Fenomena alam berupa tornado kecil yang disebut 'Debu Setan' menerjang kawasan Lautan Pasir Bromo. Wisatawan tidak takut dan malah menjadikannya tontonan.
Fenomena pusaran angin menyerupai tornado kecil kembali muncul dan menghebohkan wisatawan di kawasan lautan pasir Gunung Bromo.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menyebut fenomena tersebut merupakan dust devil atau kerap dijuluki 'debu setan'.
Dalam rekaman video yang beredar, pusaran angin tersebut tampak mengangkat debu, pasir, hingga beberapa barang ringan di sekitarnya. Kendati demikian, sejumlah pedagang di lokasi terlihat tetap tenang dan tidak panik. Sebaliknya mereka malah asyik menontonnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang lumrah terjadi di kawasan kaldera Bromo, terutama saat memasuki musim kemarau. Ia juga meluruskan anggapan wisatawan yang kerap menyamakannya dengan angin puting beliung.
"Secara visual memang tampak seperti tornado kecil yang membawa debu dan pasir, namun ukurannya jauh lebih kecil dan proses terbentuknya berbeda dengan puting beliung," kata Oemar, Kamis (9/7/2026).
Oemar menjelaskan, dust devil terbentuk dari bawah akibat pemanasan permukaan tanah yang sangat tinggi saat cuaca cerah. Kawasan lautan pasir Bromo yang luas, kering, dan minim vegetasi membuat permukaan tanah menyerap panas matahari secara intensif.
Udara panas di dekat permukaan tanah kemudian naik dengan cepat. Saat bertemu dengan lapisan udara yang lebih dingin di atasnya, terbentuk lah pusaran udara yang mengangkat debu dan pasir halus.
"Kalau puting beliung terbentuk dari awan cumulonimbus yang menjulur ke permukaan bumi. Sedangkan dust devil terbentuk dari bawah akibat pemanasan permukaan tanah. Sifatnya lokal, relatif kecil, tidak merusak, dan berlangsung singkat," jelasnya.
Meskipun umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan kerusakan, BPBD tetap mengimbau para wisatawan untuk tidak mendekati pusaran angin tersebut dan menjaga jarak aman.
Wisatawan juga disarankan untuk selalu menggunakan masker guna menghindari debu, memakai kacamata pelindung, serta menggunakan tabir surya atau pelembap untuk melindungi kulit dari cuaca panas ekstrem di Bromo.
"Apabila pusaran angin tiba-tiba melintas di dekat lokasi, pengunjung diimbau tetap tenang, berhenti sejenak, menutup mata jika diperlukan, dan membiarkan pusaran berlalu dengan sendirinya," pungkas Oemar.





