SURYA.CO.ID – Lumpur dan pasir sisa banjir bandang di Aceh yang selama ini menjadi beban lingkungan kini diteliti menjadi bahan baku bata ringan dan bata merah untuk mempercepat pemulihan serta menggerakkan kembali perekonomian masyarakat.
Di balik hamparan lumpur yang menutupi permukiman, lahan pertanian, dan fasilitas umum pascabanjir bandang, tersimpan peluang baru bagi proses rekonstruksi.
Melalui kolaborasi lintas sektor, sedimen yang sebelumnya dianggap limbah kini dikembangkan menjadi material bangunan bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya membantu membersihkan wilayah terdampak, tetapi juga membuka jalan bagi pemulihan yang lebih berkelanjutan.
Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi LAZNAS Nurul Hayat, Forum Zakat (FOZ), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Syiah Kuala (USK).
Baca juga: Inovasi Tepung Singkong Gantikan Terigu Impor di Ladang Lima Surabaya Bikin Pejabat LAN RI Takjub
Hasil penelitian dipaparkan dalam Forum Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Provinsi Aceh di Aula Dinas Pertanahan dan Perkebunan Provinsi Aceh pada 9 Juli 2026.
FGD menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus membahas peluang implementasi inovasi tersebut sebagai bagian dari strategi pemulihan pascabencana yang berkelanjutan.
Forum ini dihadiri perwakilan pemerintah daerah, akademisi, peneliti, dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan dampak bencana di Aceh.
Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh beberapa bulan lalu meninggalkan endapan lumpur dan pasir dalam jumlah besar.
Sedimen tersebut menghambat aktivitas masyarakat, menutup lahan pertanian, hingga membuat banyak sawah belum dapat kembali ditanami sehingga berdampak pada produktivitas pertanian dan perekonomian warga.
Baca juga: Mahasiswi ITS Rancang Authea, Inovasi Sepatu Modular untuk Penyandang Disabilitas
Selama ini, sedimen hasil pengerukan umumnya hanya dipindahkan menggunakan alat berat tanpa memiliki pemanfaatan yang jelas. Kondisi tersebut kerap memunculkan persoalan baru karena masyarakat kesulitan menentukan lokasi pembuangan material hasil pengerukan.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pembersihan sedimen, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Berdasarkan hasil pengujian awal, sedimen banjir memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku bata ringan maupun bata merah melalui teknologi yang sesuai.
Prof. Dr. Ir. Abdullah, M.Sc, tim riset sekaligus ahli beton ringan dari Universitas Syiah Kuala (USK), menilai inovasi tersebut dapat mempercepat proses pembangunan kembali wilayah terdampak.
"Ide untuk menjadikan batu bata ringan itu adalah ide yang bagus. Karena batu bata ringan memudahkan pekerja bangunan bisa membangun dengan cepat. Sangat membantu untuk menyegerakan pemulihan," ungkap Prof. Abdullah.
Menurutnya, pemanfaatan sedimen tidak hanya menjadi solusi atas limbah pascabencana, tetapi juga dapat mempercepat pembangunan rumah warga, tempat ibadah, maupun berbagai fasilitas umum yang rusak akibat banjir.
Dalam penelitian tersebut, tim mengambil sampel sedimen dari sejumlah wilayah terdampak banjir, di antaranya Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang. Hasil kajian menunjukkan karakteristik sedimen di setiap daerah berbeda sehingga memerlukan pendekatan pengolahan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Dari hasil analisis awal, Desa Meunasah Mancang dan Desa Dayah Husin di Kabupaten Pidie Jaya ditetapkan sebagai lokasi prioritas penelitian lanjutan. Kedua desa dinilai memiliki karakteristik material yang mendukung serta penerimaan masyarakat yang baik terhadap rencana pemanfaatan sedimen sebagai bahan bangunan.
Meski demikian, implementasi inovasi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi regulasi. Pemanfaatan limbah pascabencana sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi membutuhkan dukungan kebijakan serta kesamaan persepsi antarpemangku kepentingan.
Karena itu, FGD bersama Pemerintah Provinsi Aceh menjadi langkah penting untuk menyelaraskan hasil penelitian dengan kebutuhan di lapangan sekaligus merumuskan dukungan kebijakan agar inovasi tersebut dapat diterapkan secara nyata.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan organisasi kemanusiaan diharapkan mampu menghadirkan solusi yang tidak hanya mengatasi persoalan limbah pascabencana, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Ke depan, hasil riset ini diharapkan menjadi model pengelolaan sedimen pascabencana yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.