Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami serangkaian erupsi pada Jumat (10/7/2026).
Baca Juga: Arus Penyeberangan Bakauheni - Merak Dipastikan Aman, meski Status GAK Siaga
Berdasarkan laporan Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, gunung api yang berada di Perairan Selat Sunda itu tercatat meletus sebanyak lima kali dalam rentang sore hingga malam hari.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno mengatakan erupsi pertama terjadi pada pukul 16.42 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara, timur laut, dan barat laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 55,2 milimeter dan durasi 33 detik," kata Suwarno menjelaskan laporan yang disusun petugas Pos Pantau, Rioboniek Situmorang, Sabtu (11/7/2026).
Selang 15 menit kemudian, tepatnya pukul 16.57 WIB, GAK kembali mengalami erupsi.
Kali ini tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 mdpl.
Kolom abu masih berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara, timur laut, dan barat laut.
Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 44,3 milimeter dengan durasi 40 detik.
Aktivitas vulkanik kembali berlanjut pada pukul 17.49 WIB.
Tinggi kolom abu saat itu mencapai sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 mdpl.
Abu berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara, timur laut, dan barat laut.
Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan berlangsung selama 41 detik.
Hanya berselang dua menit, tepatnya pukul 17.51 WIB, Anak Krakatau kembali meletus.
Tinggi kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 mdpl.
Arah sebaran abu masih menuju utara, timur laut, dan barat laut.
Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 49 detik.
Erupsi terakhir pada hari itu terjadi pukul 21.40 WIB.
Kolom abu teramati setinggi sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 mdpl dengan warna kelabu hingga hitam dan intensitas sedang hingga tebal.
Sebaran abu mengarah ke utara dan barat laut.
Aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 49 milimeter dan durasi 27 detik.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, aktivitas GAK masih terus dipantau secara intensif oleh petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait dan tidak mendekati kawasan gunung sesuai rekomendasi yang berlaku.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )