Perang Berkobar Lagi! AS Bombardir Iran Usai Gencatan Senjata Berakhir, Infrastruktur Vital Diserang
Eri Ariyanto July 10, 2026 04:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berakhir, memicu gelombang serangan baru yang mengancam stabilitas kawasan.

Pasukan Amerika Serikat disebut kembali melancarkan operasi militer dengan menghantam sejumlah wilayah strategis Iran menggunakan serangan udara.

Serangan tersebut menyasar beberapa infrastruktur yang dianggap memiliki nilai penting, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan pertahanan dan jalur strategis negara tersebut.

Kembalinya dentuman rudal dan ledakan besar menandai runtuhnya harapan perdamaian yang sempat muncul setelah kesepakatan penghentian konflik sebelumnya.

Situasi ini membuat warga Iran kembali berada dalam ketegangan, sementara dunia internasional memantau perkembangan konflik yang berpotensi meluas.

Pemerintah Iran disebut mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan akan memberikan respons terhadap tindakan militer Amerika Serikat.

Di sisi lain, Washington menyatakan langkah militernya dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman terhadap kepentingan dan keamanan negaranya.

Serangan terbaru ini kembali membuka kemungkinan terjadinya eskalasi besar antara dua negara yang selama bertahun-tahun berada dalam hubungan penuh konflik.

Sejumlah pihak kini khawatir perang yang kembali berkobar dapat berdampak pada keamanan kawasan, harga energi global, hingga jalur perdagangan internasional.

Dengan situasi yang semakin memanas, perhatian dunia kini tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil Amerika Serikat maupun Iran setelah gencatan senjata resmi berakhir.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Trump, Sebut Air Mata Jutaan Warga Iran di Pemakaman Ali Khamenei Palsu

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara resmi menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.

Pernyataan tersebut dilontarkan Trump setelah AS melakukan serangan udara besar-besaran di Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Rabu (8/7/2026) mengatakan telah menyerang puluhan target darat dan angkatan laut Iran.

Saat berbicara di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump mengecam kepemimpinan Iran.

"Saya tidak ingin berurusan dengan mereka (Iran). Saya akan berbicara dengan para negosiator kami yang ingin bernegosiasi, (tetapi) sejauh yang saya ketahui, berurusan dengan mereka hanya membuang waktu. Mereka pembohong," ucap Trump, mengutip RT.

Berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) 14 poin yang ditandatangani bulan lalu, Washington dan Teheran menyatakan penghentian permanen operasi militer di semua lini.

AS setuju untuk mencabut blokade angkatan lautnya secara bertahap, sementara Iran setuju untuk melakukan "upaya terbaik" untuk memastikan jalur bebas bagi kapal-kapal komersial melalui selat tersebut selama 60 hari.

LEDAKAN DI IRAN - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 7 April 2026 menampilkan ledakan di ibu kota Teheran, Iran. IRGC mengklaim menyerang fasilitas petrokimia milik perusahaan AS di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Israel di Shiraz.
LEDAKAN DI IRAN - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 7 April 2026 menampilkan ledakan di ibu kota Teheran, Iran. IRGC mengklaim menyerang fasilitas petrokimia milik perusahaan AS di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan Israel di Shiraz. ((Ist)/Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera)

Setelah menyatakan kesepakatan telah bearkhir, AS kembali melakukan serangan besar-besaran di wilayah Iran, Kamis (9/7/2026).

Serangan tersebut menyasar sejumlah infrastruktur vital, termasuk fasilitas bandara dan jembatan, serta menewaskan sedikitnya empat orang.

Berdasarkan laporan dari Kantor Hubungan Masyarakat Korps Neynava Garda Revolusi Iran (IRGC) di Provinsi Golestan, salah satu serangan menggunakan rudal jelajah AS dan menghantam Jembatan Agh Tappeh Khan di wilayah Aqqala.

Meski jembatan tersebut mengalami kerusakan, pihak IRGC memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden di wilayah utara Iran tersebut.

Pihak berwenang setempat pun langsung mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

"Kami meminta warga tetap tenang dan mengabaikan rumor yang beredar."

"Iran dipastikan akan memberikan balasan yang menghancurkan," tulis pernyataan resmi IRGC, seperti dikutip dari WANA.

Dipicu Penghadangan Kapal Tanker

Sumbu konflik kali ini tersulut setelah Pentagon menuding Angkatan Laut Iran mencoba menyita secara paksa dua kapal tanker minyak komersial berbendera asing di perairan internasional awal pekan ini.

Menurut laporan intelijen AS yang dikutip Axios, militer Iran bahkan sempat melepaskan tembakan peringatan ke arah salah satu kapal tanker tersebut sebelum armada kelima AS tiba di lokasi kejadian.

Namun, narasi berbeda disampaikan oleh pihak Teheran.

Otoritas maritim Iran berargumen bahwa tindakan pencegatan itu murni merupakan penegakan hukum maritim setempat.

Mereka menuduh kapal-kapal tanker asing tersebut terlibat dalam jaringan penyelundupan bahan bakar ilegal yang merugikan perekonomian Iran.

Di Washington, tensi politik juga meninggi.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan peringatan keras kepada Teheran dalam konferensi pers pada Rabu malam waktu setempat.

"Kami mengirimkan pesan yang sangat jelas ke Teheran: kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz adalah hal yang sama sekali tidak bisa ditawar."

"AS tidak akan tinggal diam melihat jalur perdagangan global diancam," tegas Hegseth.

Iran Siap Balas Dendam

Merespons agresi tersebut, situasi di dalam negeri Iran dilaporkan mencekam namun penuh amarah.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya sama sekali tidak gentar dengan gertakan AS.

"Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan AS."

"Hanya Teheran yang berhak menentukan nasib dan memegang kendali atas Selat Hormuz," kata Ghalibaf, dikutip dari WANA.

Pihak Iran pun bersumpah akan mengirimkan 'balasan yang menghancurkan' dalam waktu dekat.

Sementara itu, dalam sebuah laporan resmi, CENTCOM mengeklaim telah menghancurkan lebih dari 80 target militer di sepanjang pesisir Iran.

Wilayah gempuran mencakup pos radar pantai, sistem pertahanan udara, hingga fasilitas komando.

Tak hanya itu, AS juga menargetkan aset-aset elite militer Teheran.

"Lebih dari 60 perahu cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan gudang penyimpanan rudal anti-kapal telah dilumpuhkan demi menjaga keamanan jalur navigasi internasional," tulis pernyataan resmi CENTCOM.

Langkah militer ini juga diikuti dengan sanksi ekonomi yang mencekik.

Pemerintahan Trump dilaporkan langsung mencabut izin khusus ekspor minyak Iran yang sempat diberikan pekan lalu.

Trump menegaskan pihaknya siap "menyelesaikan tugas" jika Iran terus mengacaukan stabilitas regional.


(TribunNewsmaker.com)(TribunNews/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.