspor Museum di Museum Sri Aji Jayabaya masih relatif terbatas.
Khudori menyebut hingga saat ini baru sekitar lima orang yang datang membawa Paspor Museum untuk mendapatkan stempel resmi Museum Sri Aji Jayabaya. Sebagian besar berasal dari wilayah Kabupaten Kediri dan kawasan Kampung Inggris Pare.
Saat ini Museum Sri Aji Jayabaya sendiri menyimpan sekitar 300 koleksi benda bersejarah yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan maupun pelajar yang ingin mempelajari sejarah dan kebudayaan Kediri.
Di sisi lain, jumlah kunjungan ke Museum Sri Aji Jayabaya selama masa libur sekolah justru mengalami penurunan dibandingkan periode setelah ujian semester. Menurut Khudori, kondisi tersebut terjadi karena rombongan sekolah yang biasanya mendominasi kunjungan edukasi belum kembali melakukan kegiatan belajar di luar kelas.
Melalui Program Paspor Museum, Disparbud Kabupaten Kediri berharap minat masyarakat untuk mengunjungi museum semakin meningkat. Selain mengenal sejarah daerah, pengunjung juga dapat menikmati pengalaman baru dengan mengoleksi stempel dari museum-museum di berbagai wilayah Indonesia sebagai dokumentasi perjalanan budaya mereka.
"Kalau selama liburan ini justru agak menurun karena yang datang bukan rombongan sekolah, melainkan pengunjung pribadi. Biasanya setelah ujian semester kunjungan sangat ramai karena banyak kegiatan edukasi dari sekolah," tambahnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)