Bamsoet Dorong Investasi Korea Selatan di Berbagai Bidang Saat Terima Kunjungan Wali Kota Gyeongsan
Content Writer July 09, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menerima kunjungan Wali Kota Gyeongsan Korea Selatan, Cho Hyun-il, bersama delegasi pengusaha dari Gyeongsan Chamber of Commerce and Industry (KADIN KORSEL).

Pertemuan ini bertujuan menjajaki penguatan kerja sama ekonomi antara pelaku usaha Indonesia dan Korea Selatan. Adapun fokus pembahasan mencakup peluang investasi dan kemitraan di sektor smart farm, industri kosmetika, serta pembuatan spare part otomotif yang dinilai memiliki prospek besar di tengah meningkatnya hubungan ekonomi kedua negara.

Rencana kerja sama ini diharapkan mampu memperluas investasi, memperkuat transfer teknologi, membuka pasar ekspor baru, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing industri nasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin kompetitif.

"Banyak peluang yang bisa segera diwujudkan melalui kemitraan pengusaha Indonesia dengan pengusaha Korea Selatan. Smart farm akan memperkuat ketahanan pangan melalui penerapan teknologi pertanian modern, industri kosmetika membuka ruang bagi peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, sementara sektor spare part otomotif memiliki prospek besar karena pasar kendaraan di Indonesia dan kawasan ASEAN terus berkembang," ujar Bamsoet saat menerima kunjungan Wali Kota Gyeongsan Korea Selatan, Cho Hyun-il, di Jakarta, Kamis (9/7/26).

Baca juga: Catatan Politik Bamsoet: Perluasan Objek Pajak Harus Memahami Kondisi Sosial-Ekonomi Rakyat

Bamsoet ini menjelaskan, hubungan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan perkembangan positif. Korea Selatan merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan investasi yang tersebar pada sektor manufaktur, elektronik, otomotif, petrokimia, hingga industri berbasis teknologi.

Perdagangan bilateral kedua negara dalam beberapa tahun terakhir juga tetap berada pada kisaran lebih dari USD 20 miliar per tahun. Berlakunya Indonesia–Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) makin membuka peluang perdagangan, investasi, serta integrasi rantai pasok industri kedua negara. Di sektor otomotif, berbagai produsen Korea telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memenuhi pasar domestik maupun ekspor.

"Indonesia memiliki kekuatan pada sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta bonus demografi. Korea Selatan unggul dalam inovasi, riset, teknologi manufaktur, digitalisasi, dan efisiensi industri. Sinergi kedua keunggulan tersebut akan menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan dan memperkuat posisi kedua negara dalam menghadapi persaingan ekonomi global," kata Bamsoet.

Baca juga: Beri Apresiasi TMCR 2026, Bamsoet Dorong City Rally Jadi Agenda Wisata Otomotif Nasional

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, salah satu pembahasan utama adalah pengembangan smart farm yang telah menjadi keunggulan Kota Gyeongsan.

Pemanfaatan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, sensor otomatis, sistem irigasi digital, hingga analisis data, menurutnya mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi biaya operasional. Indonesia memiliki potensi besar mengadopsi teknologi tersebut mengingat sektor pertanian masih menjadi penopang kehidupan jutaan masyarakat.

Modernisasi pertanian juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian berbasis teknologi.

"Kerja sama smart farm harus diarahkan pada transfer teknologi dan peningkatan kapasitas petani Indonesia. Tujuannya agar produktivitas meningkat, kualitas hasil panen semakin baik, penggunaan air dan pupuk lebih efisien, serta regenerasi petani dapat berjalan melalui pemanfaatan teknologi digital yang semakin mudah diterapkan," jelas Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, pertemuan juga membahas industri kosmetika yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Nilai pasar kosmetik nasional terus meningkat seiring tumbuhnya kelas menengah, tingginya penetrasi e-commerce, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk kecantikan dan perawatan kulit.

Baca juga: Di Tengah Krisis Geopolitik Global dan Pelemahan Rupiah, Bamsoet: Pariwisata Bali Tetap Tangguh

Mengingat Korea Selatan dikenal sebagai salah satu pusat inovasi kosmetik dunia melalui riset bahan aktif, teknologi formulasi, dan pengembangan produk berbasis sains, kerja sama dapat dikembangkan melalui investasi pabrik bersama, penelitian bahan baku alami Indonesia, pengembangan produk halal, hingga perluasan jaringan distribusi ke pasar regional maupun global.

Industri spare part otomotif juga menjadi topik pembahasan. Indonesia merupakan salah satu basis produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara dengan industri komponen yang terus berkembang. Ribuan perusahaan pemasok komponen telah menjadi bagian rantai pasok industri otomotif nasional maupun dunia.

Kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Korea Selatan diharapkan mempercepat peningkatan kualitas produksi, standardisasi internasional, penggunaan teknologi presisi, serta memperluas peluang ekspor komponen buatan Indonesia ke berbagai negara. Industri komponen juga memiliki efek berganda yang besar terhadap pertumbuhan UMKM, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan investasi nasional.

"Pertemuan ini diharapkan mampu mempererat hubungan Indonesia dan Korea Selatan melalui kerja sama ekonomi yang lebih produktif. Kita berharap komunikasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan investor terus ditingkatkan sehingga berbagai peluang investasi dapat segera direalisasikan menjadi proyek nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara," pungkas Bamsoet. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.