Kisah Inspiratif Rasha, Belajar Mandiri hingga Dini Hari Demi Kuliah di UGM
Hari Susmayanti July 11, 2026 12:03 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keterbatasan fisik tak pernah menyurutkan nyala semangat di dada Rasha Putra Permata (18).

Duduk di atas kursi roda karena kondisi spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2, Rasha baru saja membuktikan bahwa tekad jauh lebih kuat daripada rintangan apa pun.

Remaja ini sukses mengamankan satu kursi di Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah ketekunannya belajar. Ketika teman-teman sebayanya bisa dengan leluasa mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah, Rasha harus menelan pil pahit.

Sebagian besar fasilitas bimbel di sekitarnya belum ramah bagi pengguna kursi roda.

Sang ibu, Triani Priliastuti (48), menuturkan bahwa keterbatasan infrastruktur itu tak lantas membuat putranya patah arang.

"Karena tempat les belum ramah kursi roda, Rasha meminjam soal dari teman dan belajar mandiri di rumah hingga dini hari," ungkap Triani.

Setiap malam, Rasha berkutat dengan ribuan soal. Baginya, penaklukan terbesar ada pada logika angka.

"Saya paling kesulitan di bagian materi Matematika, makanya saya perbanyak latihan sendiri agar paham polanya," ujar Rasha.

Kecintaan Rasha pada kampus biru, sebutan untuk UGM, tak lahir dalam semalam.

Lingkungan akademik Bulaksumur telah lama memikat hatinya.

"Sejak dulu saya memang mengidamkan kuliah di UGM karena suasana kampusnya sangat nyaman," katanya.

Di balik sosoknya yang pendiam, alumnus SMA Negeri 3 Yogyakarta ini menyimpan ketertarikan besar pada dunia teknologi.

Saat masih berseragam abu-abu, Rasha tak sekadar belajar di balik meja.

Ia gemar merancang komik digital di platform Webtoon, mengikuti kompetisi pengembangan gim, hingga aktif di divisi multimedia Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

"Di SMA, saya mengurus multimedia OSIS dan sering menjadi panitia untuk acara sosial maupun pentas seni sekolah," tuturnya.

Baca juga: Asal-usul Tercetusnya Weekend Sabtu dan Minggu, Dua Hari Paling Ditunggu

Minat yang mendalam pada robotika dan pemrograman itulah yang menuntunnya memilih Teknik Fisika UGM.

Setelah sempat menimbang beberapa jurusan lain di Fakultas Teknik seperti Teknik Elektro dan Teknik Industri, ia mantap menjadikan Teknik Fisika sebagai pelabuhan pendidikannya.

"Saya ingin memperdalam ilmu robotika dan pemrograman secara lebih utuh di Teknik Fisika," tegasnya.

Tentu, perjalanan Rasha menuju gerbang universitas tak lepas dari doa dan dukungan tanpa henti keluarganya.

Sang ayah, Harsa Permata (47), yang juga seorang dosen honorer, bersama Triani tak pernah memandang kondisi putra mereka sebagai sebuah kelemahan. Mereka memilih merawat Rasha dengan keyakinan penuh.

Triani memiliki filosofi tersendiri dalam mendidik putranya. Ia tak pernah menuntut, melainkan hanya percaya.

"Kami mengibaratkan Rasha seperti emas yang akan selalu bersinar di mana pun ia berada," ucap Triani dengan bangga.

Kini, tugas Rasha di bangku kuliah baru saja dimulai. Diiringi rasa syukur, keluarga ini juga menitipkan satu harapan besar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya UGM.

"Semoga ke depan akses untuk mahasiswa disabilitas di UGM semakin baik, sehingga mereka bisa belajar nyaman dan berprestasi maksimal layaknya mahasiswa lain," pungkas Harsa.

Keberhasilan Rasha menjadi pengingat; bahwa di tengah berbagai keterbatasan aksesibilitas yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama, ruang untuk bermimpi dan berprestasi harus selalu terbuka lebar bagi siapa saja.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.