Wali Kota Yogyakarta Respons Kekhawatiran Pedagang Malioboro: Kami Carikan Solusi Bertahap
Yoseph Hary W July 09, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, merespons keresahan dan kekhawatiran para pedagang Malioboro terkait dampak kebijakan full pedestrian yang akan diterapkan akhir 2026. 

Pedagang khawatir kebijakan itu membuat pengunjung sepi. Konsekuensi full pedestrian di Malioboro mereka khawatirkan membuat area parkir jauh dari keberadaan pedagang. 

Tidak gegabah

Kecemasan para pedagang pun direspons Wali Kota Yogyakarta. Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tidak akan gegabah.

Menurutnya, dalam mengambil sebuah keputusan, eksekutif bakal merumuskan regulasi secara cermat, khususnya mengenai rekayasa lalu lintas di sirip-sirip jalan Malioboro.

​"Kami akan rapat secara intens dengan Bu Sekda (DIY) dan jajaran di provinsi untuk secara bertahap menyelesaikan ruas demi ruas. Misal, ini sirip yang paling utara mau gimana, sirip yang sebelah tengah mau gimana. Secara bertahap akan dicarikan solusi seperti apa jalannya," ujarnya, Kamis (9/7/26).

​Mengenai keberadaan portal yang belakangan mulai terpasang di sejumlah sirip jalan Malioboro, Hasto menjelaskan bahwa hal itu barulah langkah taktis awal.

Portal tersebut disiapkan sebagai infrastruktur penunjang supaya pemerintah tidak melulu mengandalkan personel lapangan jika sewaktu-waktu pembatasan kendaraan diperlukan.

​Namun, ia menggarisbawahi, bahwa pemasangan portal bukan berarti penutupan total akan dilakukan dalam waktu dekat tanpa adanya aturan yang jelas.

"Tentang kapan menutupnya, bagaimana regulasinya, kan setelah nanti kita diskusi. Aturan-aturan kayak begitu kan (harus) mengakomodir, karena terlalu banyak pelaku usaha atau warga yang tinggal di situ," imbuhnya.

Komitmen pemkot agar omzet pedagang tidak turun

​Hasto pun memahami betul ketakutan para pedagang terkait potensi penurunan omzet jika nantinya akses kendaraan pribadi bermotor di Malioboro semakin diperketat.

Oleh sebab itu, Pemkot Yogyakarta berkomitmen untuk membedakan perlakuan, serta regulasi di setiap sirip jalan berdasarkan karakteristik wilayahnya.

​Ia mencontohkan, bisa saja ada skenario di mana sebuah sirip jalan hanya ditutup di sisi timur, sementara sisi barat tetap dibuka untuk akses masuk demi mengakomodir mobilitas.

​Termasuk, isu krusial mengenai ketersediaan lahan parkir dan ruang putar balik kendaraan yang menjadi keluhan utama bagi warga dan pedagang dewasa ini.

​"Iya tentu, (rekayasa) putar balik dan area parkir. Itu maksud saya yang harus kita detailkan. Sekarang belum ada (pemetaan final). Jadi, saya nanti akan rapat tahap demi tahap, ya, menyelesaikan tahap demi tahap," pungkas Wali Kota. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.