Medan (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mendeteksi dini gangguan kejiwaan yang diderita pasien lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan.

"Tidak hanya mendeteksi penyakit fisik, tetapi juga identifikasi indikasi gangguan jiwa warga sejak dini," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Sumut Hery Valona Bonatua Ambarita dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jumat.

Dari sekitar 2,8 juta masyarakat Sumut yang telah mengikuti skrining kesehatan ditemukan indikasi orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) yang mengalami gejala kecemasan dan stres.

Kondisi itu menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius yang perlu ditangani secara sistematis dan berkelanjutan di tingkat kabupaten/kota se-Sumut.

"Saat skrining kesehatan, kita temukan masyarakat mengalami cemas dan stres, namun masih dalam tahap rentang awal. Semua orang bisa mengalami hal ini, tapi harus dikendalikan agar tidak menjadi gangguan jiwa berat,” ujar dia.

Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sekitar 1,2 persen atau berjumlah 28 juta masyarakat Indonesia mengalami gejala kecemasan dan stres yang berpotensi menjadi masalah kejiwaan jika tidak ditangani dengan baik.

"Artinya, dari 10 orang skrining terdapat satu hingga dua orang ODMK. Kondisi ini masih situasional, makanya harus dikendalikan dengan meningkatkan pertahanan diri juga edukasi dan terapi,” kata Hery.

Ia menjelaskan hasil skrining menunjukkan kelompok remaja menjadi yang paling banyak terindikasi mengalami kecemasan dan stres di Sumatera Utara.

Faktor penyebabnya, seperti beban tugas sekolah yang tinggi. Selain itu, orang dewasa juga banyak mengalami tekanan akibat persoalan ekonomi, seperti kebutuhan biaya pendidikan dan tuntutan hidup.

Untuk menangani persoalan tersebut, pemerintah menjalankan dua pendekatan. Pertama, melakukan deteksi dan penanganan dini terhadap ODMK agar tidak berkembang menjadi gangguan jiwa berat.

Kedua, memberikan pelayanan komprehensif bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang membutuhkan penanganan dokter spesialis jiwa, terapi intensif hingga perawatan di rumah sakit.

"Saat ini kami diberi target melakukan skrining bagi 22 ribu orang terkait kesehatan jiwa. Sekarang sudah mencapai 13 ribu lebih atau 67 persen yang sudah diskrining. Kami yakin pada Desember nanti kita dapat mencapai target," ujarnya.