TRIBUNNEWSMAKER.COM – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas setelah muncul klaim terbaru dari badan intelijen Israel mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Tuduhan tersebut sontak menyita perhatian dunia karena disebut berkaitan dengan operasi rahasia yang melibatkan aktor militer elite Iran.
Dalam laporan yang diungkap otoritas Israel, dugaan skenario pembunuhan itu disebut dirancang oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Islam, pasukan elite yang memiliki pengaruh besar dalam strategi pertahanan dan operasi luar negeri Iran.
Intelijen Israel mengklaim rencana tersebut bukan sekadar ancaman biasa, melainkan operasi yang telah dipersiapkan secara spesifik dengan target utama Donald Trump.
Klaim itu pun memicu kekhawatiran baru terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti independen yang dipublikasikan untuk memverifikasi tuduhan tersebut.
Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim yang disampaikan pihak Israel.
Isu ini muncul di tengah hubungan yang semakin tegang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat setelah serangkaian insiden militer serta saling ancam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Apabila tuduhan tersebut terbukti, kasus ini berpotensi memperburuk situasi keamanan internasional dan memicu respons diplomatik maupun militer dari berbagai pihak yang berkepentingan.
Baca juga: Diteror Ancaman Iran, Trump Ambil Langkah Mengejutkan: Pulang dari KTT NATO Turki Ganti Pesawat
Seperti diketahui, muncul sebuah laporan terbaru dari intelijen Israel terkait dengan aksi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Pemerintah Israel dilaporkan telah membagikan informasi kepada AS mengenai adanya rencana dari Iran yang menargetkan nyawa Trump.
Laporan tersebut pertama kali dirilis oleh The Wall Street Journal dan langsung memicu alarm bahaya di internal pemerintahan AS.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari sejumlah pejabat keamanan AS, informasi dari intelijen Israel tersebut telah diterima sejak beberapa pekan lalu.
Pihak pejabat keamanan AS langsung merespons dengan peningkatan status keamanan Trump ke tingkat tertinggi selama rangkaian kampanye politiknya baru-baru ini.
Menurut dokumen intelijen yang dibagikan oleh Tel Aviv, rencana pembunuhan ini diduga kuat diotaki oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Poros militer elite Teheran tersebut disinyalir terus memburu figur-figur penting AS sebagai bentuk balas dendam atas kematian Jenderal Qassem Soleimani.
Sebagai catatan historis, Jenderal Soleimani — yang merupakan komandan Pasukan Quds sekaligus arsitek utama strategi militer Iran di Timur Tengah — tewas akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) milik militer AS di Baghdad, Irak, pada Januari 2020.
Operasi eliminasi rahasia tersebut kala itu diperintahkan secara langsung oleh Trump yang tengah menjabat sebagai Presiden ke-45 AS.
Sejak saat itu, Teheran berulang kali bersumpah akan menuntut balas keadilan atas apa yang mereka sebut sebagai tindakan terorisme negara.
Kabar mengenai ancaman ini juga telah sampai ke telinga Trump.
Saat berbicara kepada awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One usai menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, Trump tidak menampik situasi bahaya yang mengintai dirinya.
"Mereka (Iran) ingin menghabisi pemimpin AS—yaitu saya. Saya ada di setiap daftar mereka," ujar Trump, mengutip CNN.
"Dan sejauh ini, tampaknya saya sedikit beruntung, tapi mungkin itu tidak bertahan lama," lanjutnya.
Berdasarkan investigasi CNN, pihak Gedung Putih dan badan intelijen AS sejauh ini menolak memberikan komentar resmi terkait isi dari dokumen rahasia tersebut saat dimintai konfirmasi.
Alih-alih membantah atau membenarkan, juru bicara Gedung Putih justru mengarahkan para jurnalis untuk merujuk pada pernyataan langsung yang disampaikan oleh Trump di KTT NATO.
Sejumlah pejabat AS dilaporkan memandang dokumen intelijen yang dibagikan Israel ini dengan sikap hati-hati.
Muncul analisis bahwa pembagian informasi sensitif ini bisa jadi merupakan langkah strategis dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memengaruhi kebijakan luar negeri Trump.
Dengan menyodorkan bukti ancaman langsung terhadap nyawa Trump, Israel diduga mencoba mendorong sang Presiden agar mengambil tindakan militer yang lebih agresif dan keras terhadap Teheran.
Sebelumnya, Dinas Rahasia AS (Secret Service) dilaporkan memaksa Trump untuk berganti pesawat saat meninggalkan Turki.
Trump yang tiba di Ankara menggunakan jet super mewah teranyar hadiah dari Pemerintah Qatar, terpaksa pulang menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One model lama demi menghindari potensi ancaman militer dari Iran.
Langkah darurat ini diambil di tengah eskalasi konflik yang kembali membara antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan The New York Times, Secret Service mendesak pergantian pesawat ini murni sebagai tindakan preventif.
Muncul kekhawatiran besar bahwa jet baru Boeing 747-8 hadiah Qatar senilai 400 juta dolar AS atau sekitar Rp6,5 triliun itu belum memiliki sistem pertahanan militer secanggih Air Force One yang lama.
"Air Force One yang baru adalah pesawat mutakhir yang telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi," ujar Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung.
Cheung menambahkan bahwa di tengah banyaknya musuh yang mengincar Trump, pemerintah menggunakan segala taktik termasuk pengalihan perhatian untuk mengecoh ancaman.
(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com)