Makna Sumpit Dayak Terungkap, Dari Senjata Berburu hingga Olahraga Tradisional di Sanggau
Maudy Asri Gita Utami July 09, 2026 07:44 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID-  Di balik kemeriahan Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII Kabupaten Sanggau Tahun 2026, terdapat satu perlombaan yang tidak hanya menguji ketepatan sasaran, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya masyarakat Dayak. 

Lomba menyumpit yang menjadi salah satu agenda utama dalam perhelatan budaya tersebut menjadi media untuk memperkenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi muda sekaligus menjaga agar tradisi yang telah diwariskan turun-temurun tetap lestari.

Koordinator Lomba Menyumpit, Samuel Marwan, menjelaskan bahwa sumpit bukan sekadar alat berburu ataupun perlengkapan olahraga tradisional. 

Bagi masyarakat Dayak, sumpit merupakan simbol yang sarat makna dan menggambarkan karakter luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

Menurutnya, sumpit melambangkan kekuatan, keberanian, serta ketepatan dalam mengambil keputusan. 

Sebagai senjata yang digunakan secara senyap, penggunaannya membutuhkan konsentrasi tinggi, kesabaran, pengendalian diri, serta ketenangan batin agar setiap bidikan dapat mencapai sasaran dengan tepat.

• Lomba Masakan Tradisional Gawai Dayak Sanggau 2026, DAD Kapuas Raih Juara Pertama

"Sumpit Dayak melambangkan kekuatan, keberanian, dan ketepatan. Sebagai senjata pembunuh senyap, penggunaannya menuntut fokus, kesabaran, dan ketenangan batin," ujar Samuel Marwan.

Marwan yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) Kabupaten Sanggau mengatakan bahwa dalam pandangan masyarakat Dayak, filosofi menyumpit mencerminkan harapan agar setiap langkah kehidupan dijalani dengan tujuan yang jelas, penuh perhitungan, dan mampu mencapai sasaran yang diinginkan.

Tidak hanya memiliki nilai filosofis, sumpit juga menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. 

Pada masa lampau, alat tersebut menjadi salah satu simbol perjuangan masyarakat Dayak dalam menghadapi penjajah. 

Kemampuan menggunakan sumpit secara senyap menjadikannya senjata gerilya yang efektif ketika mempertahankan wilayah dan melindungi masyarakat.

Secara fisik, sumpit tradisional umumnya memiliki panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter dan dibuat dari kayu keras seperti kayu ulin maupun meranti. 

Pada bagian ujungnya biasanya dipasang mata tombak yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, sementara peluru sumpit atau lajak pada masa lalu diberi racun alami yang berasal dari getah tumbuhan untuk melumpuhkan hewan buruan.

Marwan menjelaskan bahwa penggunaan sumpit mengajarkan keseimbangan antara kemampuan fisik dan ketajaman insting. 

Seorang penyumpit harus mampu mengatur teknik pernapasan, menjaga kestabilan tubuh, serta memiliki naluri yang tajam ketika membidik sasaran, sebagaimana yang dilakukan masyarakat Dayak saat berburu di hutan.

Ia menambahkan, masih banyak aspek menarik yang dapat dipelajari dari tradisi menyumpit. 

Mulai dari evolusi sumpit yang dahulu digunakan sebagai alat berburu dan senjata perang hingga kini berkembang menjadi cabang olahraga tradisional, sejarah perjuangan masyarakat Dayak, sampai teknik pembuatan sumpit dari kayu pilihan beserta pengetahuan tradisional mengenai penggunaan bahan-bahan alami pada masa lampau.

Sementara itu, pelaksanaan lomba menyumpit dalam rangka Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXII tahun ini mendapat sambutan yang sangat positif. 

• Hadiri Pentahbisan Empat Imam Baru di Simpang Hulu, Bupati Alex Ajak Perkuat Sinergi Bangun Ketapang

Samuel Marwan mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ia berharap olahraga tradisional menyumpit semakin dikenal luas dan mampu menarik minat generasi muda agar terus mempelajari sekaligus melestarikan budaya Dayak.

"Saya berharap ke depannya lebih ramai lagi, karena menyumpit ini bukan hanya dulu digunakan orang tua kita untuk berburu, tetapi sekarang menjadi kebudayaan yang harus dijaga kelestariannya," katanya.

Marwan menyebutkan bahwa pada pelaksanaan tahun 2026 jumlah peserta mencapai 76 orang, menjadikannya sebagai penyelenggaraan dengan jumlah peserta terbanyak selama lomba menyumpit digelar dalam rangkaian Gawai Dayak Kabupaten Sanggau.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dewan Adat Dayak beserta seluruh kontingen yang telah berpartisipasi dan ikut mendukung pelestarian olahraga tradisional tersebut.

Dalam kompetisi tahun ini, panitia mempertandingkan lima kategori, yakni nomor perorangan putra, perorangan putri, bull's-eye putra, bull's-eye putri, serta beregu campuran putra dan putri. Seluruh kategori dirancang untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada peserta dari berbagai kontingen menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Melalui penyelenggaraan lomba menyumpit di Gawai Adat Dayak Nosu Minu Podi XXII, panitia berharap olahraga tradisional ini tidak hanya dipertahankan sebagai perlombaan tahunan, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya masyarakat Dayak di Kabupaten Sanggau. 

Dengan terus memperkenalkan nilai sejarah, filosofi, dan teknik menyumpit kepada generasi muda, warisan leluhur tersebut diharapkan tetap hidup serta menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat di tengah perkembangan zaman. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.