Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju menghasilkan produk-produk teknologi bernilai tinggi.

Bandung (ANTARA) - PT Len Industri (Persero) secara konkret mulai memanfaatkan hasil hilirisasi mineral kritis dalam negeri, untuk memproduksi dan memasok berbagai komponen alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan teknologi pertahanan strategis bernilai tambah tinggi.

Direktur Utama PT Len Industri Joga Dharma Setiawan dalam keterangan di Bandung, Jawa Barat, Jumat, mengatakan langkah ini dipertegas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kerja Sama Advanced Materials (Critical Minerals Downstreaming) antara Len Industri bersama MIND ID, PT Krakatau Steel, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).

Sinergi empat BUMN tersebut memfokuskan hilirisasi tidak lagi sekadar berhenti pada pengolahan bahan baku komoditas, melainkan langsung ditargetkan pada pengembangan material maju (advanced materials) untuk memasok industri manufaktur taktis.

"Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk teknologi bernilai tinggi," ujar Joga Dharma Setiawan.

Sebagai induk Holding Industri Pertahanan Defend ID, Len Industri memanfaatkan ekosistem material maju ini untuk mendukung lini produksi alutsista mutakhir.

Beberapa produk teknologi strategis nasional yang kini berbasis material maju tersebut, di antaranya Combat Management System (CMS), Radar Multimission, Ground Control Station (GCS) & AUTACS, Night Vision Goggle (NVG), Laser Point, hingga kendaraan taktis listrik SPRINT.

Joga menegaskan, keberhasilan program hilirisasi nasional sudah saatnya diukur dari kemampuan domestik dalam menghasilkan produk teknologi yang berdampak langsung bagi perekonomian dan kedaulatan negara.

Oleh karena itu, penguatan ekosistem ini memerlukan sinergi yang terintegrasi mulai dari hulu pengelolaan mineral, riset inovasi, hingga proses manufaktur hilir. Ke depannya, pengembangan teknologi pertahanan ini juga akan menyasar sektor sipil melalui penerapan teknologi ganda (dual-use technology).

"Di sinilah kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan," kata Joga menambahkan.