TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup menguat Rp18.065 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7/2026), didorong sentimen positif dari lembaga internasional yang mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah menguat 63 poin menjadi Rp 18.065 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 18.128 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipicu oleh proyeksi positif dari International Monetary Fund (IMF) dan Asian Development Bank (ADB) terhadap ekonomi Indonesia.
"Pasar merespon positif mengenai pernyataan International Monetary Fund mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0 persen pada 2026. IMF juga memproyeksikan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh mencapai 5,1 persen pada 2027. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia (Emerging and Developing Asia), yang diproyeksikan tumbuh melambat di level 4,8 persen pada 2026," ujar Ibrahim, Jumat (10/7/2026).
Selain IMF, ADB juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027.
Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibanding target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 5,4 persen.
Ibrahim menilai kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 juga menjadi sinyal positif bagi perekonomian, meski belum mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat secara penuh.
Baca juga: Sore Ini Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.128, Kepercayaan Konsumen Turun
"Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit, atau meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ungkapnya.
Tren tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga masih bertumbuh secara bertahap di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.
Di sisi lain, pasar tetap mewaspadai perkembangan konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.014 per Dolar AS, Dibayangi Defisit APBN dan Memanasnya Konflik AS-Iran
Ibrahim menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait berakhirnya gencatan senjata dengan Iran serta rencana serangan lanjutan memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Situasi semakin diperburuk dengan ketidakpastian proses perdamaian meski mediator regional masih berupaya membuka kembali jalur diplomasi.
Untuk perdagangan Senin (13/7/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 18.060 - Rp 18.110 per dolar AS. Sementara dalam sepekan ke depan, mata uang Garuda diproyeksikan bergerak pada rentang Rp 17.870 - Rp 18.300 per dolar AS.