TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Antrean kendaraan pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Mamuju Tengah masih terjadi. Kondisi ini membuat petani mengaku kesulitan menjual hasil panen dan harus menunda proses panen di kebun.
Salah seorang petani sawit di Desa Salupangkang IV, Kecamatan Topoyo, Bahri, mengatakan antrean yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Menurutnya, meski tumpukan TBS di sejumlah tempat pembelian mulai berkurang, kondisi tersebut bukan karena distribusi sudah kembali normal.
Baca juga: Korban Pencabulan di Pasangkayu Alami Trauma, Polisi Masih Buru Pelaku dan Minta Bantuan Warga
Baca juga: Pemprov Ukur Lahan 5 Sekolah dan 1 Taman Budaya di Polman Pastikan Legalitas Aset Daerah
"Yah, ujungnya petani yang berdampak. Panen kami terus ditunda," kata Bahri kepada Tribun-Sulbar.com, Kamis (9/7/2026).
Bahri menjelaskan, harga TBS di tingkat pengepul saat ini berada di kisaran Rp2.150 hingga Rp2.300 per kilogram. Namun, selisih harga dengan tingkat pabrik masih cukup tinggi, yakni sekitar Rp500 hingga Rp680 per kilogram.
Ia menilai kondisi tersebut semakin membebani petani, terutama ketika panen harus ditunda akibat antrean pengiriman yang belum teratasi.
"Yang bikin rugi itu karena panen ditunda, apalagi perbedaan harga di pabrik dengan kita ini 500 sampai 680 rupiah. Itu sudah sangat memberatkan," ujarnya.
Bahri mengaku kerugian yang dialami petani sejak antrean TBS terjadi sudah sulit dihitung.
"Sudah tidak terhitung kerugiannya," katanya.
Ia berharap kondisi tersebut segera mendapat perhatian sehingga aktivitas panen dan distribusi TBS dapat kembali berjalan normal.
"Semoga tidak terlalu lama seperti ini keadaannya," ucap Bahri.
Ia juga mempertanyakan mengapa persoalan antrean pengangkutan TBS bisa berlangsung cukup lama tanpa adanya solusi yang dirasakan petani.
"Saya heran, kondisi seperti ini kenapa bisa terlalu lama," tuturnya.(*)