Laporan Wartawan Tribun-Papua.com,Taniya Sembiring
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - SMA Negeri 4 Jayapura, salah satu sekolah unggulan di Kota Jayapura, Papua, kembali menjadi pusat perhatian publik setelah aksi demo dan pemalangan dilakukan masyarakat adat beberapa waktu lalu.
Aksi tersebut dipicu kekecewaan orang tua yang anaknya tidak diterima di sekolah tersebut, disertai tudingan adanya praktik “jual kursi” dalam penerimaan siswa baru.
Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Widya Kusmayanti, menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar dan untuk menjawab bahwa itu merupakan kekeliruan, proses penerimaan siswa baru melibatkan komite sekolah serta dipantau rutin oleh dirinya.
Baca juga: Retret 3 Hari, 254 Kepala Kampung Biak Numfor Ditempa Jadi Pejabat Andal
“Stigma yang berkembang di masyarakat bahwa SMA Negeri 4 menjual kursi itu tidak benar. Saya selalu ada di tempat memastikan semua berjalan sesuai juknis dari dinas pendidikan,” tegasnya saat diwawancarai Tribun-Papua.com di Jayapura Kamis (9/6/2026).
Menurutnya, pemalangan yang terjadi murni dilakukan oleh masyarakat adat, bukan pihak sekolah. Negosiasi telah dilakukan dua kali, hingga akhirnya difasilitasi oleh Polresta Jayapura.
“Semua diselesaikan dengan damai, tidak ada kekerasan, tidak ada pembayaran apa pun. Itu hanya bentuk kekecewaan masyarakat, tapi sudah selesai dengan baik,” tambahnya.
Lebih jauh Kusmayanti menekankan bahwa SMA Negeri 4 Jayapura adalah sekolah berprestasi, bahkan hingga tingkat internasional.
Baca juga: Arief Nugroho Mundur, Eveerth Joumilena Pimpin SWI Papua
“Dua siswa kami baru kembali dari Spanyol setelah bergabung dengan Timnas Putra Indonesia. Kami ibaratkan sekolah ini seperti nasi goreng spesial, bukan sembarang,” katanya.
Ia menambahkan, mempertahankan kualitas sekolah unggulan bukan perkara mudah. Dibutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, komunitas dan pemerintah. Namun adanya “stigma titipan” dalam proses penerimaan disebut menjadi kendala yang harus diatasi bersama.
Kasus ini mencerminkan tarik menarik antara aspirasi masyarakat adat yang ingin anak-anak mereka diterima di sekolah unggulan, dengan regulasi pendidikan nasional yang menekankan jalur resmi dan kualitas.
Pihak sekolah berharap ke depan tidak ada lagi pemalangan, karena dunia pendidikan tidak boleh dibatasi oleh kepentingan tertentu.
Baca juga: Tolak Intervensi Politik, SC Musda KNPI Sarmi Pilih Skors Sidang
Dengan penegasan ini, SMA Negeri 4 Jayapura berusaha menjaga reputasinya sebagai sekolah unggulan, sekaligus meredam isu yang berpotensi merusak kepercayaan publik.(*)