TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sulawesi Selatan menyatakan dukungan moral kepada Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lima tahun mendatang.
Dukungan tersebut disampaikan sebagai bentuk kebersamaan dan ikhtiar warga Nahdliyin Sulawesi Selatan dalam mendorong kepemimpinan organisasi ke depan.
Tokoh Nahdliyin Sulawesi Selatan, Drs H Makmur Idrus, mengatakan dukungan itu diberikan berdasarkan rekam jejak panjang Prof Nasaruddin Umar dalam pengabdian kepada umat, bangsa, dan dunia Islam.
Menurutnya, dukungan tersebut tidak semata-mata karena Prof Nasaruddin merupakan putra Sulawesi Selatan.
Melainkan karena kapasitas keilmuan, pengalaman kelembagaan, keteladanan kepemimpinan, serta integritas yang dimilikinya.
"Beliau memiliki pengalaman panjang, kapasitas keilmuan, dan integritas yang sudah teruji dalam berbagai amanah," kata Makmur Idrus ke tribun-timur.com, Jumat (10/7/2026).
Makmur menilai Prof Nasaruddin Umar bukan sosok yang berambisi mengejar jabatan.
Baca juga: Jejak Sejarah Nahdlatul Ulama di Tambakberas Jombang Jawa Timur
Sebaliknya, berbagai jabatan yang diembannya selama ini merupakan bentuk kepercayaan yang diberikan karena kapasitas dan rekam jejaknya.
"Jabatan bagi beliau bukan panggung kekuasaan, tetapi ruang pengabdian. Beliau bukan tipe yang sibuk mencari jabatan, tetapi sosok yang dipercaya mengemban amanah," ujarnya.
Ia menilai pengalaman Prof Nasaruddin memimpin Masjid Istiqlal Jakarta menjadi salah satu bukti kapasitasnya dalam mengelola lembaga keumatan berskala nasional.
Di bawah kepemimpinannya, Masjid Istiqlal berkembang tidak hanya sebagai pusat ibadah.
Namun juga menjadi ruang dialog kebangsaan, moderasi beragama, hingga diplomasi kemanusiaan.
"Dari Masjid Istiqlal, wajah Islam Indonesia tampil lebih teduh, ramah, terbuka, dan dihormati dunia," katanya.
Selain itu, Prof Nasaruddin juga dinilai memiliki rekam jejak kuat di bidang pendidikan tinggi Islam.
Sebagai akademisi dan pimpinan Universitas PTIQ Jakarta, ia dinilai mampu menjaga tradisi keilmuan Al-Qur'an sekaligus membangun tata kelola perguruan tinggi yang lebih maju.
Dalam dunia pesantren, Prof Nasaruddin juga dikenal memiliki perhatian terhadap kaderisasi ulama, santri, guru, dan pemimpin umat.
Menurut Makmur, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.
Ia berharap apabila Prof Nasaruddin Umar diberi amanah memimpin PBNU, organisasi tersebut semakin mandiri, tertib, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"NU tidak boleh hanya besar di pusat, tetapi harus kuat sampai ke tingkat ranting. Manfaatnya harus dirasakan oleh PCNU, MWC, ranting, pesantren, masjid, sekolah, majelis taklim, hingga warga Nahdliyin dari Sabang sampai Merauke," tegasnya.
Makmur menambahkan, Prof Nasaruddin memiliki modal kepemimpinan yang lengkap.
Mulai dari kedalaman ilmu, pengalaman kelembagaan, jaringan nasional dan internasional, kemampuan manajemen, hingga akar kultural sebagai ulama pesantren dan putra Indonesia Timur.
Karena itu, PWNU Sulawesi Selatan bersama PCNU se-Sulsel memandang dukungan tersebut sebagai dukungan moral sekaligus harapan agar Nahdlatul Ulama semakin berwibawa, teduh, mandiri, dan mampu menjawab kebutuhan umat di masa mendatang.
Dukungan serupa juga disampaikan Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan, Prof Dr H Andi Marjuni MPd.
Menurutnya, Prof Dr KH Nasaruddin Umar memiliki peluang besar memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada periode mendatang.
Ia menilai Menteri Agama RI tersebut memiliki kapasitas yang lengkap, baik dari sisi kepemimpinan organisasi maupun keilmuan Islam.
"Prof Nasaruddin Umar sangat berpeluang memimpin PBNU pada masa yang akan datang. Beliau sangat mumpuni di bidang manajerial keorganisasian maupun keilmuan keagamaan," ujar Andi Marjuni.(*)