Harry Kane vs Erling Haaland: Siapa Penyerang Terbaik di Dunia Saat Ini?
Agus Firmansyah July 09, 2026 10:27 PM

Ada banyak hal menarik dari laga perempat final Piala Dunia antara Inggris dan Norwegia pada Sabtu malam. Pertandingan ini penuh dengan cerita yang menarik. Inggris memiliki banyak pemain bintang di berbagai posisi. Norwegia tampil lebih solid sebagai tim dengan fokus utama melayani satu pemain andalan. Inggris pernah menang di Stadion Azteca. Norwegia menyingkirkan Brasil. Inggris pernah meraih gelar juara Piala Dunia, sementara Norwegia belum pernah.

Namun, mungkin bagian paling menarik dari kisah ini adalah duel antara dua penyerang utama. Tidak ada banyak perdebatan bahwa Erling Haaland dan Harry Kane adalah dua penyerang nomor 9 terbaik di dunia saat ini (untuk konteks pembahasan ini, Kylian Mbappe tidak dianggap sebagai nomor 9). Bahkan, pada masa sekarang, jaraknya cukup jauh dibandingkan pemain lain.

Keduanya bermain di posisi yang sama, tetapi dengan gaya yang sangat berbeda. Haaland jarang menyentuh bola, tetapi sangat mematikan setiap kali mendapatkannya. Ia adalah pembunuh sejati di kotak penalti. Kane, di sisi lain, lebih bebas bergerak, memiliki kemampuan umpan yang luar biasa, dan bisa berperan sebagai nomor 10 dengan sangat nyaman.

Kepribadian mereka juga sangat berbeda. Kane memiliki kesan sopan dan berwibawa. Haaland lebih mentah, lebih muda satu dekade, dan mungkin sedikit lebih menyenangkan. Namun siapa yang lebih baik? Sulit membandingkan keduanya. Tapi GOAL mencoba menilai keduanya berdasarkan beberapa kategori berikut...

Penyelesaian Akhir: Harry Kane

Bagian ini mungkin yang paling sulit. Kane dan Haaland, seperti disebutkan sebelumnya, adalah dua tipe penyerang yang sangat berbeda. Kane sebenarnya bukan penyerang murni, sedangkan Haaland sepenuhnya adalah seorang striker sejati. Berdasarkan logika itu, Haaland seharusnya lebih unggul dalam hal penyelesaian akhir. Tugas utamanya adalah mencetak gol di dalam kotak penalti, dan ia melakukannya dengan kelas dunia.

Namun, Kane jauh lebih komplet. Hampir tidak ada jenis penyelesaian yang tidak bisa ia lakukan. Tidak ada satu jenis gol khas dari Harry Kane, dan itu justru menjadi kelebihannya. Ia bisa menggunakan kedua kaki, unggul dalam duel udara, dan mampu menembak dari jarak jauh. Apakah Haaland lebih naluriah? Mungkin. Namun jika berbicara tentang variasi kemampuan menembak, Kane unggul di sini.

Sundulan: Erling Haaland

Gol pertama Haaland untuk Norwegia melawan Brasil sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelum terjadi. Bola digulirkan di sisi kiri, dan Haaland tampak santai di sekitar titik penalti. Namun ketika Andreas Schjelderup mengirim bola ke sisi sayap, dan tampak jelas umpan silang akan datang, Haaland langsung berlari cepat.

Ia mengambil tiga langkah pendek dan melompat melewati Gabriel — salah satu pemain Brasil yang dikenal kuat dalam duel udara. Namun Gabriel sama sekali tidak bisa menjangkaunya. Haaland menanduk bola masuk. Skor 1-0. Tugas selesai.

Itulah ringkasan sempurna tentang Haaland. Dengan tinggi enam kaki lima inci, tubuh atletis, dan waktu lompatan yang sempurna, ia menjadi ancaman serius di udara. Sejak bergabung dengan Manchester City, tidak ada pemain di Inggris yang mencetak lebih banyak gol sundulan darinya. Kane memang bagus di udara, tetapi Haaland benar-benar luar biasa.

Kecepatan: Erling Haaland

Perlu dicatat bahwa pemain sepak bola jarang mencapai kecepatan maksimal di lapangan. Olahraga ini lebih mengandalkan percepatan singkat daripada langkah panjang.

Kecepatan bukanlah kekuatan utama Kane (meski ia tidak sepelan yang sering dikatakan orang). Namun, kecepatan Haaland berada di level yang berbeda.

Pada tahun 2025, ia mencatatkan kecepatan sprint tertinggi di Liga Champions, mencapai 22,9 mil per jam — lebih cepat dari Achraf Hakimi maupun Kylian Mbappe.

Pergerakan: Erling Haaland

Sulit membayangkan seseorang bertubuh besar bisa begitu tidak mencolok, tetapi Haaland sering terlihat santai di lapangan. Kehebatannya terletak pada kemampuannya untuk menghilang dari radar lawan dan memilih momen yang tepat untuk berlari. Ketika ia sudah mendapatkan satu langkah di depan bek, biasanya sudah terlambat untuk menghentikannya.

Mungkin ini terdengar tidak adil bagi Kane. Ini contoh lain dari perbedaan fungsi mereka. Kane selalu ingin memegang bola, sementara Haaland mematikan justru ketika tidak menguasainya. Lagi pula, seseorang tidak mungkin mencetak rata-rata satu gol setiap 13 sentuhan tanpa memiliki pemahaman luar biasa tentang pergerakan tanpa bola.

Permainan Menyeluruh: Harry Kane

Roy Keane sempat menimbulkan kontroversi ketika menyebut Erling Haaland sebagai pemain “League Two”. Komentar itu muncul dalam diskusi di Sky Sports setelah performa Manchester City yang kurang mengesankan. Keane mungkin bermaksud memancing perdebatan, karena Haaland memang tidak banyak terlibat dalam permainan saat itu. Ironisnya, Haaland sebenarnya cukup bagus dalam penguasaan bola; hanya saja ia tidak terlalu membutuhkannya sepanjang waktu.

Sementara itu, Kane adalah sosok nomor 10 yang tidak pernah benar-benar dimainkan di posisi itu. Momen taktis ideal yang mungkin belum pernah terwujud adalah menempatkan Kane di belakang penyerang yang lebih mobile. Untuk saat ini, ia tetap menjadi nomor 9 yang kerap turun ke bawah. Kadang memang membuat frustrasi ketika ia terlalu dalam untuk tim Inggris. Contohnya ketika melawan Kroasia, saat Inggris unggul 3-2, Kane justru membantu bertahan di kotak penalti. Namun, semua itu menunjukkan betapa lengkapnya kemampuannya.

Kepemimpinan: Harry Kane

Bagian ini cukup jelas. Kane telah menjadi kapten Inggris hampir 100 kali. Ia juga pernah menjadi wakil kapten Tottenham Hotspur (sementara Hugo Lloris mengenakan ban kapten). Kane sering berbicara tentang bagaimana ia belajar dari Wayne Rooney dan David Beckham. Bahkan pekan lalu, seorang anggota parlemen dari Oxfordshire mengusulkan agar ia dianugerahi gelar kebangsawanan.

Kane juga kini gemar memimpin rekan setimnya dalam lingkaran motivasi di lapangan, dan tim tampaknya merespons dengan performa positif. Ia selalu menjalani wawancara pasca-pertandingan, bersikap profesional, dan tampak sebagai sosok yang ramah. Sebagai kapten, ia merupakan contoh yang luar biasa.

Haaland memang tidak menghindar dari sorotan, tetapi ia belum pernah benar-benar menjadi pemimpin tim sejati. Pep Guardiola memang memasukkannya dalam kelompok “kepemimpinan” di Manchester City, namun ia belum memiliki kualitas kepemimpinan seperti Kane. Meski begitu, waktunya masih panjang...

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.