Ali Khamenei akan Dimakamkan Hari Ini, Ribuan Pejabat Asing akan Hadir di Mashhad Iran
Whiesa Daniswara July 09, 2026 04:36 PM

TRIBUNNEWS.COM - Ribuan tamu asing, termasuk pejabat tinggi dan delegasi resmi dari puluhan negara, dipastikan menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Kota Mashhad, Provinsi Khorasan Razavi pada Kamis, 9 Juli 2026.

Juru bicara panitia upacara pemakaman di Khorasan Razavi menyampaikan bahwa lebih dari 4.700 tamu asing dari 27 negara telah tiba di Mashhad untuk mengikuti rangkaian acara penghormatan terakhir bagi Khamenei.

Kehadiran para tamu tersebut menjadikan prosesi pemakaman ini sebagai salah satu acara kenegaraan terbesar yang pernah digelar Iran.

Selain tamu mancanegara, pemerintah provinsi juga memastikan sejumlah pejabat tinggi Iran dari berbagai tingkatan nasional akan menghadiri pemakaman.

Namun, identitas para pejabat tersebut tidak dipublikasikan demi alasan keamanan.

Wakil Direktur Bidang Manajemen dan Pengembangan Sumber Daya Provinsi Khorasan Razavi, Ehsan Yousefi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk menyambut delegasi internasional dan tamu resmi yang datang dari berbagai negara.

Sementara itu, Wakil Koordinator Urusan Sipil Kegubernuran Khorasan Razavi, Alireza Ghamati, menjelaskan bahwa rangkaian prosesi akan dimulai sejak jenazah Ali Khamenei tiba di Mashhad.

Seluruh upacara pemakaman ditargetkan selesai paling lambat Kamis malam sesuai jadwal yang telah ditetapkan panitia.

Pemerintah Provinsi Khorasan Razavi mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mendukung kelancaran acara.

Lebih dari 800 pos penampungan diaktifkan untuk melayani para pelayat, sementara sekitar 100.000 relawan dan petugas dikerahkan untuk membantu kebutuhan akomodasi, konsumsi, hingga pelayanan umum.

Baca juga: 3 Kapal Sukses Lewati Selat Hormuz di Tengah Serangan Iran, Pertamina Salah Satunya

Sebanyak 957 tenaga teknis dan profesional juga disiagakan untuk mendukung berbagai aspek penyelenggaraan.

Partisipasi masyarakat sipil juga cukup besar. Lebih dari 50 partai politik dan organisasi kemasyarakatan di provinsi tersebut dilibatkan dalam proses koordinasi.

Hingga sehari sebelum pelaksanaan acara utama, sekitar 1.000 staf partai dari berbagai wilayah Iran telah tiba di Mashhad untuk membantu penyelenggaraan, lapor Al Arabiya.

Kalangan Akademisi Hadiri Pemakaman Ali Khamenei

Kalangan akademisi juga akan mengambil bagian dalam prosesi penghormatan terakhir.

Kementerian Sains Iran mengoordinasikan kehadiran mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas di wilayah timur negara itu.

Tercatat sekitar 22.000 orang telah mendaftar untuk mengikuti acara, dengan sekitar 13.000 di antaranya telah tiba di Mashhad.

Universitas-universitas di Mashhad turut menyediakan fasilitas penginapan yang mampu menampung sekitar 50.000 mahasiswa dan akademisi.

Selain itu, sebuah acara budaya berskala nasional dijadwalkan berlangsung di Ferdowsi University of Mashhad sebagai bagian dari rangkaian penghormatan terakhir, yang juga akan dihadiri Menteri Sains Iran.

Panitia juga mengonfirmasi bahwa sejumlah negara tetangga, termasuk Irak, Pakistan, dan Afghanistan, akan mengirimkan delegasi untuk menghadiri prosesi pemakaman di Mashhad.

Sebelum dibawa ke Iran, jenazah Ali Khamenei terlebih dahulu mendapat penghormatan terakhir di Irak.

Latar Belakang Perang AS-Israel VS Iran

Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran. Operasi militer tersebut dilakukan setelah perundingan mengenai program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya dimanfaatkan untuk tujuan damai, seperti penelitian ilmiah dan pengembangan energi sipil.

Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Di tengah situasi yang masih diliputi ketegangan, kepemimpinan Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Pemerintah Iran juga memperketat pengamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.

Konflik kemudian meluas ketika kelompok Hizbullah membuka front pertempuran dari Lebanon. Israel merespons dengan meningkatkan intensitas serangan udara ke Beirut dan sejumlah wilayah di Lebanon selatan.

Setelah hampir 40 hari pertempuran, Pakistan berhasil memediasi kedua pihak hingga tercapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka kembali jalur komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran.

Proses diplomasi berlanjut melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) secara terpisah pada 17 Juni 2026. Presiden AS, Donald Trump, menandatangani dokumen itu di Paris, Prancis, sedangkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menandatanganinya di Teheran.

Sebelumnya, pemerintah Qatar mengumumkan bahwa putaran lanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat akan digelar setelah seluruh rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei yang berlangsung pada 4–9 Juli 2026 berakhir.

Namun, di tengah proses tersebut, ketegangan kembali meningkat. Pada Selasa (7/7/2026) waktu Iran, Amerika Serikat melancarkan serangan baru yang diklaim menyasar lebih dari 80 lokasi di berbagai wilayah Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal tanker berbendera Qatar dan Arab Saudi.

Selain melancarkan serangan militer, Washington juga mencabut pengecualian yang sebelumnya mengizinkan Iran mengekspor minyak berdasarkan nota kesepahaman yang telah disepakati.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke 85 instalasi militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain dan Kuwait.

Sementara itu, pada hari ini jenazah Ali Khamenei bersama empat anggota keluarganya berada di Irak untuk menjalani rangkaian penghormatan terakhir.

Setelah prosesi tersebut selesai, jenazah akan diterbangkan kembali ke Iran untuk dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Amerika Serikat mengklaim telah menghantam sekitar 90 sasaran pada malam kedua serangan militernya terhadap Iran.

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di wilayah pesisir selatan negara itu, termasuk di beberapa pulau strategis yang dikuasai Teheran di kawasan Teluk Persia.

Di sisi lain, sejumlah negara Teluk melaporkan mendapat serangan balasan dari Iran. Pemerintah Iran menyatakan operasi tersebut menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Qatar, Kuwait, dan Bahrain sebagai respons atas aksi militer Washington.

Ketua tim negosiasi Iran dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Amerika Serikat belum memahami bahwa kebijakan intimidasi dan pelanggaran komitmen akan menimbulkan konsekuensi.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran kini ingin kembali ke meja perundingan, meski ia masih meragukan keseriusan Teheran.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan komentarnya sehari sebelumnya yang menyebut pembicaraan dengan Iran sebagai "buang-buang waktu".

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.