Enam Roda Hias Bertema Sunda Kuno hingga Flora Fauna Siap Meriahkan Asia Africa Festival
Ichsan July 09, 2026 03:29 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Persiapan menuju Asia Africa Festival (AAF) 2026 terus dimatangkan meski waktu yang tersedia terbilang singkat. 

Hanya sekitar satu bulan sejak kepastian pelaksanaan diterima, Yayasan Bandung Culture bersama ratusan talenta budaya harus berpacu dengan waktu untuk menyiapkan kostum, properti, hingga roda hias yang akan memeriahkan karnaval budaya di kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung.

Ketua Yayasan Bandung Culture, Hilman Pirmansyah, mengatakan secara keseluruhan persiapan telah mencapai sekitar 90 persen. 

Pekerjaan yang tersisa saat ini lebih banyak berupa penyempurnaan kostum maupun properti yang mengalami kerusakan.

Ia mengatakan, sebagian kostum baru dibuat dengan mengusung konsep ramah lingkungan melalui pemanfaatan berbagai material daur ulang. 

Mulai dari kardus hingga sampah plastik diolah menjadi kostum karnaval yang tetap menampilkan kesan megah.

“Memang kita memanfaatkan bahan daur ulang. Ada yang dari bahan kardus bagian dalam, kemudian ada yang dari sampah plastik dan sebagainya,” ujar Hilman.

Selain membuat kostum baru, tim kreatif juga memanfaatkan koleksi kostum yang telah dimiliki dari penyelenggaraan sebelumnya. 

Namun, kostum tersebut tidak ditampilkan begitu saja, melainkan dipadukan kembali dengan berbagai ornamen agar menghadirkan tampilan berbeda.

“Kita menggunakan kostum yang kemarin kita gunakan, cuma kita padu-padankan, kita variasikan. Jadi kita menghindari kesan penonton melihat kostum yang sama. Kesannya setiap tampil selalu baru,” ucapnya.

Hilman mengatakan, dari keseluruhan persiapan yang telah berjalan, sekitar 10 persen pekerjaan yang tersisa hanya berupa perbaikan-perbaikan kecil.

“Kenapa baru 90 persen? Karena yang 10 persen ini memang kita hanya memperbaiki yang misalnya patah, rusak dan sebagainya,” ucapnya.

Salah satu pembaruan yang akan dihadirkan pada Asia Africa Festival tahun ini adalah tema Bandung Kota Kembang. 

Tema tersebut diwujudkan melalui penambahan kostum-kostum bunga yang terinspirasi dari identitas Kota Bandung pada masa lalu.

“Kita akan mengangkat tema Bandung Kota Kembang. Jadi memang tahun ini ada penambahan kostum baru berupa kostum-kostum bunga yang menjadi ciri khas ikon Kota Bandung zaman dulu,” katanya.

Tidak hanya kostum, Yayasan Bandung Culture juga menambah jumlah roda hias yang akan tampil dalam parade budaya. 

Jika pada penyelenggaraan sebelumnya hanya menghadirkan dua roda hias, tahun ini jumlahnya bertambah menjadi enam.

Menurut Hilman, penambahan tersebut dilakukan setelah melihat besarnya antusiasme masyarakat terhadap penampilan roda hias pada Asia Africa Festival tahun lalu.

“Tahun kemarin kita sudah memakai dua roda hias. Alhamdulillah antusias penonton luar biasa. Memang kalau kostum saja mungkin bagus dan mewah, tetapi ketika ikonnya tidak ada memang rasanya kurang,” ujarnya.

Dua roda hias tahun lalu mengangkat tema Tari Merak dan Kerajaan Sunda Kuno. Sementara pada tahun ini, tema yang dihadirkan dibuat lebih beragam.

“Sekarang kita menambah menjadi enam tema. Ada Sunda Kuno yang sedang kita munculkan kembali, kemudian ada tema kerajaan bernuansa gold atau emas, ada yang bernuansa putih dengan tema kupu-kupu, kemudian ada tema animal atau fauna dan juga flora. Jadi enam roda ini merupakan perpaduan berbagai unsur yang menjadi ciri khas Kota Bandung dan Indonesia pada umumnya,” katanya.

Enam roda hias tersebut nantinya tidak dibiarkan kosong. Berbagai duta budaya dan pemenang ajang pageant akan ikut menaikinya selama karnaval berlangsung.

“Roda dorong itu memang sudah di-booking para talent. Kita berkolaborasi dengan berbagai duta seperti Miss Bintang Indonesia, Duta Kebudayaan, Duta Seni, Duta Batik dan sebagainya. Mereka akan naik langsung menggunakan selempang dan crown kebanggaan mereka sambil membawa misi budaya masing-masing,” ucapnya.

Jumlah peserta yang akan diturunkan tahun ini mencapai sekitar 150 orang. 

Menurutnya, angka tersebut memang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai sekitar 200 peserta. 

“Tahun kemarin kita menurunkan sekitar 200 orang, sekarang menjadi 150. Memang berkurang supaya tidak terlalu keteteran. Tetapi tidak mengurangi kualitas karena sekarang jumlah roda dorong bertambah dan antusias para talent juga luar biasa,” katanya.

Hilman mengakui tantangan terbesar yang dihadapi tahun ini adalah keterbatasan waktu. Hingga mendekati pelaksanaan acara, proses pengerjaan roda hias masih terus dilakukan.

“Sebenarnya tantangannya waktu saja. Kita sekarang masih berkutat di proses las dan sebagainya. Mudah-mudahan semuanya keburu.Proses pengecatan ulang roda hias masih dilakukan hingga malam hari agar seluruh properti tampil maksimal saat parade berlangsung. Untuk roda dorong kemarin kita cat ulang memang sampai malam,” katanya.

Yayasan Bandung Culture sendiri telah menjadi bagian dari Asia Africa Festival sejak 2015. 

Hilman mengatakan, sejak pertama kali mengikuti kegiatan tersebut, pihaknya tidak pernah absen berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan.

Menurutnya, pada masa-masa awal penyelenggaraan, suasana Asia Africa Festival terasa lebih meriah karena banyak delegasi dari berbagai negara yang ikut langsung dalam parade budaya.

“Kalau dulu lebih meriah lagi karena yang tampil di karnaval adalah peserta asli dari luar negeri. Itu yang menjadi ciri khas atau ikon Festival Asia Afrika,” katanya.

Selain menjadi ajang promosi budaya, Hilman menilai penyelenggaraan karnaval juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. 

Banyak pelaku usaha dan pekerja kreatif yang ikut memperoleh manfaat, mulai dari penjahit, pembuat payet, tukang las, pengecat, pembuat sepatu hingga perias wajah.

“Dengan adanya kegiatan karnaval ini para pengrajin bisa kecipratan rezeki. Mulai dari penjahit, tukang payet, tukang cat, tukang las, tukang sepatu dan sebagainya. Saat show juga tukang make-up kebayang harus menangani sekitar 150 talent,” ujarnya.

Sementara itu parade berlangsung pada pagi hari, sebagian besar peserta memilih menginap di hotel-hotel sekitar kawasan Jalan Asia Afrika agar dapat memulai proses rias sejak dini hari.

“Mereka harus make-up sekitar jam dua atau jam tiga subuh karena acaranya pagi. Mereka menginap di sekitar Savoy Homann. Jadi perputaran ekonomi dengan adanya kegiatan karnaval ini luar biasa,” kata Hilman.

Hilman juga mengapresiasi adanya peningkatan kualitas penyelenggaraan tahun ini melalui proses kurasi peserta yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung bersama tiga dosen dari ISBI Bandung.

Meski demikian, ia berharap ke depan Asia Africa Festival dapat kembali menghadirkan lebih banyak delegasi dari negara-negara Asia dan Afrika agar identitas internasional festival tetap terjaga.

“Pada dasarnya peserta lokal selalu siap mendukung. Tetapi ikon Asia Afrika itu memang peserta luar negeri. Mudah-mudahan ke depan pemerintah bisa mengundang langsung para duta besar untuk mengirimkan delegasinya mengikuti karnaval. Itu yang membedakan Asia Africa Festival dengan karnaval lainnya dan jangan sampai identitas itu hilang,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.