TRIBUNNEWS.COM - Analys Opta mengungkap statistik yang cukup mengejutkan dari seorang juara dunia, Lionel Messi, yakni tentang kapasitasnya sebagai eksekutor penalti. Di Piala Dunia 2026, Lionel Messi sudah dua kali gagal melakukan tugasnya dari titik putik, yaitu di laga pembuka melawan Austria dan terbaru saat melawan Mesir di babak 16 besar.
Timbul pertanyaan apakah pelatih Argentina, Lionel Scaloni, akan mengubah strateginya untuk mencari penendang penalti yang lebih andal.
Kepercayaan orang terhadap Lionel Messi tidak dapat diruntuhkan. Dia adalah kapten tim, dia adalah pimpinan, dan dia adalah panutan bagi skuad Albiceleste, julukan timnas Argentina.
Tidak ada yang meragukan Lionel Messi dalam urusan mencetak gol.
Di Piala Dunia 2026, dia berada di urutan teratas sebagai pencetak gol terbanyak dengan koleksi 8 gol, unggul satu dari Haaland dan Mbappe.
Berbagai rekor pun telah diciptakan Lionel Messi, baik di level klub maupun timnas, termasuk di ajang sepak bola paling tinggi Piala Dunia.
Contohnya saja saat melawan Mesir ketika dia menghasilkan satu gol dan assist. Catatan itu menjadikannya sebagai pemain tertua (39 tahun) yang mencetaknya dalam pertandingan Piala Dunia.
Catatan itu adalah yang kelima bagi Lionel Messi, dan tidak ada pemain lain yang tercatat melakukannya lebih dari tiga kali sejak tahun 1966, menurut Opta.
Messi juga menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol dalam enam pertandingan babak gugur berturut-turut. Satu assistnya saat melawan Mesir membawa namanya ke posisi paling atas sebagai pencetak assist terbanyak (9), unggul satu dari Diego maradona.
Mantan pemain Barcelona itu juga mencetak rekor baru untuk gol yang dicetak dalam satu edisi Piala Dunia oleh pemain berusia di atas 30 tahun, memecahkan rekornya sendiri.
Dengan tegas, Messi membuktikan nilainya untuk timnas Argentina. Tapi perlu disadari lebih awal dengan tiga pertandingan yang tersisa demi peluang mempertahankan gelar juara, apakah Messi perlu dipertahankan dalam upaya tendangan penalti?
Lionel Messi adalah pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal mencetak lebih dari satu penalti di turnamen yang sama, terlepas dari babak adu penalti.
Pemain berjuluk La Pulga itu telah gagal lebih banyak penalti (4) daripada pemain lain dalam sejarah turnamen ini, hanya mencetak 50 persen dari percobaan penaltinya.
Catatan itu mungkin sulit dipahami, tetapi statistik telah membuktikan, tidak mudah bagi seorang pemain bahkan hingga seorang sekaliber pemain top dunia yang telah memainkan dua dekade lebih sepak bola terhindar dari kesulitan penalti.
Sejatinya, Lionel Messi telah mencetak banyak gol dari titik penalti selama bertahun-tahun di berbagai kompetisi, baik di level klub maupun timnas.
Tapi, ada juga beberapa kegagalan besar yang dia lakukan. Seperti membentur mistar gawang ketika Barcelona menghadapi Chelsea di semifinal Liga Champions musim 2011/2012.
Lalu di dua musim beruntun 2020/2021 dan 2021/2022 di babak 16 besar Liga Champions saat masih mengenakan jersey Barcelona dan PSG.
Menurut Opta, pemenang Ballon d'or delapan kali ini telah mengambil 148 tendangan penalti untuk Barcelona, PSG, Inter Miami, dan Argentina.
Dari jumlah tersebut dia menghasilkan 114 gol dengan konversi peluang sebesar 77 persen.
Angkanya memang cukup baik, tapi dalam beberapa momen dapat memperjelas situasinya.
Sekali lagi, Messi tidak cukup andal dalam urusan penalti, terutama di Piala Dunia untuk timnas Argentina dalam skenario waktu normal, tetapi masih menjadi salah satu penyerang elit yang bisa mengubah keadaan melalui permainan terbuka.
Oleh karena itu, Lionel Scaloni perlu mempertimbangkan lagi, apakah Messi masih dipertahankan untuk hal ini, jika melihat statistik algojo penalti yang dimiliki timnas Argentina.
Selain Messi, ada Lautaro Martinez (66,7 persen) dan Thiago Almada (64,3 persen) yang memiliki angka lebih buruk.
Leandro Paredes (92,9 persen), Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez (91,7 persen), dan Julian Alvarez (89,5 persen), semuanya memiliki rasio yang lebih baik untuk menjadi algojo penalti Argentina.
Masing-masing dari mereka telah mencetak sekitar sembilan gol dari setiap 10 percobaan mereka.
Keempatnya juga menjadi starter ketika melawan Mesir.
Berikut statistik penendang penalti Argentina yang lebih dari 10 gol di level klub dan timnas:
Melihat statistik di atas soal konversi peluang dari titik penalti dalam waktu normal pertandingan, ada yang lebih baik dari Lionel Messi.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kesulitan dengan tantangan mental dalam mengeksekusinya di Piala Dunia berada di level yang berbeda, dan ini ini akan menjadi pertimbangan yang mendasar.
Seandainya Messi mencetak gol saat melawan Mesir, situasinya akan berbeda dengan upaya mereka menekan dan menghasilkan 3 gol di penghujung waktu normal.
Superkomputer Opta hanya memberi Argentina peluang 0,6 persen untuk menang dalam 90 menit saat tertinggal dua gol hingga menit ke-79.
Itu adalah waktu terlama yang pernah dialami tim manapun ketika tertinggal dua gol atau lebih dalam pertandingan Piala Dunia sebelum akhirnya bangkit untuk memenangkan pertandingan tanpa melalui perpanjangan waktu.
Jika perjalanan Argentina terus berlanjut, tekanan pun akan semakin berat, dan hal ini patut menjadi alarm buat Scaloni ketika mendapatkan kesempatan sekecil apapun dari titik putih.
Tidak melulu Messi yang mengemban tugas dan beban terlalu berat, hal itu bisa dibagi dengan rekannya yang memiliki peluang lebih baik.
Tapi dengan adanya Messi, semua pemain merasa percaya diri bahwa mereka dapat mengalahkan tim manapun sekalipun sang kapten gagal mencetak gol dari titik penalti.
"Karena ada Lionel Messi, secara moral dan mental para pemain Argentina lebih percaya diri. Secara taktikal, satu dua sentuhannya masih menjadi yang terbaik di dunia, dan melahirkan momen krusial untuk tim," menurut Football Enthusiast, Gigih.
"Mindset para pemain Argentina begini, 'Dari 22 pemain yang ada di atas lapangan (jumlah pemain kedua tim), bagi pemain Argentina siapa yang paling jago? Ya Messi'," tegasnya.
(Tribunnews.com/Sina)