TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Talut di simpang jalan Sriwijaya–Tegalsari Raya, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, mengalami ambrol.
Pantauan Tribun Jateng di lokasi, sebagian tampak retakan-retakan di talut tersebut dan sebagian lagi tampak tanah setelah longsornya talut, Jumat (10/7/2026).
Sementara sebagian lain tampak telah ditutup terpal biru.
Baca juga: Soal Talut Ambles Sungai Cilandak, Pemkot Semarang Sebut Bakal Lakukan Penanangan Darurat
Dani (51), Ketua RT 03 RW 13 Tegalsari Barat Raya mengatakan, kondisi talut ambrol tersebut terjadi sekitar dua bulan lalu setelah terjadi hujan dengan curah tinggi.
"Sudah dua tiga bulanan kurang lebih ya," katanya saat ditemui Tribun Jateng di rumahnya.
Dani mengatakan, talut ambrol tersebut hingga kini belum diperbaiki secara permanen.
Menurutnya, ambrolnya talut tersebut membuat warga sekitar masih dihantui kekhawatiran, terutama saat hujan deras.
Dani juga mengatakan, lokasi tersebut memang kerap mengalami longsor.
Sebelumnya, kerusakan talut juga pernah terjadi di sisi lain sungai.
"Jadi mungkin karena entah tekanan entah apa situ talutnya memang sering ambrol. Kalau dulu kan sebelah sana, sekarang yang sebelah sini," bebernya.
Ia mengatakan, warga telah melaporkan kondisi tersebut kepada ketua RW yang kemudian diteruskan ke pihak kelurahan hingga Pemerintah Kota Semarang.
Hingga kini warga masih menunggu tindak lanjut berupa perbaikan permanen.
"Iya harapan kami mumpung musim kemarau ini kalau bisa ditindaklanjuti gitu loh, karena kan di pinggir sungai itu ngeri banget. Kadang tuh kan airnya naik banget kan Mbak," terangnya.
Dani mengaku keluarganya sendiri pernah merasakan langsung dampak longsornya talut di kawasan tersebut.
Saat itu, tanah di belakang rumahnya ikut tertarik dari ambrolnya talut setelah diguyur hujan deras.
"Kalau dampaknya ke kita karena saya rumahnya di belakang ya. Karena kita pernah, ambrol talutnya 1,5 m ya," sebutnya.
Akibat longsor tersebut, tanah di antara rumah dan sungai ikut tertarik hingga kolam lele miliknya rusak.
"Jadi lelenya lari ke mana-mana," ucapnya.
Meski rumahnya tidak mengalami kerusakan, kondisi itu membuat warga yang tinggal di bantaran sungai kecil itu selalu waswas saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Dani mengatakan, talut di lokasi tersebut sebenarnya pernah diperbaiki. Namun, setelah beberapa waktu kembali mengalami longsor yang diduga akibat gerusan air.
"Terus itu sudah ditalut lagi, ambrol lagi," katanya.
Selain lokasi yang baru ambrol, Dani menyebut kawasan di sepanjang aliran sungai tersebut memang memiliki riwayat longsor.
Bahkan sebelumnya longsor juga pernah terjadi hingga ke sekitar warung makan Padang di kawasan itu.
Ia mengatakan, kejadian tersebut sempat menyeret sebagian bangunan warung.
"Warung Padang itu dulu pernah longsor. Yang parah dulu tuh di bawah warung Padang itu sampai separuh."
"Warung ketarik semua," sebutnya.
Segera Ditangani
Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyebut talut ambrol tersebut akan segera ditangani.
Namun, perbaikannya menunggu perubahan anggaran karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto mengatakan, kebutuhan anggaran untuk penanganan talut tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp700 juta.
"Itu segera kita tangani. Tapi karena anggarannya cukup besar nggih, kami berusaha nanti di perubahan anggaran," ungkapnya.
Menurutnya, berdasarkan hasil perhitungan, talut yang mengalami kerusakan memiliki tinggi sekitar 10 hingga 12 meter dengan panjang lebih dari 20 meter.
Baca juga: Talut Jembatan di Pucakwangi Pati Longsor, Mobilitas Warga Terganggu
"Kalau kita itu taksiran itu sekitar 700-an juta Mbak. Kemarin itu perhitungannya RAB-nya karena di samping panjang juga tingginya itu. Sehingga kita tidak berani kalau hanya pasangan batu, harus ada perkuatan tulangannya juga," tuturnya.
Menurut Suwarto, apabila perubahan anggaran disetujui, pekerjaan ditargetkan dapat dimulai sekitar Oktober 2026.
"Iya. Rencana kita di perubahan anggaran nanti," imbuhnya. (idy)