Eukaliptus: Pohon Asal Australia yang Memicu Kebakaran Dunia
Tribunnews July 11, 2026 01:33 AM

Setiap tahun, lebih dari 400.000 pendaki meramaikan Galicia untuk melakukan perjalanan ziarah Camino de Santiago, melintasi perbukitan dan hutan hijau yang lebat. Namun, sebagian besar hutan yang mengelilingi rute tersebut bukan lagi hutan asli.

Alih-alih ditanami tanaman lokal seperti ek dan kastanye, sebagian besar wilayah barat laut Spanyol kini didominasi pohon eukaliptus.

Perubahan tersebut tidak hanya tampak di Galicia. Pertumbuhan pohon eukaliptus yang cepat serta bernilai jual tinggi, membuatnya sangat diminati industri pulp dan kayu. Pohon asal Australia ini ditanam monokultur secara luas di berbagai tempat seperti Brasil, Chili, California, Afrika Selatan, India, dan Indonesia.

Secara global, perkebunan eukaliptus mencakup 22 juta hektar di lebih dari 90 negara dan di banyak wilayah, perkebunan tersebut telah menjadi penopang utama perekonomian.

Namun, di balik kanopi yang tampak tenang itu tersembunyi lanskap yang rentan terhadap kebakaran hutan ekstrem. Para ilmuwan menganggap pohon-pohon tersebut sangat mudah terbakar.

Gelombang panas di Eropa memicu kekhawatiran

Setelah Eropa dilanda gelombang panas yang datang lebih awal, kekhawatiran akan meningkatnya risiko kebakaran pun memuncak. Beberapa wilayah Eropa bagian selatan turut terdampak dalam beberapa hari terakhir. Tahun 2025 merupakan tahun terburuk dalam sejarah kebakaran hutan, dengan lebih dari 1 juta hektar hutan terbakar dan sebagian besar terjadi di Semenanjung Iberia.

Para peneliti mengatakan meskipun pohon eukaliptus tidak dapat disalahkan sebagai pemicu kebakaran hebat, pohon-pohon tersebut dapat secara signifikan memperparah kebakaran begitu api mulai berkobar.

"Hutan eukaliptus jelas merupakan salah satu hutan yang paling mudah terbakar di dunia," kata Tim Curran dari Universitas Lincoln di Selandia Baru kepada DW.

"Jika Anda menanam pohon eukaliptus di lingkungan baru, kemungkinan besar Anda akan mengubah apa yang kami sebut sebagai fire regime. Hal-hal seperti intensitas kebakaran, frekuensi kebakaran, seberapa panas api tersebut, dan seberapa sering kebakaran terjadi," jelasnya.

Daun pohon eukaliptus mengandung minyak yang sangat mudah terbakar dan potongan-potongan kulit kayunya dapat menyala menjadi bara api. Dalam kondisi ekstrem, bara api tersebut dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh, hal ini memicu kebakaran sekunder, seperti yang terjadi selama kebakaran Black Saturday atau kebakaran hutan Victoria di tahun 2009 yang menghancurkan Australia.

"Ada bukti bahwa bara api terbawa angin lebih dari 30 kilometer di depan garis api untuk memicu kebakaran baru,” kata Curran, sambil menambahkan bahwa hal ini bukanlah kejadian tunggal.

Di Galicia, perkebunan eukaliptus dapat dengan mudah berkembang melewati batas, hal ini dikarenakan pohon asli setempat seperti ek dan kastanye membutuhkan lebih dari 80 tahun untuk mencapai kematangan, sedangkan eukaliptus hanya membutuhkan 15 tahun.

Akibatnya, pohon-pohon eukaliptus pulih dengan cepat ketika kebakaran menghancurkan lanskap hutan, alhasil mereka pun lebih unggul berkompetisi dengan tanaman asli setempat. Hal ini menciptakan siklus monokultur yang meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Eukaliptus memicu perdebatan

Perkebunan eukaliptus di Galicia sudah ada sejak tahun 1970-an, namun baru benar-benar berkembang pesat dua dekade kemudian.

Pada tahun 1992, pemerintah daerah merilis rencana kehutanan, luas perkebunan eukaliptus diperkirakan akan mencapai 250.000 hektar pada tahun 2030. Butuh waktu 30 tahun bagi mereka untuk memperbarui rencana tersebut, dan selama periode itu, eukaliptus tumbuh di luar terkendali.

"Sekarang luasnya sekitar setengah juta hektar, luas lahan yang sangat besar,” kata pimpinan masyarakat setempat, Joam Evans Pim.

Meskipun pemerintah daerah telah memberlakukan moratorium terhadap penanaman pohon eukaliptus baru, para aktivis mengatakan penegakan hukumnya masih tidak merata, penanaman ilegal terus berlanjut.

Di satu sisi, ada potensi keuntungan dari pohon eukaliptus. Perkebunan eukaliptus di Galicia, yang sebagian besar memasok kebutuhan industri pulp dan kayu dapat menghasilkan €167 juta (Rp3,4 triliun) pada tahun 2024 saja.

Namun, ada pula masalah pengelolaan yang buruk. Seiring dengan generasi muda meninggalkan pedesaan dan bermigrasi ke kota, mereka meninggalkan perkebunan eukaliptus yang tak terkendali.

"[Pertumbuhan pohon eukaliptus] terjadi karena adanya perkebunan ilegal, lahan yang ditinggalkan, kebakaran hutan, hingga sifat invasif spesies tersebut. Jadi, kombinasi dari semua faktor inilah yang menyebabkan hasil seperti ini,” jelas Pim.

Apa yang tengah dilakukan pemerintah Spanyol?

Para kritikus menuduh otoritas daerah telah sejak lama gagal mengendalikan perluasan eukaliptus. Luisa Piñeiro, direktur jenderal pengelolaan hutan Pemerintah Galicia, mengakui kegagalan pernah terjadi di masa lalu. "Dulu [pada tahun 1990-an], mungkin pengelolaan hutan belum memadai. Pengawasan terhadap perkebunan atau spesies yang ditanam belum seketat sekarang,” katanya.

Meskipun demikian, pemerintah tidak mengklasifikasikan pohon eukaliptus sebagai spesies invasif dan Piñeiro menolak seruan untuk memberlakukan larangan menyeluruh. Sebaliknya, ia menganjurkan pengelolaan yang lebih baik dan keanekaragaman spesies yang lebih besar.

"Daripada melarang sesuatu, kita seharusnya terlebih dahulu memiliki rencana pengelolaan hutan,” katanya. "Kami percaya hutan seharusnya memiliki keanekaragaman spesies sebagaimana mestinya.”

Galicia dan 'warisan' pohon eukaliptus

Sambil memandang lahan komunitasnya di Froxán, sekitar 40 kilometer sebelah barat Santiago de Compostela, Evans Pim mengenang kebakaran hutan yang mengubah bentuk perbukitan di sekitarnya.

"Ini adalah kawasan yang terdampak kebakaran besar pada tahun 2006. Semua hutan di sekitar desa terbakar habis, dan setelah itu kawasan ini dipenuhi oleh pohon eukaliptus,” katanya kepada DW.

Baru ketika kebakaran lain melanda sepuluh tahun kemudian, komunitas tersebut memutuskan untuk bertindak. Mereka mendirikan kelompok sukarelawan De-Eucalyptus Brigades, yang berupaya meningkatkan kesadaran tentang spesies seperti eukaliptus dan menyingkirkannya dari lahan milik komunitas. Apa yang awalnya dimulai sebagai tim beranggotakan 50 orang kini telah berkembang menjadi 1.500 orang yang beroperasi di seluruh Galicia.

"Kami telah menebang pohon eukaliptus dan membiarkan pohon-pohon asli mengisi ruang tersebut,” kata Evans Pim. "Kami ingin menciptakan sekat api hijau… dan pada akhirnya, kami bercita-cita memiliki lahan yang dapat mengelola dirinya sendiri. Di mana kami tidak perlu campur tangan dan lahan tersebut tahan terhadap kebakaran, perubahan iklim, serta kekeringan berkepanjangan.”

Kebakaran hutan yang menghancurkan di Portugal pada tahun 2017, di mana orang-orang tewas saat berusaha melarikan diri, menjadi alarm peringatan.

"Portugal mengalami kejadian itu beberapa tahun lalu: orang-orang tewas terbakar di dalam mobil mereka,” kata Pim, "Kami sungguh berharap kami tidak perlu mengalami hal serupa demi perbaikan undang-undang serta penerapan yang lebih serius.”

Pesan tersebut kembali digaungkan oleh para ilmuwan, kelompok kehutanan, dan aktivis yang menyatakan bahwa lahan yang tidak dikelola dengan baik menjadi salah satu ancaman kebakaran terbesar, tidak hanya di Eropa tetapi di seluruh dunia.

Para peneliti mengatakan bahwa manfaat ekonomi dari pohon eukaliptus semakin perlu diimbangi dengan risiko kebakaran hutan yang semakin meningkat.

"Tentu saja ada tempat untuk pohon eukaliptus, ada tempat untuk industri pulp," kata Joaquim Sande Silva dari Universitas Politeknik Coimbra. "Namun, harus ada aturan yang sangat ketat terkait cara melakukan penanaman dan ekosistem apa yang digantikan."

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Muhammad Hanafi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.