TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Komisi Pemuda Sinode Am Gereja-gereja (SAG) Sulawesi Utara-Tengah menggelar Sekolah Pluralisme 2026.
Kegiatan berkolaborasi dengan Kampus Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado berlangsung Kamis-Sabtu (9-11/7/2026)
Kegiatan mengusung tema "Different Voice, Shared Future: Merawat Kebhinekaan, Membangun Peradaban Masa Depan".
Sekolah pluralisme kali ini memasuki angkatan kelima. Program ini menjadi ruang pembelajaran, dialog, dan kolaborasi bagi generasi muda lintas agama dan kepercayaan di Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
Ketua Panitia Natalia Lahamendu, M.Si., mengatakan, Sekolah Pluralisme lahir dari keprihatinan terhadap berbagai gejolak sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Dari kondisi tersebut, lahir sebuah komitmen untuk membangun ruang dialog yang mampu memperkuat kehidupan bersama di Sulawesi Utara yang dikenal dengan semangat Torang Samua Basudara.
"Ini merupakan komitmen bersama IAKN Manado dan Komisi Pemuda SAG untuk membingkai pluralisme dalam konstitusi dan nilai-nilai keagamaan masing-masing," ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga diajak melakukan analisis terhadap berbagai fenomena sosial yang ada di Sulawesi Utara.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta akan mengunjungi sejumlah kawasan bersejarah dan rumah ibadah, seperti Kampung Cina, Kampung Arab, Klenteng Ban Hin Kiong, serta masjid.
Peserta juga akan melakukan analisis sosial di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo.
Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri dari 21 laki-laki dan 19 perempuan.
Mereka berasal dari berbagai latar belakang agama, organisasi, dan perguruan tinggi, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Tiberias, GPdI, gereja-gereja anggota SAG, Gereja Katolik, Kristen Ortodoks Oriental, Anglikan Manado, Buddha, Hindu, UKIT, hingga Universitas De La Salle.
Natalia menegaskan, kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Komisi Pemuda SAG dan IAKN Manado.
Ketua Komisi Pemuda SAG Sulutteng Pnt Feki Korto ST mengungkapkan, hingga saat ini Sekolah Pluralisme telah memiliki sekitar 200 alumni yang masih aktif berkomunikasi dan berdiskusi mengenai berbagai isu keagamaan dan kebangsaan.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan semacam ini bukan hal yang mudah karena membutuhkan dukungan dari banyak pihak.
Ia pun mengapresiasi penuh dukungan yang diberikan Sinode Am Gereja-Gereja serta IAKN Manado.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rektor beserta seluruh jajaran yang mendukung penuh kegiatan ini. Kepada seluruh peserta, nikmatilah setiap proses, bangun komunikasi, dan manfaatkan kesempatan ini untuk saling belajar," katanya. (vid)