Messi, FIFA, dan Jalan Juara Argentina: Kebetulan atau Ada yang Diatur? Data Wasit dan Penalti
Hasiolan Eko P Gultom July 09, 2026 10:57 PM

Messi, FIFA, dan Jalan Juara Argentina: Kebetulan atau Ada yang Diatur? Data Wasit dan Penalti

 

TRIBUNNEWS.COM - Argentina kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026, bukan hanya karena perjuangannya mempertahankan gelar juara dunia, tetapi juga karena muncul tudingan bahwa tim berjuluk La Albiceleste mendapat perlakuan istimewa dari FIFA.

Tuduhan itu mengemuka setelah Argentina lolos ke perempat final secara dramatis. 

Juara bertahan tersebut harus bekerja keras dalam dua laga fase gugur awal, masing-masing menang dengan skor 3-2 atas Tanjung Verde dan Mesir.

Baca juga: Dikerjai Amerika, Timnas Iran Ajukan Protes ke FIFA Saat Harus Bolak-balik Jakarta-Indramayu PP

Kemenangan atas Mesir menjadi sumber kontroversi.

Mesir yang sempat unggul 2-0 hingga 11 menit terakhir akhirnya tersingkir setelah Argentina mencetak tiga gol balasan, termasuk gol kemenangan pada masa tambahan waktu.

Pelatih Mesir Hossam Hassan kemudian menyampaikan kritik keras terhadap keputusan wasit dan menyebut timnya merasa diperlakukan tidak adil.

"Mungkin mereka ingin juara dunia tetap melanjutkan perjalanan atau Lionel Messi tetap berada di turnamen ini," kata Hassan, yang menilai ada kemungkinan bias yang menguntungkan Argentina.

Pernyataan tersebut memunculkan kembali perdebatan lama dalam sepak bola: apakah tim besar dan pemain bintang memang mendapatkan perlakuan berbeda dalam pertandingan besar?

Apakah Ada Dasar Tuduhan Mesir?

Kekecewaan Mesir dapat dipahami karena mereka berada sangat dekat dengan sejarah baru.

Jika mampu mempertahankan keunggulan, Mesir akan mencapai perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Namun, pertandingan berubah setelah VAR membatalkan gol Mustafa Zico.

Wasit asal Prancis François Letexier memutuskan terjadi pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez pada awal proses terciptanya gol.

Mesir juga merasa dirugikan karena dua insiden lain yang menurut mereka layak mendapatkan penalti.

Salah satunya terjadi ketika Hamdi Fathi terjatuh setelah kontak dengan Alexis Mac Allister.

Insiden lain melibatkan Mohamed Salah yang merasa dijatuhkan Julian Alvarez di kotak penalti.

Meski demikian, tayangan ulang tidak menunjukkan adanya pelanggaran yang cukup kuat untuk membuat VAR merekomendasikan penalti.

Dalam sepak bola modern, keputusan VAR memang sering menjadi perdebatan karena bergantung pada interpretasi wasit terhadap intensitas kontak.

Kontroversi keputusan pertandingan tidak otomatis menjadi bukti adanya konspirasi untuk membantu Argentina.

Wasit Argentina Memimpin Laga Prancis: Potensi Konflik Persepsi

Perdebatan semakin besar setelah diketahui bahwa pertandingan perempat final antara Prancis dan Maroko akan dipimpin oleh tim wasit asal Argentina.

Facundo Tello ditunjuk sebagai wasit utama, sementara seluruh perangkat pertandingan juga berasal dari Argentina.

Secara aturan, tidak ada larangan FIFA menunjuk wasit dari negara tertentu selama mereka memenuhi standar kompetensi dan tidak memiliki hubungan langsung dengan tim yang bertanding.

Namun, keputusan tersebut tetap dianggap kurang ideal dari sisi persepsi publik, mengingat Argentina merupakan salah satu kandidat kuat juara dan memiliki rivalitas dengan sejumlah tim besar, termasuk Prancis.

Dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, faktor kepercayaan terhadap netralitas menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis seorang wasit.

 Kontroversi Keputusan yang Melibatkan Messi

Nama Lionel Messi kembali menjadi pusat perdebatan setelah sejumlah keputusan wasit dianggap menguntungkan kapten Argentina tersebut.

Salah satu insiden terjadi saat Argentina menghadapi Aljazair. Messi melakukan tekel keras terhadap kapten lawan, Aissa Mandi, tetapi tidak mendapatkan kartu.

Situasi tersebut dibandingkan dengan kasus Folarin Balogun yang mendapat kartu merah setelah tinjauan VAR dalam pertandingan lain dengan pelanggaran yang dianggap memiliki kemiripan.

Jika Messi mendapat kartu merah dalam laga tersebut, dampaknya bisa sangat besar. Ia kemungkinan tidak akan tampil dalam beberapa pertandingan berikutnya dan kehilangan kesempatan mencetak sejumlah gol penting.

Messi sendiri tampil produktif di turnamen ini dengan mencetak beberapa gol yang membantu Argentina melaju jauh.

Namun, keputusan wasit dalam satu pertandingan tetap sulit dijadikan bukti bahwa FIFA secara sistematis melindungi seorang pemain.

Hubungan Infantino dan Messi Ikut Disorot

Presiden FIFA Gianni Infantino juga ikut menjadi sasaran kritik karena dianggap memiliki kedekatan dengan Messi.

Salah satu contoh yang sering disebut adalah keputusan terkait Piala Dunia Antarklub 2025 ketika Inter Miami, klub Messi, mendapatkan tempat di turnamen tersebut.

Kritikus mempertanyakan keputusan FIFA memilih Inter Miami, karena klub tersebut bukan juara MLS Cup 2024.

Inter Miami memang memenangkan MLS Supporters' Shield sebagai tim dengan poin musim reguler terbanyak, tetapi gelar juara liga diraih Los Angeles Galaxy melalui babak playoff.

Keputusan itu memungkinkan Messi tampil di pertandingan pembuka Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat.

FIFA menjelaskan bahwa pemilihan peserta menggunakan kriteria yang berbeda, termasuk performa dan representasi kompetisi, bukan hanya status juara liga.

Format Piala Dunia Disebut Memberi Keuntungan bagi Tim Unggulan

Selain keputusan wasit, format turnamen juga menjadi bahan kritik.

Dalam undian Piala Dunia 2026, empat tim dengan peringkat FIFA tertinggi—Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris—ditempatkan dalam jalur berbeda sehingga mereka tidak bisa bertemu sebelum semifinal.

Tujuannya adalah mencegah pertandingan besar terjadi terlalu awal.

Namun, konsekuensinya adalah tim-tim unggulan memiliki peluang lebih besar untuk menghindari lawan berat pada fase awal.

Argentina sendiri menghadapi lawan yang secara peringkat lebih rendah pada dua pertandingan awal fase gugur, yakni Tanjung Verde dan Mesir.

Meski demikian, Argentina tetap harus bekerja keras karena kedua pertandingan berakhir dengan skor tipis 3-2.

Statistik Kartu dan Penalti Argentina Jadi Sorotan

Statistik lain yang memicu perdebatan adalah jumlah kartu kuning dan penalti yang diterima Argentina.

Argentina tercatat melakukan banyak pelanggaran, tetapi jumlah kartu yang diterima relatif lebih sedikit dibanding beberapa tim lain.

Argentina mendapat satu kartu kuning setiap sekitar 19,7 pelanggaran.

Sebagai perbandingan, Inggris menerima satu kartu kuning setiap sekitar 7,7 pelanggaran.

Data tersebut menunjukkan Argentina memang mendapat hukuman kartu yang lebih ringan dibanding beberapa tim lain, tetapi statistik ini tidak selalu menunjukkan adanya keberpihakan. Faktor gaya bermain, jenis pelanggaran, dan keputusan wasit juga berpengaruh.

Di sisi lain, Argentina juga kembali menjadi salah satu tim dengan jumlah penalti terbanyak.

Pada Piala Dunia 2022, Argentina mencatat rekor lima penalti dalam satu turnamen. Pada Piala Dunia 2026, mereka sudah mendapatkan tiga penalti sejauh ini, jumlah terbanyak bersama beberapa catatan statistik lainnya.

Tidak Ada Bukti Konklusif FIFA Mengatur Argentina

Serangkaian keputusan kontroversial memang membuat Argentina berada di tengah sorotan.

Dari keputusan VAR, penunjukan wasit, jumlah penalti, hingga perlakuan terhadap Messi, semuanya menjadi bahan perdebatan.

Namun, hingga saat ini tidak ada bukti konkret bahwa FIFA mengatur pertandingan atau secara sengaja membantu Argentina.

Dalam sepak bola, keputusan wasit selalu membuka ruang interpretasi. Tim yang kalah sering melihat keputusan tertentu sebagai penyebab kegagalan, sementara tim yang menang melihatnya sebagai bagian dari dinamika pertandingan.

Argentina masih harus membuktikan diri di lapangan jika ingin mempertahankan gelar juara dunia.

Kontroversi mungkin terus mengikuti perjalanan mereka, tetapi gelar tetap ditentukan oleh performa selama 90 menit pertandingan.

 

 

(oln/khbrn/*)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.