TRIBUNKALTIM.CO - Indonesia diklaim menjadi satu-satunya negara di dunia yang meluncurkan secara nasional Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis B50.
Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan BBM jenis baru, B50, di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (8/7/2026).
Prabowo Subianto tiba di lokasi acara sekitar pukul 14.20 WIB dengan mengenakan pakaian safari lengan panjang lengkap dengan songkok hitam.
Baca juga: DPRD Mahulu Dorong Pembangunan Jalan Long Bagun hingga Long Apari untuk Atasi Kelangkaan BBM
Setibanya di lokasi, Kepala Negara langsung menerima pemaparan mendalam mengenai rekam jejak pembangunan dan perjalanan panjang pembuatan BBM B50, yang tercatat sebagai regulasi mandatori ke-8 sejak 20 tahun lalu.
Peluncuran nasional ini menandai dimulainya implementasi penuh pemanfaatan B50 secara masif di seluruh wilayah tanah air, setelah sebelumnya regulasi ini mulai diberlakukan secara bertahap sejak tanggal 1 Juli 2026.
Lewat peresmian ini, Indonesia menasbihkan diri sebagai negara pertama di dunia yang sukses menerapkan kebijakan BBM campuran B50 secara nasional.
“Ini bukan sekerdar pencapaian teknologi, tapi bangsa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat, ini tonggak penting untuk kemandirian energi RI,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya sebelum menekan sirine peresmian.
Baca juga: Daftar Harga BBM Hari Ini Kamis 9 Juli 2026 di Seluruh Indonesia, Antrean Panjang di SPBU Balikpapan
B50 merupakan varian bahan bakar hasil formulasi perpaduan antara 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan 50 persen solar murni.
Program ini merupakan kelanjutan dari proyek mandatori energi terbarukan pemerintah yang sebelumnya telah sukses menerapkan varian campuran B20, B30, dan B40.
Adapun landasan hukum utama dari implementasi ini tertuang secara resmi dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Berupa Minyak Solar Sebesar 50 persen dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan. Regulasi mengikat ini ditandatangani secara sah oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada tanggal 17 Juni 2026.
Sebelum resmi dilepas ke pasar nasional, formulasi BBM B50 telah melewati serangkaian fase pengujian laboratorium yang ketat sejak awal tahun 2025.
Baca juga: Efek Harga Tiket Pesawat dan BBM Nonsubsidi Naik pada Laju Inflasi Kaltim, BI Perkuat Strategi 4K
Selanjutnya, sejak Desember 2025, pengujian diperluas melalui uji teknis dan jalan (road test) pada berbagai sektor mesin diesel guna memastikan performa dan emisinya memenuhi standar pabrikan.
Daftar sektor industri yang terlibat dalam uji coba performa mesin B50 meliputi:
Baca juga: Harga BBM Pertamina 4 Juli 2026, Pakar: Mestinya Pertamax Juga Turun, Penggunanya Lebih Banyak
Penerapan program biodiesel B50 diproyeksikan membawa dampak masif bagi stabilitas ekonomi nasional sekaligus perbaikan kualitas lingkungan secara berkelanjutan, di antaranya:
Penghematan Devisa Negara: Mampu menekan pengeluaran devisa hingga Rp157 triliun
Efisiensi Anggaran Subsidi: Menghemat alokasi subsidi energi sebesar Rp48 triliun per tahun
Penyerapan Lapangan Kerja: Mampu menyerap hingga 2,2 juta orang tenaga kerja baru
Reduksi Emisi Karbon: Memangkas emisi karbon hingga mencapai 46,72 juta ton
Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 6 Juli 2026, Kenaikan Harga Pertamax Picu Inflasi di Kaltim
Guna menjaga stabilitas pasokan di pasar, pemerintah telah merancang skenario masa transisi bertahap dari B40 menuju B50 yang akan berlangsung sepanjang bulan Juli hingga September 2026.
Selama periode transisi ini, distribusi pasokan B50 akan digulirkan bertahap ke SPBU sembari menghabiskan sisa stok berjalan dari sisa bahan bakar B40.
Target penyaluran penuh untuk seluruh wilayah Indonesia ditetapkan harus tercapai secara merata pada Oktober 2026.
Dalam agenda peluncuran strategis ini, Presiden didampingi oleh sejumlah pejabat teras di antaranya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, CEO Danantara Rosan Roeslani, Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Turut hadir pula menyaksikan momentum bersejarah tersebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruaras Sirait, Mentan Amran Sulaiman, Wamentan Sudaryono, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala BIN Herindra, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. (*)