Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Barat melakukan pemeriksaan awal lokasi yang diduga sebagai tempat rekrutmen lowongan kerja bodong kawasan ruko Pangeran Tubagus Angke, Rabu.
Kasudin Nakertransgi Jakbar, Faradisa Saforda mengatakan, dalam pemeriksaan tersebut, pihaknya belum dapat menemukan indikasi loker bodong lantaran minimnya informasi mengenai detail nama dan alamat perusahaan dalam informasi awal yang beredar.
"Bukan kayak salah alamat. Kita kan mencari alamat yang pastinya nih. Karena di berita yang dirilis itu tidak ada nama jelas dari perusahaan. Jadi kita harus cari satu-satu dong di wilayah itu, yang mendekati, yang fotonya mirip-mirip dengan lowongan yang ditawarkan," kata Faradisa saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Alih-alih menemukan perusahaan yang diduga menyebar loker bodong, yakni PT Kemas Paket Andalan Express, sebagaimana dalam data undangan yang baru saja dikirim oleh korban, Tim Sudin Nakertransgi malah mendatangi perusahaan lain di kompleks ruko yang sama.
"Pemeriksaan kita bukan ke sini (PT Kemas Paket) karena kita tidak tahu. Kita (tadi) masuk ke perusahaan lain, bukan PT Kemas Paket ini. Jadi lokusnya bukan di situ," jelas dia.
Kendati pemeriksaan awal belum membuahkan hasil, pihaknya akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan lanjutan itu pun telah dibekali dengan informasi yang lebih konkret dari para pelamar alias korban dalam dugaan praktik loker bodong ini.
"Akan segera ditindaklanjuti," kata Faradisa.
Sebelumnya, praktik dugaan penipuan berkedok rekrutmen lowongan kerja palsu kembali mencuat, setelah memakan beberapa korban di wilayah Jakarta Barat.
Modus yang digunakan pelaku adalah mengundang para pelamar untuk interview kerja, lalu menjanjikan mereka dengan fasilitas menggiurkan. Namun, pelamar kerja dimintai sejumlah uang sebelum mulai bekerja.
Salah satu pelamar yang menjadi korban adalah pria bernama Jieyes Mishael Panjaitan (18), yang merasa ditipu usai melakukan proses pembayaran sebesar Rp2,5 juta.
Pria yang jauh-jauh datang Purwakarta itu awalnya mendapatkan informasi lowongan kerja dari salah satu platform sekitar seminggu yang lalu.
"Enggak lama yang punya PT-nya teh nge-chat, ngajak interview. Saya ke sinilah tadi. Sempet nunggu lama, dipanggillah ke atas," kata Jieyes.
Saat proses interview untuk bagian operator gudang itu, Mishael mengungkapkan, dirinya diminta yang sebesar Rp2,5 juta dengan dalih untuk biaya awal.
Dalam hal ini, biaya tersebut untuk Medical Check Up (MCU) dan juga biaya lainnya seperti seragam.
"Habis itu teh ditransferlah sama abang ipar saya Rp 2,5 juta. Habis itu difotoin sama bikin surat perjanjian. Tapi enggak boleh dibaca. Jadi kayak enggak dipaksa buat enggak baca sih, tapi kayak diburu-buru teh," ungkapnya.
Mishael pun menandantangani surat perjanjian tersebut setelah proses pembayaran atau transaksi telah berhasil dilakukan.
Namun, setelah pembayaran hingga tanda tangan, proses MCU dan juga keperluan seragam tersebut ternyata tidak langsung dilakukan.
Mishael mengaku dirinya justru disuruh pulang setelah proses transaksi selesai tanpa diberi kepastian kapan proses MCU dilakukan hingga lokasi dan waktu mulai bekerja.
"Ya pas pulang teh, ada yang janggal, katanya mau ngecek kesehatan sama ngambil seragam, tapi enggak dikasih apa-apa. Malah disuruh pulang," tuturnya.
Mishael yang merasa janggal lantas kembali ke perusahaan tempat yang disebut menjadi rekrutmen yang berada di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Tiba di lokasi, Mishael malah disuruh pergi oleh Satpam.
"Nah sama satpam-nya teh kayak enggak boleh masuk. Katanya buat apa masuk? Alasan saya teh pengen nanyain alamat, sama dia ditahan-tahan," ungkap dia.
Karena merasa telah ditipu, Mishael lantas melaporkan hal itu kepada keluarganya.





