Lantunan Surat Yasin Menggema di Lapas Serang, Malam Jumat Jadi Momen Hijrah Ratusan Napi
Abdul Rosid July 09, 2026 11:07 PM

Laporan Jurnalis Tribun Banten, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Langit di atas Kota Serang mulai gelap ketika aktivitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Serang memasuki babak yang berbeda. 

Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi yang setiap hari menjadi pembatas kebebasan, Kamis (9/7/2026) malam justru dipenuhi lantunan shalawat dan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Sekitar pukul 18.30 WIB, satu per satu warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang sudah melaksanakan salat Maghrib, berdatangan menuju blok masing-masing untuk melakukan pengajian bersama.

Mengenakan pakaian muslim ala santri, mereka duduk bersaf dengan tertib. Tak ada lagi perbedaan latar belakang perkara maupun lamanya masa hukuman.

Baca juga: Kisah Ketua DPRD Serang Bahrul Ulum, Berangkat dari Keluarga Petani, Kini Resmi Bergelar Doktor

Seluruhnya hadir sebagai jamaah yang sama-sama menundukkan kepala untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pantauan Tribun Banten, suasana berlangsung khidmat sejak awal kegiatan dimulai. Ratusan warga binaan tampak kompak melantunkan shalawat.

Suara mereka menggema memenuhi area pembinaan, menciptakan atmosfer religius yang jarang terlihat di balik tembok lembaga pemasyarakatan.

Tak lama kemudian, seorang ustaz yang juga merupakan warga binaan mengambil tempat di bagian depan. Dengan suara tenang, ia memimpin jalannya pengajian malam Jumat yang memang rutin digelar setiap pekan di Lapas Serang.

Seluruh peserta kemudian bersama-sama membaca Surat Yasin. Lantunan ayat demi ayat terdengar serempak.

Beberapa warga binaan tampak memejamkan mata, sementara yang lain mengikuti bacaan dengan khusyuk sembari menggenggam mushaf di tangan.

Kepala Lapas Kelas IIA Serang Riko Stiven juga hadir bersama jajaran pejabat struktural. Mereka ikut bergabung dalam pengajian, mendampingi warga binaan selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Bagi Lapas Serang, pengajian malam Jumat bukan sekadar rutinitas keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan kepribadian yang terus dilakukan kepada seluruh warga binaan.

"Kalau malam Jumat memang kegiatan rutin kami selalu adakan pengajian, Pak. Setiap malam Jumat, jadi kita pejabat struktural bergiliran untuk masing-masing blok," ujar Kepala Lapas Kelas IIA Serang, Riko Stiven.

Menurut Riko, kehadiran pejabat struktural secara bergiliran di setiap blok menjadi bentuk pendampingan sekaligus upaya membangun komunikasi yang lebih dekat dengan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan suasana yang lebih humanis di lingkungan pemasyarakatan.

Sebab, selain menjalani pidana, warga binaan juga dibekali pembinaan mental dan spiritual sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Suasana haru tak berhenti setelah pengajian usai. Pada kesempatan yang sama, pihak lapas memberikan voucher wartel gratis kepada seluruh warga binaan pemasyarakatan.

Fasilitas tersebut memungkinkan mereka menghubungi keluarga yang berada di rumah.

Bagi sebagian warga binaan, kesempatan berbicara dengan orang tua, pasangan, maupun anak menjadi momen yang sangat dinanti.

Sebab, keterbatasan komunikasi selama menjalani masa pidana membuat setiap kesempatan untuk mendengar suara keluarga memiliki arti yang begitu besar.

"Alhamdulillah kami juga memberikan tadi voucher wartel gratis untuk seluruh warga binaan pemasyarakatan yang ada di sini agar bisa berkomunikasi dengan keluarga semua," kata Riko.

Komunikasi dengan keluarga dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan proses pembinaan. 

Dukungan dari orang-orang terdekat diyakini mampu menjaga semangat warga binaan untuk menjalani masa pidana sekaligus mempersiapkan diri kembali ke kehidupan bermasyarakat.

Malam semakin larut ketika doa bersama menjadi penutup rangkaian pengajian. Perlahan, para warga binaan kembali menuju blok masing-masing.

Suara Yasin memang telah berhenti menggema. Namun, bagi ratusan warga binaan di Lapas Serang, malam Jumat kembali menjadi pengingat bahwa di balik jeruji besi, masih ada ruang untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memelihara harapan.

Di tempat yang identik dengan hukuman, pengajian rutin itu menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani masa pidana, tetapi juga tentang membangun kembali nilai-nilai kehidupan, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, serta menjaga ikatan dengan keluarga yang setia menunggu di rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.