Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Sejuknya hutan dan jernihnya aliran sungai menjadi daya tarik utama Ekowisata Wae Bobok di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Memasuki kawasan Ekowisata Wae Bobok, Kamis (9/7/2026), pengunjung langsung disambut pepohonan rindang yang membentuk kanopi alami. Sinar matahari menembus sela-sela dedaunan, menghadirkan suasana sejuk dan menenangkan.
Aliran sungai yang jernih mengalir di tengah kawasan wisata, berpadu dengan suara gemericik air dan kicauan burung yang menciptakan suasana alami.
Selain panorama alam, kawasan ini juga memiliki potensi sumber daya alam berupa pohon aren atau enau. Namun, potensi tersebut hingga kini belum dimanfaatkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.
Baca juga: Selain Taman Nasional Komodo, Ada Wae Bobok dan Sano Limbung Wajib Dikunjungi di Labuan Bajo
Maria Evelyn, wisatawan yang melakukan perjalanan dengan sepeda motor dari Ruteng menuju Labuan Bajo, mengaku sengaja berhenti setelah melihat kawasan Wae Bobok.
"Saya dari Ruteng bawa motor dan ketemu tempat ini rasanya senang sekali. Tempatnya sejuk, tidak ada biaya masuk, tapi saya bisa menikmati udara segar dengan pemandangan yang indah," ujarnya.
Ekowisata Wae Bobok mulai dibuka pada 2017. Kawasan yang sebelumnya merupakan hutan ini dikembangkan menjadi destinasi wisata alam pegunungan yang kini menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat di wilayah Boleng dan sekitarnya.
Keindahan alam yang masih terjaga itu tidak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di kawasan wisata tersebut.
Di sepanjang kawasan wisata berdiri deretan pondok kayu bergaya tradisional yang dimanfaatkan sebagai lapak UMKM sekaligus tempat beristirahat bagi pengunjung.
Baca juga: Usaha Hidroponik Will da Costa Tumbuh Bersama Pariwisata Labuan Bajo Manggarai Barat NTT
Di kawasan wisata tersebut, sekitar 10 pelaku UMKM masih aktif berjualan dari total 15 anggota kelompok yang dibentuk untuk mendukung aktivitas pariwisata.
Salah seorang pelaku UMKM, Bernadita Hadia atau Mama Deta, mengatakan telah berjualan selama delapan tahun di Wae Bobok. Dalam sehari, omzet yang diperolehnya rata-rata mencapai Rp 300.000, bergantung pada jumlah pengunjung.
"Kalau ramai pengunjung, pemasukan bisa sekitar Rp 300 ribu per hari. Kami buka sampai jam 6 sore," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Berbagai makanan dan minuman dijual oleh para pelaku UMKM. Salah satu menu yang paling diminati pengunjung adalah kopi hitam. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai Rp5.000 untuk minuman hingga sekitar Rp15.000 untuk makanan.
Namun sayang, toilet, area parkir serta beberapa sarana lainnya rusak dan tidak terurus. Sarana tersebut dibangun Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat.
Terpantau jembatan bambu yang dibangun secara swadaya masyarakat setempay rusak. Jalur menuju area permainan outbound tidak aman untuk dilintasi wisatawan.