TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO – Atrium Pasar Induk Wonosobo mendadak riuh dan berubah fungsi menjadi ruang prosesi sakral pada Kamis (9/7/2026).
Di tengah hilir mudik pedagang dan pembeli, sebanyak 282 lulusan sekolah kesetaraan Wonosobo dari PKBM Prospek dikukuhkan dalam sebuah seremoni unik bertajuk "Wisuda Peduli" yang dipadukan langsung dengan aksi sosial membagikan ratusan paket alat tulis serta buku kepada masyarakat.
Langkah menggelar wisuda di fasilitas publik ini sengaja diambil sebagai strategi masif untuk mengampanyekan Gerakan Mayo Sekolah yang diinisiasi oleh Pemkab Wonosobo. Program ini berfokus pada penuntasan angka putus sekolah dan pemberian kesempatan kedua bagi warga belajar dari berbagai latar belakang usia.
"Kelulusan adalah awal untuk menghadirkan manfaat. Pasar dipilih karena menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat, sehingga pesan tentang pentingnya pendidikan dapat tersampaikan lebih luas," ujar Kepala PKBM Prospek, Mukholis.
Alternatif Resmi Pengganti Sekolah Formal
Pada Tahun Pelajaran 2025/2026 ini, ratusan wisudawan yang dikukuhkan terdiri dari 8 lulusan Paket A (setara SD), 61 lulusan Paket B (setara SMP), dan 213 lulusan Paket C (setara SMA).
Baca juga: Solidaritas Tanpa Batas: 12 Relawan Wanadri dari Bandung Bantu Cari Korban Hilang di Gunung Bismo
Seluruh lulusan tersebut merupakan hasil didikan dari tiga pusat layanan, yaitu Pokjar Desa Bener Kepil, Pokjar Mandiri Maju Pecekelan Sapuran, serta Kampus Induk PKBM Prospek.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Wonosobo, Musofa, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa Pendidikan Kesetaraan memiliki kedudukan hukum yang kuat dan tidak berada di bawah sekolah formal.
"Program tersebut justru menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki kondisi berbeda sehingga tidak dapat mengikuti sekolah formal secara reguler. Ijazah ini menjadi syarat penting bagi lulusan untuk membuka peluang memasuki dunia kerja maupun meningkatkan jenjang karier," kata Musofa.
Ia menambahkan, Disdikpora kini tengah gencar berkolaborasi dengan PKBM untuk menjaring warga usia 19 hingga 24 tahun yang belum memiliki ijazah Paket C agar difasilitasi oleh pemerintah daerah.
Rata-rata Lama Sekolah Wonosobo Baru Setingkat Kelas 1 SMP
Tantangan indeks pembangunan manusia di wilayah ini diakui masih memerlukan kerja keras. Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Wonosobo, Suwondo Yudhistiro, membeberkan data bahwa rata-rata lama sekolah masyarakat Wonosobo untuk usia 25 tahun ke atas saat ini baru menyentuh angka 6,91 tahun.
Baca juga: Kisah Barista Perempuan yang Menghidupkan Rasa Lokal Wonosobo: Wangi Kopi dan Sentuhan Jemari Titis
"Itu artinya baru setara dengan kelas 1 SMP. Menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk terus mengkampanyekan program Gerakan Mayo Sekolah," tegas Suwondo. Faktor ekonomi, akses geografis di pinggiran, dan rendahnya kesadaran dinilai menjadi pemicu utama kondisi tersebut.
Sebagai informasi, sejak meluluskan angkatan pertamanya pada tahun 2007 silam, PKBM Prospek tercatat telah berhasil mengantarkan total 4.118 warga belajar menyelesaikan sekolah kesetaraan Wonosobo, yang meliputi 122 alumni Paket A, 1.307 alumni Paket B, dan 2.689 alumni Paket C. (ima)


