TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebakaran TPA Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang kembali mengingatkan pentingnya melindungi keluarga dari paparan polusi udara.
Selain menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar rumah, ternyata ada langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam jangka panjang, yakni memperbanyak pohon dan tanaman di sekitar rumah.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), mengatakan tanaman memiliki manfaat lebih dari sekadar mempercantik lingkungan.
Menurut dr. Cynthia, berbagai penelitian menunjukkan pepohonan dapat berfungsi sebagai penghalang alami terhadap polutan yang berasal dari luar rumah.
Baca juga: BNPB: Titik Api di TPA Jatiwaringin Tak Terlihat Lagi tapi Masih Ada Asap dari Tumpukan Sampah
Tanaman membantu menyaring udara sehingga paparan polusi yang masuk ke lingkungan tempat tinggal dapat berkurang.
"Sebetulnya tanaman itu sangat membantu untuk filter-filter polusi. Jadi banyak sekali penelitian saat ini yang memaparkan bahwa kalau kita menanam pohon di area yang sudah diberi jarak tertentu dari rumah kita, itu bisa jadi barier sebetulnya terhadap polutan,"ungkapnya pada media briefing virtual, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, tanaman bahkan memiliki kemampuan membantu mendegradasi sejumlah polutan, termasuk beberapa senyawa logam yang mencemari udara.
Menurut dr. Cynthia, keberadaan pepohonan sangat dianjurkan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sumber polusi, termasuk kawasan dekat tempat pembuangan sampah.
Meski bukan menjadi solusi utama saat kebakaran terjadi, keberadaan tanaman dapat menjadi perlindungan tambahan dalam jangka panjang.
Dr. Cynthia juga menyarankan masyarakat mempertimbangkan kualitas lingkungan saat memilih tempat tinggal.
Lingkungan yang memiliki banyak pepohonan dinilai lebih baik karena kadar oksigen lebih tinggi dan paparan polusi relatif lebih rendah.
"Pilihlah di daerah yang rimbun mungkin ya, karena di situ oksigennya lebih banyak dan pasti polusinya, polutannya akan lebih sulit untuk tembus ke daerah tersebut,"sarannya.
Ia menegaskan, menjaga kualitas udara tidak hanya dilakukan saat terjadi bencana, tetapi juga melalui upaya sederhana yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar rumah.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)