TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tidak banyak pengurus lingkungan yang mampu bertahan mengabdi selama puluhan tahun. Abdul Kadir menjadi salah satunya.
Setelah tiga periode menjabat Ketua RT, ia kini kembali dipercaya memimpin RW 007 Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini.
Jabatan tersebut merupakan periode ketiganya sebagai Ketua RW setelah dilantik Wali Kota Makassar pada 29 Desember 2025.
"Dari sejak Pak Ilham wali kota saya sudah jadi RT," ujar Abdul Kadir kepada Tribun, Kamis (9/7/2026).
Kepercayaan yang terus diberikan warga bukan tanpa alasan.
Selama bertahun-tahun, Abdul Kadir konsisten membangun lingkungan melalui berbagai program, mulai dari bank sampah, urban farming hingga pengelolaan sampah organik.
Abdul Kadir lahir di Konrokombang, Kabupaten Gowa, pada 1 Januari 1964. Ia merupakan alumnus MAN Model Negeri 2 Makassar.
Sebelum mengabdikan diri sebagai pengurus lingkungan, ia pernah bekerja di sebuah toko pakaian di kawasan Jalan Pasar Ikan, Makassar.
Namun pada 1999, ia memutuskan berhenti bekerja dan memilih fokus mengabdi kepada masyarakat sekaligus menekuni hobinya bercocok tanam.
Hingga kini, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurus lingkungan dan merawat tanaman.
Kegemarannya berkebun telah tumbuh sejak kecil. Ia dibesarkan di keluarga petani di Kampung Konrokombang, Malino, Kabupaten Gowa.
"Saya ini hobi menanam karena memang adalah petani, sejak dari Gowa dulu," katanya.
Wilayah RW 007 yang dipimpinnya terdiri atas tiga RT dengan sekitar 107 kepala keluarga.
Salah satu program yang paling lama dikembangkannya adalah Bank Sampah Longgar (Lorong Garden) yang berdiri sejak 2015.
Gudang bank sampah memanfaatkan rumah kosong miliknya yang disulap menjadi tempat pengumpulan sampah anorganik dari warga.
Pada masa jayanya, jumlah nasabah bank sampah mencapai sekitar 200 orang. Namun setelah masa transisi pemerintahan, jumlah tersebut sempat menurun hingga hanya tersisa puluhan nasabah.
Kini aktivitas bank sampah mulai kembali bergairah.
Pada penimbangan terakhir berhasil dikumpulkan sekitar 100 kilogram botol plastik, 100 kilogram kardus, 250 botol kaca, sekitar 30 kilogram rak telur, serta tiga karung plastik HD dengan berat sekitar 17 kilogram. Seluruhnya merupakan hasil pengumpulan selama kurang lebih dua bulan.
Abdul Kadir tidak hanya menunggu warga menyetor sampah. Hampir setiap pagi ia berjalan menyusuri lorong sambil membawa karung untuk mengumpulkan botol plastik dan barang bekas dari rumah-rumah warga.
"Yang penting wilayah bersih. Kalau ada nilai ekonominya, itu menjadi nilai tambah," ujarnya.
Semangat yang sama juga diterapkannya pada program urban farming. Di samping rumahnya berdiri kebun produktif yang memanfaatkan lahan kosong.
Di lokasi tersebut terdapat rumah kaca tanaman obat keluarga (TOGA), kebun bibit yang dikelola Kelompok Wanita Tani beranggotakan sekitar 35 orang, serta area pembibitan sayuran.
Berbagai jenis tanaman tumbuh subur, di antaranya kacang panjang, cabai, okra, tomat, terong, mentimun, gambas, paria hingga anggur. Sementara pembibitan diisi tanaman sawi, pakcoy dan daun bawang.
"Jadi sebelum ada program urban farming, saya sudah lama berkebun. Alhamdulillah sekarang lebih baik lagi karena dapat dukungan pemerintah," katanya.
Panen terakhir dilakukan sekitar sebulan lalu. Hasil panen berupa kacang panjang, cabai dan okra kemudian dibagikan kepada warga sekitar.
"Hasilnya itu kita bagi-bagikan ke warga. Lumayan bisa dinikmati," ujarnya.
Tidak hanya itu, Abdul Kadir juga mengembangkan pengolahan sampah organik. Ia memiliki empat unit komposter. Selain itu, ia membuat lima komposter susun dari kaleng bekas.
Konsistensi pengabdiannya telah menorehkan banyak penghargaan.
Selama mengabdi sebagai Ketua RT hingga kini memasuki periode ketiga sebagai Ketua RW, Abdul Kadir telah meraih tanda jasa.
Saat masih menjabat Ketua RT, ia berhasil meraih penghargaan RT Terbaik dan Juara Lomba Lorong tingkat Kecamatan Rappocini.
Sementara Bank Sampah Longgar memperoleh penghargaan Green and Clean kategori Silver dan White, serta penghargaan Zero Sampah atas pengelolaan kompos dari Pemerintah Kecamatan Rappocini.
Meski telah mengoleksi berbagai penghargaan, Abdul Kadir mengaku masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah.
Ia berharap mendapat bantuan untuk memperbaiki gudang bank sampah yang mulai bocor, menyediakan timbangan duduk, menambah komposter, serta melakukan penimbunan lahan agar area urban farming yang masih berupa rawa bisa diperluas.
"Kami sedang menyusun proposal agar mendapat bantuan dari pemerintah kota, karena memang seperti itu syaratnya," katanya.
Bagi Abdul Kadir, pengabdian sebagai Ketua RW adalah menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
"Daripada melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat, lebih baik bertani, mengelola bank sampah, dan menjaga lingkungan. Itu yang ingin terus saya lakukan bersama warga," ucapnya.(*)