JANGAN LEWATKAN SEDETIK PUN DARI PIALA DUNIA
Argentina mungkin akan selalu memiliki para pembenci di Piala Dunia, tetapi Lionel Messi dan rekan-rekannya tak melakukan apa pun selain menunjukkan keteguhan dan determinasi sejati seorang juara.
Timnas Argentina kembali menjadi pusat perhatian setelah kemenangan dramatis mereka atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia pada hari Selasa, kemenangan yang disertai dengan tuduhan sensasional mengenai korupsi dan keberpihakan. Namun kali ini, kritik terhadap La Albiceleste terasa tidak beralasan. Tertinggal dua gol di babak kedua melawan tim nonunggulan, sang juara bertahan berhasil membalikkan keadaan secara ajaib dalam waktu 14 menit di penghujung laga. Namun, sejak peluit akhir dibunyikan di Atlanta, pencapaian luar biasa itu justru tertutupi oleh kontroversi.
Dampak setelah pertandingan terasa beracun. Dipicu oleh rasa ketidakadilan mendalam, kubu Mesir menuduh adanya pengaturan pertandingan dan keberpihakan terhadap Lionel Messi, meyakini bahwa beberapa keputusan wasit kunci merugikan mereka di menit-menit akhir kekalahan pahit tersebut.
Meskipun kekecewaan mereka dapat dimengerti setelah gagal mempertahankan kemenangan yang sudah di depan mata, sulit untuk tidak mengakui bahwa Argentina pantas atas kemenangan dramatis itu. Ini adalah ciri khas tim juara – tidak lebih, tidak kurang.
Drama di Atlanta
Argentina melangkah ke perempat final dengan cara yang hampir tak dapat dipercaya. Juara bertahan yang sempat tampil lesu tampak tersingkir ketika Mustafa Zico menggandakan keunggulan Mesir di menit ke-67, setelah gol pembuka Yasser Ibrahim dan kegagalan penalti Messi di panggung Piala Dunia.
Namun dengan 11 menit tersisa, sang juara bangkit. Cristian Romero, pahlawan kemenangan menegangkan atas Tanjung Verde di babak 32 besar, menanduk bola hasil umpan Messi untuk memperkecil ketertinggalan. Tak lama kemudian, Messi sendiri mencetak gol penyama kedudukan dengan tendangan keras yang mengenai mistar sebelum masuk ke gawang.
Dan ketika pertandingan tampak akan berlanjut ke perpanjangan waktu, Enzo Fernandez dari Chelsea muncul di tiang jauh dan menanduk bola hasil umpan Lautaro Martinez pada menit ketiga tambahan waktu, membawa Argentina unggul dan memicu perayaan liar di satu sisi serta kemarahan di sisi lain. Kemenangan luar biasa ini membuat Lionel Messi dan pelatih Lionel Scaloni meneteskan air mata.
‘Turnamen ini sudah diatur’
Bagi pihak Mesir yang kalah, kekalahan tersebut memicu luapan emosi yang sangat berbeda. Para pemain dan staf pelatih melancarkan tuduhan keberpihakan dan pengaturan pertandingan. Federasi Sepak Bola Mesir bahkan melayangkan protes resmi kepada FIFA, meminta agar wasit asal Prancis yang memimpin laga tersebut dikeluarkan dari turnamen.
Mesir meyakini bahwa gol Zico yang seharusnya membawa mereka unggul 2-0 secara keliru dianulir karena dugaan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez, serta mereka merasa dirugikan karena tidak diberikan penalti ketika Mohamed Salah dijatuhkan di kotak penalti sesaat sebelum gol penentu kemenangan Fernandez.
“Wasit benar-benar tidak adil,” ujar Zico dengan marah setelah pertandingan. “Ketidakadilan sangat jelas. Dari awal sudah terasa tidak adil. Jelas turnamen ini sudah diatur.”
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, memperkuat pernyataan tersebut. “Semua karena uang. Mereka ingin Messi tetap bermain di turnamen ini,” katanya. “Di sepak bola, banyak hal terjadi di luar lapangan karena kepentingan tertentu. Apa yang terjadi hari ini tidak adil. Mesir seharusnya lolos. Kami tim yang lebih baik.
“Mengapa tidak ada keadilan dalam olahraga? Saya tidak ingin berbicara dengan kata-kata indah. Kami telah diperlakukan tidak adil hari ini. Kami telah mengalami ketidakadilan. Ini cara saya untuk bersuara. Saya tidak akan menonton pertandingan lain di turnamen ini.”
Tuduhan Tanpa Dasar
Meski sulit diterima, kenyataannya Mesir hanya punya diri sendiri untuk disalahkan. Mereka membuang keunggulan dua gol dengan sisa waktu 11 menit, gagal mempertahankan ritme permainan bahkan untuk mencapai perpanjangan waktu.
Pertahanan mereka kacau pada tiga gol terakhir Argentina. Romero dibiarkan tanpa kawalan, lini belakang kembali berantakan saat Messi mencetak gol penyama, dan Fernandez nyaris tidak mendapat perlawanan saat menyundul bola kemenangan setelah Mesir terlalu agresif menyerang di menit akhir.
Terkait keputusan wasit, faktanya memang terjadi pelanggaran terhadap Martinez sebelum Mesir mencetak gol yang dianulir. Pemain Manchester United itu ditarik dan diinjak oleh Marwan Attia. Sementara klaim penalti Salah juga sangat lemah. Bahkan sang penyerang tidak melakukan protes setelah jatuh karena kontak minimal dengan Julian Alvarez, yang sebenarnya sudah lebih dulu menyentuh bola.
Mudah Dibenci
Mudah sekali menempatkan Argentina sebagai ‘penjahat’. Dalam sejarahnya, mereka memang memiliki banyak pemain dengan reputasi keras seperti Diego Maradona, Diego Simeone, dan Antonio Rattin.
Skuad saat ini pun tidak terlalu populer, terutama setelah sebagian pemain terlibat dalam nyanyian bernada rasis terhadap pemain kulit hitam Prancis usai menjuarai Copa America 2024. Pemain seperti Rodrigo De Paul dan Romero dikenal memiliki gaya bermain keras yang membuat banyak lawan tidak menyukai mereka. Bagi banyak orang, satu-satunya sosok yang menebus semua itu adalah Messi – dan di Atlanta, ia kembali menunjukkan kelasnya.
Klaim Mesir bahwa La Pulga mendapat perlakuan istimewa memang dapat dimengerti. Messi seharusnya mendapat kartu merah di fase grup atas tekel keras terhadap pemain Aljazair, namun FIFA tampak mengabaikan preseden tersebut ketika larangan satu pertandingan bagi Folarin Balogun dari tim AS dibatalkan setelah intervensi luar biasa dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga pernah memberikan perlakuan khusus kepada Messi, memastikan keikutsertaannya di Piala Dunia Antarklub tahun lalu dengan cara memasukkan Inter Miami meski bukan juara MLS. Selain itu, menurut BBC, Argentina hanya mengoleksi tiga kartu kuning sepanjang turnamen meski melakukan hampir 60 pelanggaran – setengah dari jumlah kartu yang diterima Inggris dengan pelanggaran lebih sedikit.
Namun, dalam laga melawan Mesir kali ini, tidak ada bukti adanya permainan kotor atau keberpihakan wasit terhadap Messi. Argentina benar-benar memperjuangkan kemenangan mereka hingga akhir.
‘Kami Membuat Pendukung Kami Menderita’
Usai laga penuh emosi itu, Scaloni menegaskan kemenangan timnya adalah buah dari perjuangan. “Kami membuat para pendukung menderita meski sebenarnya kami tidak bermain buruk,” ujarnya. “Saya adalah pelatih untuk momen seperti ini. Apa yang kami tunjukkan hari ini melampaui sekadar lolos ke babak berikutnya. Kami akan tersingkir jika tidak berjuang.”
Ia melanjutkan, “Apa yang terjadi hari ini, meskipun kami belum di final, memiliki arti besar karena tim ini tidak pernah menyerah dan selalu bermain dengan caranya sendiri apa pun kondisinya.
“Melawan Tanjung Verde, situasinya bahkan lebih buruk; kami benar-benar kesulitan. Hari ini, meski tertinggal 0-2, kami tahu akan ada kesempatan. Kami percaya bisa membalikkan keadaan. Hari ini kami bermain dengan sepak bola yang benar-benar berbeda.”
Ciri Sejati Seorang Juara
Penilaian Scaloni sulit untuk dibantah. Hingga tahap ini, Argentina menampilkan performa khas tim juara – dua kemenangan dramatis di babak gugur meski belum tampil dalam performa terbaik mereka sepanjang pertandingan.
Memang, secara kualitas, Argentina seharusnya bisa mengalahkan Tanjung Verde dan Mesir dengan mudah. Namun di turnamen sebesar ini, hasil akhir adalah segalanya. Ketika permainan tidak berjalan sempurna, semangat juang dan kebersamaan menjadi faktor penentu.
Pada akhirnya, semangat dan solidaritas timlah yang membuat mereka tetap bertahan. Meski para pembenci akan selalu ada, kemenangan luar biasa ini memperlihatkan semua ciri khas sejati seorang juara dunia.