Abdul Rivai Ras: ‘Transformasi PTPN I Harus Lebih Progresif'
Endra Zulkarnain July 10, 2026 08:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta- Transformasi yang dijalankan PTPN I (Persero) sejak beberapa tahun terakhir memberi petunjuk arah yang tepat. 

Namun demikian, kecepatannya membutuhkan energi yang lebih besar, terukur, dan lebih progresif.

Pernyataan ini disampaikan Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras di Jakarta, Jumat (10/7/26). 

Dirut bergelar Doktor Ilmu Politik Bidang Kebijakan Pertananan itu mengatakan, untuk mengakselerasi kinerja korporasi secara komprehensif, PTPN I membutuhkan komitmen bersama. 

Ia juga menegaskan, transformasi yang progresif di era digital saat ini membutuhkan prasyarat menajemen modern, profesional, tangguh, dan berdaya saing global.

Abdul Rivai mengutarakan, industri perkebunan atau farming adalah main course alias menu utama sebagai penyedia bahan baku industri manufaktur. 

Industri ini, kata dia, tidak akan mati selagi masih ada kehidupan. 

"Oleh karena itu, kita harus memperkuat semua lini dengan modernisasi dan profesionalitas agar Perusahaan kita berkembang lebih progresif,” kata Dirut yang baru sepekan menjabat itu.

Lebih dalam, Rivai mengatakan industri agro memiliki posisi yang amat strategis dalam pola rantai kehidupan sosial. 

Selain karena menghasilkan produk utama penyediaan bahan pangan, bidang Perkebunan juga bersifat padat karya. 

Tingkat keterlibatan manusia dalam proses operasional industro agro, kata dia, cenderung lebih tinggi dan lebih merata di semua Kawasan disbanding industri lain.

“Kita harus bertransformasi dengan cepat dan massif bukan hanya karena mengejar profit, tetapi menjaring efek sosial yang lebih luas," kata Abdul Rivai.

Menurutnya, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga paling besar dalam rantai ekonomi. 

Sebarannya juga sangat luas, tidak terkonsentrasi di titik tertentu. 

"Dan lebih penting lagi, lapangan kerja yang tercipta bisa dimasuki oleh siapa saja,” kata Dirut kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu.  

Menurut Abdul Rivai Ras, dinamika industri perkebunan saat ini telah mengalami perubahan yang sangat cepat. 

Persaingan global, volatilitas harga komoditas, dampak perubahan iklim, tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan, hingga percepatan digitalisasi telah mengubah paradigma pengelolaan perusahaan perkebunan.

Menurutnya, nengelola PTPN I hari ini bukan lagi sekadar mengelola kebun atau mengejar target produksi. 

Amanah ini adalah tanggung jawab untuk membangun sebuah korporasi negara yang mampu bersaing di tingkat global, adaptif terhadap perubahan.

"Serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan masyarakat," kata Rivai yang menyelesaikan gelar doktornya di Universitas Indonesia pada 2010 itu.

Untuk mewujudkan visi itu, kata Rivai, PTPN I menetapkan lima pilar transformasi sebagai fondasi pembangunan perusahaan menuju korporasi agribisnis berkelas dunia.

Yakni, Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG); Penguatan Manajemen Risiko; Digitalisasi Manajemen; Optimalisasi Aset Negara; dan Penguatan Sinergi Kelembagaan.

Soal GCG, Rivai mengatakan, perusahaan yang mengelola aset strategis milik negara, seluruh proses bisnis PTPN I harus dijalankan secara transparan, akuntabel, profesional, serta menjunjung tinggi kepatuhan terhadap regulasi. 

Tata kelola yang kuat diyakini menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan pemangku kepentingan sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan.

Soal penguatan manajemen risiko, menurut Rivai, adalah benteng terkuat untuk menjaga keamanan aset dari risiko bias. 

Restrukturisasi organisasi melalui integrasi Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko, kata dia, menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan Perusahaan. 

Hal ini untuk mengantisipasi berbagai ketidakpastian bisnis, termasuk fluktuasi harga komoditas global, perubahan iklim, hingga penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar dalam industri agribisnis dunia.

Dia menuturkan, perusahaan yang kuat bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola risiko secara terukur.

Sehingga tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global.

Abdul Rivai Ras juga menegaskan soal digitalisasi yang bukan sekadar penggunaan teknologi.

Melainkan perubahan budaya kerja yang mengedepankan efisiensi, kecepatan, akurasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. 

Implementasi teknologi smart farming, digitalisasi proses bisnis, serta integrasi sistem informasi menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing perusahaan.

Pada pilar keempat, yakni optimalisasi aset negara menegaskan bahwa seluruh aset yang dikelola PTPN I (Persero) diarahkan untuk menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang maksimal. 

Optimalisasi tersebut tidak hanya memperkuat kinerja perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengembangan kemitraan yang inklusif, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi di wilayah operasional perusahaan.

Sementara itu, pilar kelima adalah penguatan sinergi kelembagaan.

Menurut Abdul Rivai Ras, keberhasilan transformasi perusahaan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan.

Mulai dari pemerintah, regulator, DPR, aparat penegak hukum, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.

Transformasi bukanlah pekerjaan satu orang atau satu institusi. 

Ini adalah gerakan bersama untuk membangun PTPN I menjadi perusahaan agribisnis nasional yang mampu berdiri sejajar dengan perusahaan-perusahaan perkebunan terbaik di dunia. 

Dengan tata kelola yang kuat, digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi yang solid, kami optimistis PTPN I akan menjadi korporasi yang semakin profesional, kompetitif, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. (*)

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.