Israel Mengaku Siap Serang Iran Kembali, Tunggu Aba-Aba dari Trump
Febri Prasetyo July 10, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Israel dikabarkan tengah bersiap untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Berdasarkan laporan lembaga penyiar publik Kan, sejumlah pihak di Israel berkeinginan untuk terlibat dalam konflik yang tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Namun, langkah tersebut saat ini masih menanti lampu hijau dari Presiden AS Donald Trump.

Laporan yang belum menyebutkan sumber anonim tersebut mengungkapkan bahwa para pejabat di Yerusalem memprediksi aksi saling serang antara AS dan Iran akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang.

Senada dengan hal itu, The New York Post yang juga mengutip sumber dari Yerusalem menyatakan bahwa Israel sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam serangan di masa depan dan siap sepenuhnya untuk mengobarkan kembali perang tersebut.

“Kami bersedia melakukannya lagi, jika diperlukan,” ujar sumber tersebut pada Rabu (8/7/2026), tepat sebelum Amerika Serikat memulai serangannya kembali ke Iran.

Meski demikian, sumber itu menambahkan bahwa meskipun Israel tidak ingin kembali ke hari di mana orang-orang harus pergi ke tempat perlindungan, pihak Israel tidak ingin mengabaikan apa yang sedang terjadi di Iran.

“Jadi jika itu adalah harga yang harus kami bayar, kami akan menanggung situasi itu,” tegas sumber dari New York Post tersebut.

Kesiapan Para Pemimpin Israel

Baca juga: 3 Keluarga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal: Israel Hancurkan Rumah di Tepi Barat

Pada Kamis (9/7/2026) waktu setempat, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir juga secara tegas menyatakan bahwa Israel siap kembali berperang melawan Iran sewaktu-waktu. 

Pernyataan ini muncul menyusul pembaruan permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat.

Adapun kesiapan Israel untuk bertempur kembali ini disampaikan tiga tokoh tersebut saat menyampaikan pidato dalam upacara kelulusan pilot Angkatan Udara Israel.

Presiden Isaac Herzog, dalam kesempatan yang sama, mencatat bahwa angkatan pilot yang baru lulus ini merupakan kelompok pertama yang memulai dan menyelesaikan kursus pilot bertahun-tahun di tengah situasi perang yang terus berlangsung.

Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir yang juga hadir di lokasi menegaskan bahwa perang melawan Iran belum sepenuhnya berakhir.

Ia mengungkapkan bahwa militer Israel terus menyusun strategi baru.

“Di papan gambar ada rencana-rencana baru,Operasi besar masih diperkirakan akan ada di depan kita. Bersiaplah,” ucapnya dalam pidato singkat tersebut.

Zamir juga sempat menyinggung kesiapan militer yang berada dalam status siaga tinggi. 

Dalam naskah pidato yang disiapkannya, ia berencana menyampaikan bahwa ratusan pesawat Angkatan Udara Israel telah bersiaga untuk “lepas landas segera dalam beberapa pekan terakhir".

“Bahkan pada saat ini, kami juga terus memantau perkembangan di Iran dan Lebanon dengan cermat dan tetap waspada tinggi untuk tindakan segera,” ungkap Zamir dalam pidato tersebut.

Fokuskan Serangan di Lebanon dan Program Nuklir Iran

Baca juga: PBB Desak Israel Bebaskan Direktur RS Gaza Hussam Abu Safia, Soroti Dugaan Penyiksaan

Dalam kesempatan tersebut, Netanyahu juga menyoroti operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Ia memastikan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selama diperlukan.

“Kami akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk menjamin keamanan komunitas kami di utara,” ujar Netanyahu.

Saat ini, Lebanon menuntut Israel memenuhi janji untuk menarik pasukan dari dua zona  di selatan dan menyerahkannya kepada militer Lebanon sebelum mereka setuju untuk berpartisipasi dalam pembicaraan langsung berikutnya.

Adapun pembicaraan selanjutnya antara Lebanon dan Israel akan dilangsungkan di Roma pada minggu depan. 

Terkait kampanye melawan Iran, Netanyahu mengulangi janji yang sering ia sampaikan bahwa dengan atau tanpa perjanjian, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.

“Bersamaan dengan tantangan lama, tantangan baru terus muncul. Poros lama runtuh, dan yang baru muncul. Kami sedang mempersiapkan setiap skenario. Kami tahu satu hal: kami harus selalu tetap lebih kuat dari musuh-musuh kami.” ungkap Netanyahu.

Dalam pidatonya, Netanyahu juga memberikan sindiran tidak langsung terhadap pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai rencana penjualan jet tempur F-35 ke Turki. 

Ia menilai Trump seharusnya tetap berfokus untuk membantu armada angkatan udara Israel dan bukan negara lainnya seperti Turki untuk menjaga situasi dan kondisi di timur tengah.

“Mempertahankan keunggulan udara Israel adalah landasan doktrin keamanan nasional kami. Ini sama pentingnya untuk menjaga stabilitas di Timur Tengah yang bergejolak,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.