Culture Shock yang Sering Dialami Mahasiswa Baru di Jogja
Muhammad Fatoni July 10, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Jogja sebagai Kota Pelajar menjadi salah satu daerah dengan kedatangan mahasiswa baru terbanyak setiap tahunnya. 

Tidak heran jika setiap awal tahun ajaran baru, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk menempuh pendidikan di kota ini.

Sebagai mahasiswa baru yang merantau ke daerah baru, tentu akan menemukan banyak perbedaan, mulai dari budaya, bahasa, aturan, hingga suasana kehidupan sehari-hari. 

Perbedaan tersebut membuat setiap pendatang dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Kondisi ketika seseorang merasa kaget, bingung, atau cemas karena menghadapi budaya yang berbeda dikenal dengan istilah culture shock atau gegar budaya. 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Kalervo Oberg pada tahun 1954 untuk menggambarkan reaksi seseorang saat berada di lingkungan budaya yang berbeda.

Jogja dikenal sebagai daerah yang masih menjunjung tinggi nilai budaya dan adat istiadat. Hal tersebut membuat beberapa kebiasaan masyarakat lokal terasa berbeda bagi para pendatang, terutama mahasiswa yang baru pertama kali tinggal di kota ini.

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Seiring berjalannya waktu, berbagai kebiasaan tersebut justru akan menjadi pengalaman menarik selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Jogja. 

Berikut beberapa culture shock yang paling sering dialami mahasiswa baru.

1. Banyak Makanan Cenderung Manis

Jika berasal dari daerah yang makanan khasnya identik dengan rasa gurih atau pedas, Anda mungkin akan cukup terkejut ketika pertama kali mencicipi kuliner khas Jogja yang cenderung manis.

Salah satu contohnya adalah gudeg yang menjadi ikon kuliner Jogja. Gudeg dibuat dari nangka muda yang dimasak selama berjam-jam menggunakan santan dan gula aren sehingga menghasilkan cita rasa manis yang khas.

Bahkan pelengkap gudeg seperti krecek merah yang tampilannya terlihat pedas pun umumnya tetap memiliki rasa manis. Memang ada beberapa penjual yang menyajikan krecek dengan rasa lebih gurih dan pedas, tetapi jumlahnya tidak sebanyak versi manis.

Tidak hanya gudeg, beberapa perantau dari Sumatera maupun Jawa Timur juga mengaku cita rasa makanan seperti nasi Padang atau masakan lainnya di Jogja cenderung dibuat sedikit lebih manis agar sesuai dengan selera masyarakat setempat. 

Hal ini dipengaruhi oleh budaya kuliner masyarakat Jawa bagian tengah yang sejak lama memang akrab dengan penggunaan gula aren maupun gula kelapa dalam berbagai masakan.

2. Petunjuk Arah Masih Menggunakan Bahasa Jawa

Jogja merupakan daerah yang masih sangat kental dengan penggunaan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mahasiswa baru dari luar Jawa, hal ini sering menjadi pengalaman yang cukup membingungkan.

Salah satu contohnya ketika bertanya arah jalan kepada warga sekitar. Alih-alih mengatakan kanan, kiri, timur, atau barat, masyarakat Jogja lebih sering menggunakan istilah dalam Bahasa Jawa seperti ngalor, ngidul, ngetan, dan ngulon.

Istilah tersebut memiliki arti:

Ngalor = ke arah utara.
Ngidul = ke arah selatan.
Ngetan = ke arah timur.
Ngulon = ke arah barat.

Meski awalnya terdengar asing, lama-kelamaan istilah tersebut akan menjadi kosakata yang sering didengar selama tinggal di Jogja.

3. Disapa Orang yang Tidak Dikenal

Hal ini mungkin menjadi salah satu culture shock yang paling sering dirasakan mahasiswa baru.

Jogja dikenal sebagai kota dengan masyarakat yang ramah. Tidak sedikit warga yang akan menyapa orang lain meski belum saling mengenal, baik ketika bertemu di jalan, di warung, maupun saat berpapasan di lingkungan tempat tinggal.

Sapaan sederhana seperti "Monggo", "Nggih", "Mas", "Mbak", atau sekadar senyum dan menganggukkan kepala sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat.

Budaya tersebut tidak lepas dari nilai unggah-ungguh atau tata krama dalam budaya Jawa yang mengajarkan pentingnya menghormati dan bersikap ramah kepada siapapun.

Karena itu, mahasiswa baru yang berasal dari kota besar sering kali merasa heran ketika disapa oleh orang asing, padahal bagi warga Jogja hal tersebut merupakan bentuk kesopanan.

4. Lampu Merah Banyak dan Durasinya Cukup Lama

Banyak mahasiswa rantau mengaku salah satu hal yang cukup mengejutkan ketika tinggal di Jogja adalah jumlah persimpangan yang menggunakan lampu lalu lintas.

Terutama di kawasan perkotaan seperti Jalan Solo, Gejayan, Ringroad, hingga Malioboro, hampir setiap persimpangan utama dilengkapi lampu merah. 

Tidak sedikit pula lampu lalu lintas yang memiliki durasi merah lebih dari satu menit sehingga pengendara harus bersabar menunggu giliran.

Pengaturan waktu tersebut dilakukan untuk mengatur arus kendaraan agar tetap lancar, mengingat Jogja menjadi salah satu kota dengan jumlah sepeda motor yang sangat tinggi. 

Selain kendaraan milik warga, setiap tahun jumlah kendaraan juga bertambah karena kedatangan ribuan mahasiswa dan wisatawan.

Meski begitu, banyak pendatang justru merasa suasana berkendara di Jogja tetap lebih tenang dibandingkan kota-kota besar lainnya.

Baca juga: Pedagang Malioboro Khawatir Sepi Imbas Full Pedestrian, Wali Kota Yogya Janji Buat Regulasi Cermat

5. Jarang Mendengar Klakson di Jalan

Meskipun jumlah kendaraan cukup padat dan lampu merah tersebar di banyak persimpangan, suasana lalu lintas di Jogja relatif lebih tenang.

Pengendara di Jogja cenderung tidak mudah membunyikan klakson ketika menunggu lampu hijau atau saat kendaraan di depannya belum langsung berjalan. 

Sebagian besar memilih menunggu dengan sabar hingga kendaraan di depan mulai bergerak.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan budaya masyarakat Jawa yang menjunjung sikap santun serta filosofi "alon-alon waton kelakon", yang berarti pelan-pelan asalkan tujuan dapat tercapai.

Bagi mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan, suasana jalan di Jogja sering terasa lebih tenang karena suara klakson tidak terdengar sesering di daerah asal mereka. 

Bahkan, tidak sedikit pendatang yang akhirnya ikut merasa sungkan untuk membunyikan klakson kecuali benar-benar diperlukan.

6. Sering Mendengar Kata "Monggo"

Bagi mahasiswa baru yang berasal dari luar Jawa, kata "monggo" mungkin akan menjadi salah satu kata yang paling sering didengar ketika pertama kali tinggal di Jogja.

Kata tersebut sering diucapkan ketika seseorang mempersilakan orang lain masuk, duduk, makan, lewat, hingga saat hendak meninggalkan suatu tempat. 

Tidak sedikit mahasiswa baru yang awalnya bingung dengan arti kata tersebut karena belum pernah mendengarnya di daerah asal.

Dalam Bahasa Jawa, monggo memiliki arti "silakan". Kata ini merupakan bentuk ungkapan sopan yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta.

Karena cukup sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit mahasiswa rantau yang akhirnya ikut terbiasa menggunakan kata "monggo" ketika berbicara dengan teman maupun masyarakat sekitar.

7. Barang Terlihat Aman Ditinggal, Tapi Tetap Harus Waspada

Hal lain yang cukup membuat banyak mahasiswa baru terkejut adalah kebiasaan sebagian masyarakat Jogja yang terlihat cukup santai ketika meninggalkan barang.

Masih cukup sering ditemui pengendara yang meninggalkan helm di atas motor saat diparkir atau meletakkan barang di warung tanpa rasa khawatir berlebihan.

Pemandangan seperti ini tentu membuat sebagian mahasiswa rantau merasa heran, terutama jika berasal dari kota besar yang lebih terbiasa menjaga barang dengan ketat.

Kondisi tersebut tidak lepas dari citra Jogja yang dikenal sebagai kota dengan masyarakat yang ramah dan menjunjung tinggi rasa saling percaya antarwarga.

Meski begitu, bukan berarti tindak kriminal tidak pernah terjadi. Mahasiswa baru maupun masyarakat tetap disarankan untuk selalu menjaga barang berharga dan tidak lengah ketika berada di tempat umum. Pasalnya, kasus pencurian tetap bisa terjadi di mana saja. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.