TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - 400 tahun yang lalu, tepatnya 3 Juli 1626, lahir seorang ulama dan pejuang anti kolonial, Muhammad Yusuf, atau yang banyak dikenal beserta gelarnya: Syekh Yusuf Al Makassari.
Perjalanan panjang penuh makna Syekh Yusuf terus dikenang hingga kini, bahkan jadi sosok yang diselimuti berbagai mitos di masyarakat Makassar.
Antropolog Makassar Halilintar Lathief menulis perjalanan Syekh Yusuf dalam sebuah novel sejarah.
Buku tersebut kemudian dibedah di aula Museum Kota Makassar, Jalan Balaikota, Kota Makassar, Jumat (10/7/2026).
Sebagai pembedah, yakni Budayawan dan Mantan Rektor Institut Kesenian Jakarta Prof Sardono W Kusumo, Kritikus Sastra Andi Mahrus Idris, dan Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur , AS Kambie.
Berlangsung di lantai dua museum, forum dihadiri budayawan, penggiat sastra, akademisi, jurnalis, dan mahasiswa.
Sekitar 70 peserta yang hadir.
Kegiatan dimulai sejak pukul 14.32 Wita. Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu panitia membacakan doa dan pengantar dimulainya diskusi.
Baca juga: Seminar 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassary
Dimoderatori oleh jurnalis senior Irwan AR, ketiga narasumber membedah secara dalam buku ke-111 Prof Halilintar tersebut.
Para narasumber menyampaikan analisis kritis atas buku dari perspektif masing-masing.
Mendengarnya, Prof Halilintar hanya tersenyum dan terdiam di bangku paling belakang.
Dalam pemaparannya, Prof Sardono mengatakan, Syekh Yusuf punya makna besar sebagai tokoh sejarah di Sulawesi Selatan.
Melalui kisah Syekh Yusuf, dapat direfleksikan posisi Makassar sebagai pusat pemikiran, politik, dan kebudayaan di timur Indonesia.
"Makassar ini menjadi gravitasi penting di Indonesia Timur. Ia adalah tempat di mana persemaian dan episentrum pemikiran," ucapnya.
Menurut Sardono kebesaran sosok Syekh Yusuf digambarkan dengan sangat baik dalam buku.
Terutama penggunaan kata Angkasa dalam judul yang ia anggap sangat tepat.
Menurutnya, kata Angkasa menggambarkan luasnya pengembaraan ilmu pengetahuan dan spiritual Syekh Yusuf.
"Orang yang berlayar di angkasa, dalam dunia abstrak, ide-ide, dan berlabuh di mana-mana," ucapnya.
Andi Mahrus Idris, sebagai kritikus, menyebut Prof Halilintar sekarang tidak lagi hanya disebut sebagai antropolog saja, tapi juga seorang sastrawan.
Menurutnya, buku Berlayar di Angkasa telah memenuhi sejumlah indikator untuk disebut karya sastra.
Ia berlandaskan pada indikator yang dibuat oleh sastrawan Mochtar Lubis.
"Prof Halilintar memiliki kemampuan mengolah bahasa. Ia memiliki kewalian dalam menggunakan bahasa," ucapnya.
"Dengan kemampuan berbahasanya ia mampu menciptakan kalimat kalimat yang indah," lanjutnya.
Andi Mahrus juga menilai Prof Halilintar berhasil menggambarkan dengan sangat baik konteks situasi dalam cerita.
Bagaimana saat Syekh Yusuf berada di Istana Kerajaan Gowa, bagaimana saat masih kecil, hingga bagaimana saat melakukan perjalanan ke Gunung Lompo Battang, Latimojong, hingga Bawakaraeng.
Namun Andi Mahrus menyoroti penggunaan kata Angkasa dalam judul. Menurutnya kata tersebut terlalu sempit maknanya untuk menggambarkan perjalanan seorang Syekh Yusuf.
"Itu istilah terlalu profesional," ucapnya.
Ia lebih mengusulkan kata Cakrawala sebagai alternatif. Menurutnya kata tersebut lebih luas menggambarkan.
"Perjalanan Syekh Yusuf itu untuk memenuhi panggilan ilahi," ucapnya.
Namun ia juga tidak sepakat jika Syekh Yusuf berhenti sebagai sosok ilahiah saja.
Menurutnya Syekh Yusuf tak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan politik ia hidup saat itu.
"Yusuf ini berjuang bukan hanya merebut langit, tapi ia juga terkait soal-soal dunia. Kita tahu Syekh Yusuf ikut dalam perjuangan melawan VOC," jelasnya.
Sementara itu, mewakili pembaca millennial, AS Kambie menyebut buku Berlayar di Angkasa memberikan pengalaman membaca sejarah Syekh Yusuf yang seutuhnya.
Menurutnya, buku tersebut, meski sebagai novel, lebih penuh dalam menceritakan sejarah Syekh Yusuf dibanding buku lain yang mengaku sebagai buku sejarah.
"Saya Merasa sedang membaca sejarah seutuhnya dari Syekh Yusuf," ujarnya.
Buku ini, kata AS Kambie, secara tegas menceritakan Syekh Yusuf sebagai manusia.
Sebagai seseorang dalam dinamika sejarah.
Ia mencontohkan, sedikit penulis yang berani menulis secara jelas dan tegas terkait nama orang tua Syekh Yusuf.
Beberapa penulis bahkan bersandar pada cerita bahwa Syekh Yusuf adalah anak Nabi Khidir.
Berbeda, Prof Halilintar jelas menulis nama orang tua Syekh Yusuf.
Penulisan itu berlandaskan riset dan pembacaan referensi sejarah.
"Sedikit dari yang berani yang menulis dengan lengkap orang tuanya Syekh Yusuf," ucap AS Kambie.
Selain itu, kata AS Kambie, dari pembacaan atas buku tersebut, ia banyak mendapatkan fakta menarik dan refleksi sejarah dari sosok Syekh Yusuf.
Di antaranya bahwa sebagian besar hidup Syekh Yusuf dihabiskan dalam pengembaraan. Hanya 18 tahun ia menapak kaki di Sulawesi Selatan.
Sisanya selama 60 tahun ia ada di daerah lain, di Banten, Aceh, Mekah, Damaskus, hingga Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Dari fakta tersebut, menurutnya, Syekh Yusuf bukan saja seorang ulama besar, tetapi juga sebagai pelaut ulung dan panglima perang.
Betapa tidak, Syekh Yusuf adalah pejuang gigih di Banten.
Ia berperang gerilya melawan VOC di sana.
VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah kongsi dagang Belanda yang didirikan pada tahun 1602.
Diberi hak istimewa seperti negara, VOC memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara (Indonesia), mendirikan markas besarnya di Batavia, hingga akhirnya bangkrut dan dibubarkan pada tahun 1799 akibat korupsi.
Ia masuk ke hutan-hutan memimpin pasukan dan mengobarkan perlawanan.
Sikapnya itu yang membuat ia diasingkan ke Srilangka dan Afrika Selatan.
Sementara sebagai pelaut ulung, adalah fakta nyata bahwa Syekh telah mengarungi lautan yang luas dalam pencarian ilmu dan pengalaman spiritualnya.
"Dengan novel ini, kita tahu bahwa Syekh Yusuf adalah panglima perang, ulama, dan pelaut yang sesungguhnya," ujar AS Kambie.
Namun AS Kambie mengkritik beberapa segi pada novel.
Ia menyoroti terkait masih kurangnya eksplorasi romantik dari novel tersebut. Padahal pada bagian tertentu terbuka kesempatan untuk itu.
Selain itu ia juga memberikan saran agar kutipan dalam novel menggunakan bahasa Bugis dan Makassar.
Menurutnya akan sangat lebih baik dan lebih dalam maknanya ketika menggunakan bahasa aslinya.
Namun secara keseluruhan AS Kambie mengapresiasi novel tersebut.
Menurutnya, novel tersebut telah berhasil menampilkan sisi kemanusiaan dari Syekh Yusuf.
Sisi kemanusiaan tersebut tidak membunuh kekuatan sosok Syekh Yusuf.
Tidak menjatuhkannya dari keagungan. Malah justru semakin menguatkannya sebagai pelaku sekaligus pencipta sejarah.
"Menampilkan Syekh Yusuf sebagai manusia," ucap alumnus Sastra Arab Universitas Hasanuddin Makassar ini.(*)