TRIBUNJOGJA.COM - Setiap kali menyalakan lampu atau mengisi daya ponsel, sebenarnya ada satu nama yang jarang disebut tapi berjasa besar di baliknya, yaitu Nikola Tesla.
Hari ini, 10 Juli 2026, tepat 170 tahun sejak Tesla lahir di Desa Smiljan, wilayah yang dulu masuk Kekaisaran Austria dan kini menjadi bagian dari Kroasia.
Namanya memang tidak sepopuler Thomas Edison, padahal sistem listrik yang dipakai hampir seluruh dunia hari ini justru berasal dari pemikirannya.
Kalau Edison dikenal karena membuat lampu pijar jadi lebih praktis, Tesla justru berjasa membuat listrik bisa dikirim jauh dan sampai ke rumah-rumah dalam skala besar.
Perbedaan ini yang sering luput dari catatan sejarah.
Titik balik hidup Tesla terjadi pada 1884, saat ia pindah ke Amerika Serikat dan sempat bekerja di perusahaan milik Edison.
Hubungan keduanya awalnya baik, sebelum akhirnya pecah karena perbedaan pandangan soal sistem arus listrik.
Edison bertahan dengan arus searah atau direct current (DC).
Sistem ini punya kelemahan besar, yaitu sulit dikirim jarak jauh, butuh banyak pembangkit, dan biayanya mahal.
Tesla punya pandangan berbeda.
Ia meyakini arus bolak-balik atau alternating current (AC) jauh lebih unggul karena bisa dikirim sangat jauh dengan kehilangan energi yang jauh lebih kecil.
Perseteruan dua kubu ini dikenal dengan sebutan War of Currents.
Hasil akhirnya, sistem AC milik Tesla yang menang dan dipakai sebagai standar jaringan listrik dunia sampai sekarang, termasuk yang mengalir ke rumah-rumah lewat PLN.
Kemenangan sistem AC semakin kuat setelah Tesla bekerja sama dengan pengusaha George Westinghouse, yang membeli sejumlah paten miliknya.
Momen paling menentukan terjadi ketika pembangkit listrik tenaga air di Air Terjun Niagara dibangun menggunakan sistem AC Tesla.
Keberhasilan itu membuktikan keunggulan AC secara nyata, sekaligus menjadi awal dunia beralih dari sistem DC ke AC.
Baca juga: Penerapan Malioboro Full Pedestrian, Kendaraan Listrik Pribadi Tetap Dilarang Melintas
Sepanjang hidupnya, Tesla tercatat memiliki lebih dari 300 paten.
Beberapa yang paling berpengaruh antara lain motor induksi AC, yang sampai sekarang masih dipakai di kipas angin, pompa, mesin industri, hingga kendaraan listrik.
Ada juga Tesla Coil, alat penghasil tegangan tinggi yang masih dipakai untuk keperluan edukasi dan penelitian.
Di bidang komunikasi, Tesla turut mengembangkan teknologi dasar radio, meski penghargaan pada masanya lebih dulu jatuh ke tangan Guglielmo Marconi.
Baru setelah Tesla meninggal, Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian paten Marconi, sehingga kontribusi Tesla akhirnya diakui lebih luas.
Tesla juga sempat membuat gebrakan pada 1898, ketika ia mendemonstrasikan kapal yang bisa dikendalikan tanpa kabel.
Banyak orang saat itu mengira ia memakai sihir, padahal yang digunakan adalah gelombang radio, konsep dasar dari teknologi remote control yang kita kenal sekarang.
Salah satu bagian paling dramatis dari hidup Tesla adalah proyek Wardenclyffe Tower.
Menara ini dibangun dengan ambisi mengirim listrik sekaligus informasi ke seluruh dunia tanpa kabel.
Sayangnya, pendanaan proyek ini dihentikan di tengah jalan dan menaranya akhirnya dibongkar.
Meski gagal, ide ini masih terus dibicarakan hingga sekarang, apalagi di era transmisi data nirkabel seperti sekarang ini.
Tesla tidak pernah menikah karena meyakini hubungan romantis akan mengganggu pekerjaannya.
Di akhir hidupnya, ia tinggal sendirian di sebuah hotel di New York.
Ia meninggal dunia pada 7 Januari 1943, dalam kondisi finansial yang jauh dari kata mapan.
Ironisnya, banyak penemuannya justru baru dihargai secara luas beberapa dekade setelah kematiannya.
Satuan medan magnet internasional dinamai tesla (T), dan perusahaan mobil listrik Tesla, Inc. turut menggunakan namanya sebagai bentuk penghormatan.
Rancangan motor listriknya juga masih dipelajari di berbagai universitas hingga hari ini.
(MG Farhatiy Rijal)